HYPNO NEWS

Friday, October 23, 2015

Merasa Miskin itu “Dosa”

Cukup lama saya memikirkan dan menimbang-nimbang, pas atau tidak judul yang saya gunakan untuk tulisan ini. Karena itu, izinkan saya dengan kerendahan hati, memohon maaf jika dianggap kurang tepat dalam menuliskan judul ini.
Jujur, kekhawatiran utama adalah, memantik reaksi dari sahabat yang tidak terima dengan judul ini. Pasti ada pertanyaan utama, “masa iya sih miskin itu dosa? Kalau begitu kasihan dong mereka yang miskin. Sudah miskin saat hidup, berdosa pula.” Sahabat semua, tentu judul dalam materi ini dimaksudkan sebagai pelecut atau penyemangat. Bukan sebaliknya untuk memantik keluarnya emosi atau energi negatif.

Saya dan sahabat semua yang terlahir di dunia ini, sudah ditakdirkan untuk sukses. Kenapa? Bukankah saya dan sahabat semua terlahir dari sel sperma dan sel telur pilihan. Dua pasang sel terbaik inilah yang terpilih hingga menjadi benih, janin, dan kemudian mampu mengirup udara bebas di alam nyata. Bukankah sahabat tahu, saat proses pembuahan, begitu banyak sel sperma yang ‘tewas’ di tengah jalan, hingga akhirnya mengibarkan bendera putih. Karena itu, sahabat semua adalah orang-orang pilihan dan berhak untuk sukses.
Suatu ketika, sahabat sesama terapis memberikan pertanyaan sebagai berikut:
Isi titik-titik di bawah ini (mohon dijawab dengan jujur di dalam hati masing-masing)
1. Allah menciptakan TERTAWA dan ...
2. Allah itu MEMATIKAN dan ...
3. Allah menciptakan LAKI-LAKI dan ...
4. Allah memberikan KEKAYAAN dan ......
Mayoritas jawaban yang muncul adalah:
1. MENANGIS
2. MENGHIDUPKAN
3. PEREMPUAN
4. KEMISKINAN
Benar tidak?
Untuk mengetahui apakah jawaban di atas itu benar atau tidak, mari cocokkan jawaban tersebut dengan rangkaian firman Allah SWT dalam surat An-Najm (53), ayat: 43-45, dan 48, sebagai berikut:
“dan Dia-lah yang menjadikan orang TERTAWA dan MENANGIS.” (QS. 53:43)
“dan Dia-lah yang MEMATIKAN dan MENGHIDUPKAN.” (QS. 53:44)
“dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan LAKI-LAKI dan PEREMPUAN.” (QS. 53:45)
“dan Dia-lah yang memberi KEKAYAAN dan KECUKUPAN.” (QS. 53:48)
Jawaban BENAR hanya pada no 1 sampai 3.
Tapi, jawaban untuk no. 4 umumnya KELIRU. Jawaban Allah dalam Alquran bukan KEMISKINAN, tapi KECUKUPAN. Ini sekaligus menjadi penegasan bahwa sesungguhnya Allah memberi KEKAYAAN dan KECUKUPAN kepada hamba-Nya.
Umumnya yang menciptakan ‘Kemiskinan” adalah diri sendiri. Hal ini bisa disebabkan ketidakadilan ekonomi, kemalasan, bisa juga karena pola kemiskinan itu sudah dibentuk di dalam pikiran bawah sadar. Jika di masa lalu ada yang menanamkan kepercayaan dan keyakinan bahwa seseorang akan miskin tujuh turunan, bisa jadi hal itu yang kemudian tertanam di pikiran bawah sadar. Ada pula yang beranggapan bahwa kekayaan itu adalah sumber bencana dan malapetaka, sehingga akhirnya pikiran bawah sadar melakukan sabotase, jangan sampai kekayaan menghampiri individu ini.
Sahabat, tidak ada ayat yang memerintahkan umatnya untuk hidup miskin. Yang ada adalah hidup sederhana atau merasa cukup. Tengok saja panggilan azan untuk umat muslim. Setelah berisi ajakan untuk melakukan salat, selalu diikuti dengan ajakan meraih kemenangan, kebahagiaan, atau kesuksesan.
Begitu pula ayat-ayat di dalam Alquran, setiap kali ada kalimat yang berbunyi ajakan “dirikanlah salat” diikuti dengan ajakan “tunaikan zakat”. Artinya apa? Menunaikan zakat adalah mereka yang mampu atau berkecukupan.
Apa yang saya tuliskan ini, boleh jadi menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi sebagian pembaca. Namun yakinlah, mereka yang merasa miskin, sejatinya memang tidak bersyukur dengan apa yang sudah diberikan Sang Maha Pencipta. Bukankah Allah hanya menambah rezeki bagi mereka yang bersyukur? Lantas kenapa tidak mau bersyukur? Karena tidak mau bersyukur, wajar dong kalau yang diberikan ya sebesar itu saja nilainya?
Mari sama-sama melihat fakta, bahwa merasa miskin itu memang dosa.
Bersediakah sebagian tangan Anda dipotong kemudian dihargai Rp 5 juta?
Maukah telinga Anda dipotong kemudian dibeli seharga Rp 100 juta?
Relakah kepala Anda dipotong kemudian dibeli seharga Rp 1 miliar?
Sekarang, sudah terbukti bahwa sahabat semua tidak patut merasa miskin, karena sudah terlahir dalam kondisi kaya. Tak terhitung, betapa besar investasi yang Tuhan berikan kepada umatnya.
Seandainya Anda seorang pengusaha yang kemudian memberikan modal kepada mitra bisnis sebesar Rp 1 miliar, namun tidak mendapatkan hasil apa-apa, bagaimana rasanya? Jelas saja Anda akan kecewa.
Tuhan pun seolah-olah sudah memberikan modal yang sangat besar. Karena itu, sudah sepatutnya memanfaatkan dan mengelola modal ini dengan baik dan maksimal. Sang Maha Agung tidak akan pernah meminta imbalan plus bunga mencekik seperti kredit di bank. Itulah mengapa, sebaiknya jangan pernah merasa miskin.
Bahkan saya pernah membaca sebuah artikel, “Wajib Kaya, Haram Miskin”. Terdengar sangat ekstrem. Namun artikel itu memang mengacu pada beberapa bukti bahwa misalnya Nabi Muhammad SAW menjadi Pedagang sejak usia 12 tahun dan menjadi pengusaha selama 25 tahun. Beliau berdagang ke Luar Negeri setidaknya 18 kali, menjangkau Syiria, Yaman, Bashra, Iraq, Yordania dan Bahrain. Nabi menyerahkan puluhan Unta muda untuk mas kawin beliau.
Beliau juga memiliki banyak unta perah dan 20 untanya pernah dirampas Uyainah bin Hishn. Beliau memiliki unta pilihan (Al-Qoshwa) dan keledai pilihan untuk memudahkan perjalanan dan perjuangan. Hanya saja gaya hidup Beliau sangat-sangat sederhana, makanya hanya memakai pakaian, alas tidur dan makanan ala kadarnya.
Fakta lain, Sahabat Umar bin Khattab mewariskan 70.000 properti senilai triliunan rupiah. Ustman bin Affan mewariskan properti sepanjang Aris dan Khaibar senilai triliunan rupiah. Abu Bakar menyedekahkan seluruh harta kekayaannya juga bernilai triliunan rupiah. Banyak pula sahabat Nabi lainnya yang kaya. Istri kesayangan Nabi, Khadijah juga jauh lebih kaya daripada Rasulullah.
Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang. Mereka adalah orang-orang kaya. Pendiri NU Hasyim Asy’ari dan Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan adalah saudagar. Serikat Dagang Islam yang turut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini adalah sekumpulan orang-orang kaya.
Itu artinya, jika ada yang membiarkan dirinya terus-terusan miskin berarti telah mengkhianati para teladannya, termasuk mengkhianati Rasulullah SAW. Lho kok gitu? Ya iyalah. Coba lihat pesan Nabi Muhammad SAW dan Umar bin Khatthab berikut ini:
Suatu waktu Umar bertanya kepada seseorang yang sudah lanjut usia ”apa menghalangimu mengelola dan menanami tanah pekaranganmu ini?“, maka dijawablah, ”aku ini sudah tua renta, mungkin besok aku sudah wafat.“ Lantas Umar menanggapinya agar orang tua itu segera menanami tanahnya dan Umar pun sempatkan membantu menanami tanah itu.
Soal kerja, Umar sering menasehati, ”Cukupilah dirimu niscaya Agamamu akan lebih terpelihara, dan kamu akan lebih mulia.“ Umar bukan hanya menasehati, bahkan setiap usai salat shubuh umar langsung bergegas menuju kebunnya di Juruf, ia berusaha memenuhi kebutuhan dirinya.
Terkait dengan ini Nabi Muhammad juga berwasiat ”di antara dosa-dosa, ada dosa yang dapat terhapus dengan puasa dan salat, ia hanya bisa dihapus dengan susah payah mencari nafkah.“ Wasiat beliau lainnya ”Allah menyukai hambanya yang berkarya dan terampil, sesiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka ia serupa dengan Pejuang di Jalan Allah.” Ini sekaligus menjadi penegasan bahwa kerja ternyata merupakan salah satu bentuk ibadah tertinggi.
Umar juga mengajak para pekerja/karyawan untuk memiliki pendapatan tambahan, kurang lebih nasehatnya begini:”jika keluar gaji, maka sebagian belikan kambing, demikian juga gaji selanjutnya.“ Intinya Umar mengajak para karyawan memiliki asset/investasi produktif yang bisa mencetak uang terus-menerus. Umar juga mengajak orang-orang berdagang dengan nasehatnya, ”Berdagang itu merupakan sepertiga harta.”
Tuhan Maha Kaya Raya dan selalu memberikan Kekayaan dan Kecukupan kepada umatnya. Sekali lagi, tak ada satu pun ayat yang meminta umatnya supaya miskin. Bukankah dianjurkan banyak zakat dan sedekah, dan itu artinya lebih mudah dilakukan oleh mereka yang hidupnya selalu merasa cukup. Begitu pula perintah haji dan umrah, adalah untuk mereka yang mampu. Termasuk anjuran menuntut ilmu, menafkahi keluarga, menyantuni mereka yang kurang beruntung, semua bisa dilakukan yang mampu.
Cukup sudah bersantai ria dengan kemiskinan. Rasulullah sering mengingatkan bahwa: ”Kefakiran itu dekat sekali dengan Kekafiran.“
Penegasan lain bisa dilihat bahwa: ”Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami Mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi Saksi “.(An-Nisa :79 )
”Mereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” ( Yaasin :19 )
”Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah Memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)”..(Asy-Syuro : 30)
”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar “.
(An-Nisa :9)
Sahabat, miskin berbeda dengan merasa cukup. Orang yang merasa cukup, tentu berbeda karena dilandasi rasa syukur. Sementara miskin, dilandasi perasaan kurang. Itulah mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur; walaupun hidup pas-pasan, ia akan tetap tersenyum dan merasa cukup, bukan merasa miskin.
Itu pula yang ditegaskan Allah bahwa barang siapa yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Bukankah lebih baik membangun rasa keberlimpahan dan kecukupan di dalam hati dan pikiran, sehingga bisa menjadi hamba-Nya yang selalu BERSYUKUR. (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes