HYPNO NEWS

Friday, October 23, 2015

Trauma, Payudara Diremas Bos

Setiap orang tentu berharap merasakan lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan. Apalagi kaum hawa, yang paling dicari adalah rasa aman. Namun bagaimana jika rasa aman itu tiba-tiba hilang akibat perilaku oknum karyawan pria lainnya, yang melakukan pelecehan seksual?

Bagi yang berani melawan, tentu tidak masalah. Tapi bukankah kaum hawa umumnya memendam perasaan dan lebih memilih diam terhadap perilaku yang merugikan tersebut?



Itulah yang terjadi pada Mawar, tentu bukan nama sebenarnya, yang awalnya datang dengan keluhan rasa sakit melilit saat haid. Wanita berusia 29 tahun mengaku tidak tahu persis, sejak kapan merasakan siksaan setiap kali tamu bulanannya itu datang. Dia pun menduga ada yang tidak beres dengan rasa sakitnya itu, sehingga mencoba untuk menjalani proses hipnoterapi.

Sebelumnya, saya memang sempat berkunjung ke tempat kerja Mawar. Melalui obrolan singkat dengan Mawar dan beberapa rekan kerjanya, saya menjelaskan tentang hipnoterapi yang berbasis pada penyelesaian akar masalah. Bahkan, sakit fisik pun bisa jadi disebabkan oleh karena pikiran. Inilah yang disebut psikosomatis.

Tertarik dengan penjelasan itu, Mawar pun menduga, jangan-jangan rasa sakit yang datang setiap bulan itu termasuk psikosomatis.

Singkat cerita, di ruang terapi, saya membimbing mawar untuk masuk ke kondisi profound somnambulism. Ini adalah kondisi kedalaman yang sangat efektif untuk mengakses pikiran bawah sadar. Ibarat menyelam, tidur ada di kedalaman 40 meter. Sementara profound somnambulism adalah di kedalaman 28 sampai 30 meter.

Dengan teknik khusus, Mawar berhasil saya bimbing berada di kedalaman ini. Melalui komunikasi dengan pikiran bawah sadarnya, akhirnya bisa diketahui penyebab awal Mawar mengalami rasa sakit saat haid. Mawar mundur pada kejadian 8 tahun lalu, ketika dia baru pertama kali bekerja di kantornya yang sekarang.

“Dada saya disentuh, bahkan sempat diremas. Saya ngga berani melawan,” kata Mawar, ketika saya tanya apa yang terjadi saat itu. Kenapa tidak melawan? “Dia atasan saya. Sementara saya baru mulai kerja,” sambungnya.

Sejak itu, Mawar mengaku merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia merasa tidak berguna, dan sejak saat itu pula dia merasa ada yang tidak nyaman.

Terus, kenapa bisa bertahan hingga begitu lama? “Ya ngga apa-apa, sudah saya maafkan. Orangnya juga sudah minta maaf,” katanya.

Ho ho ho, jelas saya tidak percaya jika Mawar sudah memaafkan kejadian itu. Kalau sudah memaafkan, kenapa masih membekas di pikiran bawah sadarnya?

Sahabat, inilah uniknya manusia. Sejatinya, di dalam diri manusia, ada banyak bagian diri yang menjalankan fungsinya masing-masing. Dalam kasus Mawar ini, bagian dirinya yang bijaksana jelas sudah memaafkan perilaku atasannya itu. Tetapi, ketika saya tanyakan hal ini kepada bagian dirinya yang lain, langsung muncul jawaban.

“Ada bagian diri Mawar yang tidak terima dengan perlakuan atasannya ini. Bener?” Mawar mengangguk.

Saya pun membimbing Mawar mengatasi traumanya dengan beberapa teknik tertentu yang sudah teruji keberhasilannya. Hasilnya, Mawar merasa sangat lega dan plong. Ia tidak mengira, bisa melepaskan beban yang sudah dipikul selama 8 tahun.

Sahabat. Berkaca dari kasus ini, jelas bahwa pelecehan seksual tidak bisa dianggap enteng. Apa pun bentuk pelecehan, baik berat maupun ringan, bukan tidak mungkin meninggalkan luka batin yang dalam bagi para korbannya.

Lantas, kenapa korban lebih memilih diam dan tidak melapor? Sadar atau tidak, sering kali korban pelecehan seksual akan mengalami ‘pelecehan’ tambahan jika harus melapor. Saat diinterogasi pihak berwajib, jelas itu akan membuat traumanya bertambah. Belum lagi jika ada wartawan yang melakukan wawancara live di televisi dan diminta untuk bercerita ulang, secara tidak langsung hal itu akan membuat trauma yang dialami semakin berat. Produser televisi boleh saja mengaburkan wajah dan suaranya. Namun urusan trauma, tidak mudah obatnya.

Itu sebabnya, mari dukung korban pelecehan seksual dengan tidak menambah trauma yang ia alami. Hal yang tepat adalah, segera dilakukan rehabilitasi agar kondisi psikologisnya kembali normal.

Lalu, kenapa saya boleh menuliskan kembali kisah Mawar? Ini saya tuliskan setelah mendapat izin yang bersangkutan. Lagi pula, traumanya juga sudah dibereskan. Sehingga, saat saya minta membaca tulisan ini sebelum diposting, Mawar merasa biasa-biasa saja. Justru dia berharap, agar melalui tulisan ini, para korban pelecehan seksual bisa membereskan traumanya dengan tuntas. Sehingga bisa menjalani aktivitas lebih nyaman tanpa gangguan pikiran. Bagaimana menurut sahabat?

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes