HYPNO NEWS

Friday, October 23, 2015

Sinyal Kasih dan Pesantren

Pertama-tama saya mohon maaf sebesar-besarnya. Apa yang saya tuliskan sama sekali tidak ada maksud untuk menyalahkan atau menganggap pendidikan di pesantren kurang baik. Namun, justru ini menjadi pembelajaran bagi diri sendiri, karena saya juga berniat untuk membawa buah hati ke salah satu pesantren. Apa yang saya tuliskan semata-mata ingin mengajak sahabat melihat dari sisi lain, sebelum memutuskan membawa buah hati meneruskan pendidikan ke pesantren.

Kenapa membahas soal pesantren? Begini. Saya beberapa kali melakukan terapi klien yang minta dibantu untuk mengatasi emosi. Seperti emosi mudah marah, putus asa, tersinggung, hingga yang lebih suka memendam perasaannya sendiri.



Seperti biasa, dengan teknik tertentu, saya membawa klien mundur ke masa pertama kali merasakan emosi yang menjadi penyebab masalah. Nah, ternyata saya menemukan beberapa klien yang mundur ke usia saat menjalani pendidikan di pondok pesantren.

Untuk klien yang mudah emosi misalnya, pertama kali emosi muncul ketika dia pernah ditampar seniornya, gara-gara terlambat ke masjid. Perasaan ini pun terus berlanjut, hingga akhirnya klien ini punya yunior dan melakukan pembalasan yang sama kepada yuniornya.

Sementara klien lain yang lebih suka memendam amarah, pertama kali terjadi saat klien merasa dikekang oleh gurunya di pesantren, namun tidak berani mengungkapkan. Hal itu ternyata terus terbawa hingga dewasa dan sangat mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.

Ada pula klien lain yang kurang percaya diri dan minder, bahkan takut berbicara di depan orang banyak. Ketika dibawa ke usia pertama kali mengalami perasaan tersebut, klien mundur ke masa ketika sering di-bully teman-temannya saat hidup di pesantren. Masih ada beberapa kasus lain, yang muaranya juga berasal dari pesantren.

Sahabat, sekali lagi saya tidak bermaksud untuk menyalahkan atau memandang negatif terkait pola kehidupan di pesantren. Semua sepakat, pendidikan di pesantren bertujuan agar santri memiliki bekal ilmu agama yang mumpuni, dan kelak bisa berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan negara.

Namun, di luar dari ilmu agama maupun akademik lainnya yang diajarkan, santri jelas harus berinteraksi dengan lingkungannya setiap hari, 1 x 24 jam, hingga beberapa tahun. Persoalan interaksi dengan lingkungan inilah yang perlu mendapat porsi dan perhatian lebih.

Orang tua yang membawa anak ke pesantren, jelas tidak bisa melakukan pengawasan terus-menerus. Orang tua tentu tidak boleh melakukan intervensi, karena fungsi pembinaan dan pengawasan sudah berpindah ke para pengasuh di pesantren.

Selama buah hati berada di pesantren, bukankah anak-anak tetap memerlukan kasih sayang dari kedua orang tuanya? Sampai si anak akhirnya benar-benar mandiri, baik mandiri secara emosi maupun secara finansial, tetap memerlukan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Selama belum mandiri secara emosi dan finansial, atau tercapai hanya salah satunya, maka si anak tetap dianggap anak, berapa pun usianya.

Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya, anak ibarat handphone yang harus selalui diisi dengan baterai kasih. Pengisian baterai kasih menggunakan lima bahasa cinta plus tatapan mata, praktis tidak bisa dilakukan, jika anak-anak terpisah jauh dengan orang tuanya. Selama buah hati berada di pondok pesantren, harus disadari bahwa baterai kasih si anak akan drop. Ditambah kalau misalnya anak mengalami kekerasan fisik atau verbal saat di pesantren, maka baterainya akan semakin kosong.

Kalau sudah seperti itu, maka sinyal kasih sayang anak dan orang tua akan terputus. Sebagai gantinya, anak akan mendapatkan pengisian baterai kasih dari lingkungannya. Baik itu teman, pengasuh, atau para ustaz. Beruntung jika energi kasih yang diberikan lingkungannya ini baik. Yang dikhawatirkan jika energi yang masuk untuk mengisi baterai kasih, ada yang kurang pas.

“Anak saya sekarang benar-benar mandiri setelah di pesantren. Sudah tidak manja, dan tidak merepotkan,” begitu kata salah satu orang tua kepada saya. Dari kata-katanya saja sudah terlihat, rupanya si orang tua selama ini tidak mau repot, sehingga memilih lepas tangan dalam mengurusi anak. Faktanya, memang ada tipe orang tua yang seperti ini.

Terkait soal anak yang dikatakan mandiri, sebenarnya ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama, anak memang benar-benar mandiri dan dewasa, tapi tetap punya ikatan kasih sayang dengan kedua orang tuanya. Kemungkinan kedua, hubungan kasih sayang anak dengan orang tua terputus akibat sinyal yang lemah, karena orang tua tidak pernah mengisi baterai kasih si anak. Saat anak tersebut dianggap mandiri, sejatinya anak memang merasa tidak butuh lagi orang tuanya. Orang tua yang peka, akan bisa merasakan perubahan ini. Orang tua akan merasakan ada sesuatu yang beda, tidak seperti biasanya. Nah, kemungkinan kedua inilah yang perlu menjadi perhatian.

Bercermin dari pelajaran di atas, ada baiknya orang tua tetap mengisi baterai kasih anak, meski sang buah hati terpaut jarak dan waktu. Tak jarang, ketika anak sudah dibawa ke pesantren, orang tua pun seolah merasa lepas tanggung jawab. Jarang menghubungi, apalagi mengirimkan sinyal kasih sayang.

Yang rutin dilakukan hanya mengirimkan uang untuk biaya hidup dan keperluan pendidikan. Tak sedikit yang beranggapan bahwa mengirim uang adalah sebagai bentuk kasih sayang. Padahal, mengisi baterai kasih tidak cukup hanya uang. Masih ada aspek lain yang harus dipenuhi. Misalnya pujian, sentuhan fisik, waktu yang berkualitas, dilayani, dan pemberian hadiah. Satu lagi yang juga sulit dilakukan adalah, tatapan mata.

Lantas bagaimana cara mengisi baterai kasih buah hati yang sedang di pesantren? Caranya mudah. Setiap hari, minimal sekali seminggu, izinkan dan niatkan diri mengirimkan gelombang kasih sayang kepada anak. Luangkan waktu paling lama 30 menit, duduk rileks sejenak, kemudian berikan limpahan kasih kepada anak Anda. Bayangkan buah hati Anda ada di hadapan, dan berikan sentuhan, kasih sayang, pujian, serta semuanya, hingga dirasakan cukup.

Sahabat, sinyal energi ini tidak mengenal batas ruang dan waktu. Ikatan emosional orang tua dan anak, akan semakin meningkat dengan cara seperti ini. Dengan demikian, meski anak sedang berada di pesantren, dia akan tetap merasakan kehadiran orang tuanya, dan tetap merasakan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dia akan merasakan, ada orang tua yang selalu menemani dalam aktivitas kesehariannya. Selamat mencoba.  

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes