HYPNO NEWS

Friday, October 23, 2015

Luka Batin Si Kecil

Saya yakin, sahabat semua pasti setuju bahwa menjadi orang tua boleh dikatakan susah-susah gampang, atau gampang-gampang susah. Begitu banyak teori dan buku yang menuliskan bagaimana menjadi orang tua yang baik, tapi nyatanya mendidik anak memang tak semudah membalik telapak tangan.

Saya sendiri pernah berkata dalam hati, andai saja hidup bisa diulang, maka ingin rasanya anak saya terlahir kembali, kemudian mendidiknya dengan pemahaman yang sekarang. Sekaligus ingin memperbaiki semua kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Namun sang bijak mengatakan, tak ada kata terlambat. Perbaikan ke arah yang lebih baik, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.



Sebagai orang tua, sahabat tentu lebih dahulu merasakan posisi kala menjadi anak. Pernahkah sahabat merasakan marah, jengkel, sakit hati dengan orang tua sendiri, baik ayah maupun ibu? Bahkan yang lebih parah, pernahkah memiliki luka batin atau trauma yang mendalam?

Lantas, sudahkah persoalan itu diproses tuntas sehingga tidak mengganggu kehidupan yang saat ini dijalani? Umumnya sebagian besar sahabat akan mengatakan, “sudah. Semua sudah saya lupakan dan saya ikhlaskan.”

Berdasarkan pemahaman saya yang sekarang, kalimat itu umumnya berasal dari bagian diri Anda yang bijaksana. Coba dicek ulang, biasanya masih ada bagian diri lainnya, terutama yang merasa terluka, dendam atau sakit hati, hingga saat ini.

Ya itulah kenyataannya. Di bagian diri kita, ada bagian-bagian diri lainnya yang memberi makna tersendiri atas setiap kejadian. Bagian diri ini dalam teknologi pikiran yang saya pelajari, disebut dengan ego personality (EP). EP yang bijaksana, akan selalu mengatakan kejadian itu dianggap lumrah dan memaafkan. Tapi EP yang terluka atau sakit hati, belum tentu. Nah, EP yang terluka inilah yang terkadang membuat ulah sehingga membuat hidup yang dijalani menjadi kurang nyaman atau bermasalah.

Karena itu, bereskan dulu persoalan dengan orang tua baik ayah dan ibu, dengan benar-benar memaafkan dan mengikhlaskan. Niatkan dan izinkan diri menerima semua kekurangan dan kelebihan yang ada pada orang tua. Termasuk walaupun ayah atau ibu sudah tidak ada lagi, tetap lakukan hal yang sama.

Setelah persoalan dengan orang tua tuntas, saatnya beralih ke anak Anda. Apakah sahabat yakin, sebagai orang tua, tidak pernah membuat anak merasakan sakit hati, marah, dendam, atau kecewa? Sebab pada kenyataannya, hal yang mungkin Anda anggap sepele, boleh jadi menjadi masalah besar bagi anak-anak.

Itu pula yang pernah saya alami sebagai orang tua. Saya pernah melarang anak bermain roller skate di dalam rumah. Padahal ketika itu, larangan saya sampaikan dengan nada biasa bahkan sangat datar, tidak ada nada marah sama sekali. Siapa sangka, saat saya cek pikiran bawah sadar anak dengan teknik tertentu, hal itu menjadi luka batin yang mendalam.

Kenapa menjadi begitu mendalam? Karena ketika itu anak saya sedang sangat senang bermain sepatu roda. Senang itu berhubungan dengan emosi yang intens. Saat emosi sangat tinggi, baik itu gembira maupun sedih, maka pikiran bawah sadar anak akan sangat terbuka lebar. Pada posisi ini, apa pun yang masuk ke pikiran bawah sadar, akan diterima utuh tanpa ada filter. Itu sebabnya, kenapa kejadian itu sangat membekas di pikiran bawah sadarnya. Setelah saya meminta maaf, hubungan dengan anak pun menjadi jauh lebih baik.

Karena itu, ada baiknya memastikan apakah persoalan luka batin atau sakit hati anak dengan orang tua sudah diatasi? Sesekali, ajak anak jalan-jalan ke taman atau makan, hanya berdua saja, dan jangan lupa matikan handphone sejenak. Kalau pun anak Anda lebih dari satu, lakukan secara bergantian.

Setelah obrolan berlangsung dengan nyaman, tanyakan, adakah kejadian di masa lalu yang sudah membuat dia marah, kecewa, sedih atau sakit hati? Biasanya, anak enggan menjawab karena takut. “Mama/Papa tidak akan marah. Bilang aja semuanya. Ini demi kebaikan kita berdua. Karena Mama/Papa sayang sama kamu.” Lakukan ini dengan pandangan mata sejajar. Jangan sampai posisi mata Anda lebih tinggi dari posisi Anak. Kalau perlu, biarlah posisi dia lebih tinggi.

Umumnya, anak kemudian akan berkata terus terang. Kalau pun tidak juga mau menyampaikan, Anda bisa berkata, “ya sudah. Kalau kamu ngga mau ngomong ngga apa-apa. Mama/Papa yakin kamu pernah merasakan itu. Sekarang, Mama/Papa benar-benar minta maaf. Mama/Papa tidak ada niat untuk membuat kamu merasakan seperti itu. Mama/Papa melakukan semata-mata karena sayang sama kamu. Mau kan memaafkan?”

Biasanya, jika hal ini dilakukan dengan tulus, ditambah dengan tatapan mata penuh kasih, anak akan melepas semua emosinya. Kalau sudah terjadi, rasakan perubahan besar yang terjadi pada anak. Setelah perubahan terjadi, maka sebaiknya jaga kondisi anak agar tidak mengalami kembali apa yang sudah dia rasakan. Caranya? Ya kontrol semua amarah dan emosi, gantikan dengan sering-sering mengisi baterai kasih melalui lima bahasa cinta yang sudah saya bahas di status sebelumnya. Bagaimana menurut Anda?

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes