HYPNO NEWS

Monday, October 12, 2015

Anak dan Perhiasan

Seorang wanita karir bersiap berangkat ke tempat kerja, ketika tiba-tiba putrinya yang baru berusia 5 tahun, berlari dari kamar menghampirinya di ruang tamu. “Ma, boleh aku tanya sesuatu?”

“Ada apa sayang? Buruan tanya, nanti mama terlambat.”

“Ma, kalau mama punya perhiasan, mau ngga dititipkan ke mbak Siti,” ucap bocah lugu ini menyebut nama pengasuhnya.

“Ya ngga dong sayang, itu kan barang berharga. Kalau tidak disimpan baik-baik nanti bisa hilang,” ucap si Mama sembari bersiap beranjak menuju mobilnya.

“Berarti, lebih berharga perhiasan dari pada aku? Buktinya setiap hari aku dititip sama mbak Siti…”

Sang mama tercekat, langsung bersimpuh dan memeluk tubuh bocah mungil di hadapannya.


***

Sahabat mungkin pernah membaca kisah di atas. Cuplikan kisah itu sengaja saya ambil sebagai bahan perenungan dan pembelajaran sebagai orang tua. Memang, tak mudah menjadi orang tua yang ideal. Namun, demi kemajuan dan kebaikan bersama, setiap orang tua tentu berharap bisa menjadi orang tua ideal bagi anak-anaknya.

Sebagai licensed trainer Hypnotherapy for Children, saya telah belajar tentang tipe orang tua dalam mendidik buah hatinya. Masing-masing tipe orang tua ini, tentu akan mempengaruhi perkembangan anak. Bukankah dikatakan, anak ibarat kaset kosong. Hendak diisi program apa saja, terserah kedua orang tuanya.

Pertama adalah tipe orang tua over protective. Ini adalah tipe orang tua yang bertindak tak ubahnya seperti penegak hukum. Setiap kegiatan anak, ada aturan ketat yang harus diikuti. Sepintas, tipe orang tua seperti ini begitu menyayangi anaknya. Sehingga anaknya dijaga semaksimal mungkin, sehingga anak pun dilarang melakukan sesuatu yang dianggap membahayakan bagi orang tua. Akibatnya, orang tua yang seperti ini akan membuat anak kurang berkembang, karena anak menjadi takut dan tidak berani melakukan sesuatu. 

Umumnya ketika dewasa, anak yang tumbuh dari didikan orang tua banyak aturan, cenderung cemas dan tidak berani berinisiatif melakukan sesuatu terlebih dahulu. Anak dari didikan orang tua seperti ini, akan cenderung main aman, melakukan sesuatu ketika memang diminta atau disuruh.

Kedua, tipe orang tua over permissive. Tipe ini bertolak-belakang dengan over protective. Orang tua yang over permissive, membiarkan anaknya melakukan apa saja, tanpa ada larangan sama sekali. Kalau pun ada larangan, biasanya tekanannya lemah dan cenderung membiarkan anak melakukan kesalahan berulang-ulang. Apa pun keinginan sang buah hati, orang tua tipe ini cenderung akan memenuhi permintaan tersebut. Kondisi ini tentu akan membuat buah hati tidak belajar dari kehidupan nyata yang sebenarnya. Bukankah kelak ketika dewasa, tak semua keinginannya bisa dipenuhi dengan mudah. Selain itu, anak yang dibesarkan dengan tipe didikan over permissive ini, cenderung tidak menghargai apa saja yang sudah dia peroleh. Sebab, apa pun yang dia inginkan, sudah berhasil didapatkannya dengan mudah, tanpa jerih payah sama sekali.

Dalam sebuah kesempatan, anak saya pernah menceritakan soal temannya yang selalu membawa barang mahal ke sekolah. Dari mulai gadget hingga perangkat lain yang semestinya tidak boleh dibawa saat belajar.

“Enak ya pak temanku itu. Dia selalu dibelikan barang mahal sama papa dan mamanya. Papa dan mamanya sering berangkat ke luar kota, jadi dia selalu dapat oleh-oleh,” ujar anak saya bersemangat. Saya kemudian memberikan pemahaman kepada buah hati saya, bahwa apa yang dilakukan orang tua temannya itu, tentu ada alasannya. Menurut saya, si orang tua ini ‘menebus’ kesalahan dengan membelikan berbagai barang mahal, karena waktu dan perhatian untuk anaknya, sangat kurang. “Kamu mau juga seperti itu?” tanya saya kemudian. “Ya ngga, lah. Aku lebih suka bapak sama mama ada di rumah,” katanya.

Ketiga, tipe over demanding. Orang tua dengan tipe ini, menuntut anaknya bisa menjalani hidup dengan standar maksimal. Misalnya, nilai ulangan harus sempurna, kalau bisa selalu mendapat nilai 100. Saat melakukan apa pun, anak dituntut tidak melakukan kesalahan sama sekali, harus sempurna. Orang tua menetapkan standar yang tinggi dengan alasan, agar anaknya kelak bisa hidup sesuai dengan standar yang ditetapkan. Orang tua tipe ini, cenderung menganggap anak adalah seorang dewasa yang bertubuh mungil. Sehingga dia meyakini, apa pun yang sudah diprogram pada anak, harus diikuti. Hal ini jelas akan membuat kondisi anak sangat cemas dan tertekan. Jangan heran jika anak kemudian menemui banyak masalah ketika beranjak dewasa kelak. Ini akibat terlalu tingginya tuntutan yang ditetapkan kedua orang tuanya.

Keempat adalah orang tua tipe rejection. Orang tua dengan tipe ini cenderung ‘menolak’ keberadaan anaknya. Cerita yang saya kutip di bagian atas tulisan ini, masuk dalam kategori orang tua yang rejection. Kenapa? Karena anak lebih banyak diasuh oleh pembantu atau baby sitter. Beberapa waktu lalu, saya pernah mendapati orang tua yang gelisah karena anaknya tidak mau sekolah. Padahal usianya sudah 7 tahun, sudah waktunya masuk sekolah dasar. Di sesi konsultasi, akhirnya terungkap bahwa selama ini si anak memang lebih banyak ditangani pengasuhnya. Sebab kedua orang tuanya sama-sama pekerja, sehingga sangat sibuk. Suatu saat, sang pengasuh berhenti bekerja karena harus menikah. Di sinilah akar masalah timbul. Anak kehilangan sosok yang selama ini sudah memberinya kasih sayang. Sehingga dia sengaja bertingkah apa saja, agar semua keinginannya bisa dipenuhi.

Kelima adalah tipe orang tua dry cleaning alias terima bersih. Orang tua tipe ini sama sekali tidak mau terlibat pada tumbuh kembang anaknya. Biasanya orang tua akan menyekolahkan anaknya di sekolah paling top dan mahal, dengan tujuan bisa lepas tanggung jawab. Di rumah, disiapkan baby sitter terbaik, untuk bisa mengurusi buah hatinya. Orang tua baru mau menggendong atau bermain dengan anak, jika buah hati sudah dalam kondisi wangi dan bersih, atau ‘siap pakai’. Jika kemudian anak bermasalah, orang tua akan mencari dokter termahal, psikolog, psikiater, hingga terapis, agar persoalan anaknya bisa dibereskan dengan cepat. Orang tua tipe ini akan tidak terima jika masalah yang terjadi pada anak, dikarenakan pola asuh kedua orang tuanya. Menurut pandangan orang tua tipe ini, ketika anak bermasalah, ya hanya anaknya saja yang ‘dibereskan’. Sementara orang tuanya hanya terima bersih setelah masalah sanggup diatasi dengan mudah.

Keenam sekaligus terakhir adalah tipe orang tua ideal. Tentu tipe ini adalah dambaan semua orang tua. Tipe ini menyadari betul bahwa untuk mendidik anak, harus disesuaikan dengan porsi dan kebutuhannya. Segala perhatian yang diberikan pada anak, tidak dilakukan secara berlebihan. Orang tua tipe ini bertanggung jawab penuh pada keberadaan dan tumbuh kembang buah hatinya. Sehingga, anak pun merasakan bahwa hidup juga ada aturan yang harus dijalani dan diikuti. Anda masuk tipe yang mana?

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes