BREAKING NEWS

Thursday, November 26, 2015

Anak Nakal, Anak Ajaib


Artikel soal cara belajar anak yang saya tulis sebelumnya, membuat salah satu sahabat akhirnya paham kenapa anaknya selama ini dianggap ‘nakal’. Padahal ternyata, anaknya sangat cerdas dan sangat pandai. Sahabat ini pun menyampaikan kegembiraan setelah dia tahu bahwa anaknya ternyata luar biasa.

Sahabat ini awalnya jujur mengakui selama ini merasa kemampuan intelektual anaknya pas-pasan. Bahkan dia menganggap anaknya belum bisa bertanggung jawab dan jauh dari kata disiplin.

Beberapa hari lalu, di buku agenda anaknya tertulis bahwa akan ada ujian salah satu mata pelajaran. Karena itu, malam sebelumnya, si anak diingatkan untuk membawa buku dan materi pelajaran untuk dibawa pulang, sehingga bisa belajar.

Sahabat saya ini, anaknya sekolah di salah satu sekolah swasta cukup bonafide di Surabaya. Di sekolah ini tersedia loker khusus siswa. Sehingga siswa bisa menyimpan semua buku dan peralatan sekolahnya di loker tersebut. Saat ada pekerjaan rumah atau ujian, barulah buku dan materi pelajaran dibawa pulang.

“Ternyata saat itu, anak saya lupa membawa buku dan materi pelajaran yang akan diujikan. Jelas saja sebagai orang tua, saya jadi kebingungan dan ngga tahu harus membantu belajar dengan cara apa,” kata sahabat saya ini.



Sahabat saya ini akhirnya ingat dengan apa yang pernah saya tulis di salah satu artikel tentang menenangkan diri dan tetap berpikir positif.

“Ketimbang anak dimarahin, saya kemudian ambil nafas panjang sambil menenangkan diri. Dengan tenang, saya tanya ke anak saya. Masih ingat ngga dengan materi pelajarannya saat diterangkan guru di sekolah?” tanya dia.

Ternyata anaknya menjawab, masih ingat semua dengan materi yang diajarkan gurunya di sekolah.

“Kira-kira kalau besok ujian, bisa ngga menjawab soalnya?” tanya sahabat saya lagi pada anaknya. Anaknya dengan tenang menjawab, bahwa dia akan bisa menjawab semua soal ujian keesokan harinya.

Si anak kemudian dibimbing untuk tidur agar besok bisa bangun pagi dengan fit saat berangkat sekolah. Sahabat saya ini pun pasrah, dan membuang semua perasaan cemas yang selama ini kerap muncul setiap kali menyangkut pendidikan anaknya.

“Ternyata efeknya memang lebih bagus ketika kita lebih tenang. Seolah saya percaya dia bisa, padahal saya jujur agak sedikit ragu,” ucap sahabat saya lagi.

Namun keraguannya itu akhirnya bisa terjawab. Saat hasil ujian itu dibagikan, anaknya mendapat nilai sempurna alias 100 “Betul-betul saya tidak menyangka hasilnya seperti itu,” ujarnya dengan nada sumringah.

Sahabat saya ini juga baru tahu, setelah ujian tersebut, ternyata banyak teman dari anaknya yang harus mengulang alias remidi. “Ternyata anak saya tidak ada yang remidi sama sekali. Saya baru sadar ternyata anak saya juga punya kemampuan luar biasa,” katanya.

Selama ini, anak dari sahabat tersebut kerap dianggap trouble maker di sekolah. Duduknya di deretan bangku paling belakang, dan kerap membuat keributan. Bagi guru dan orang tua pada umumnya, inilah yang dianggap nakal. Padahal, tidak selamanya ini nakal. Ini adalah tipe anak kinestetik, alias cara belajarnya harus bergerak.

Terbukti, meski dia duduk paling belakang dan dianggap pembuat onar, nyatanya dia mampu menjawab pertanyaan saat ujian, tanpa belajar. Jelas dia hanya menjawab berdasarkan data yang tersimpan di pikiran bawah sadarnya.

Justru, anak jenis ini tidak akan bisa diajak belajar dengan cara duduk diam dan anteng. Pikiran bawah sadarnya tidak akan menerima semua informasi yang masuk, karena tidak dalam kondisi bahagia. Kebahagiaannya adalah ketika dia bergerak dan bisa melakukan semua hal yang diinginkan, sembari dia tetap menyimak dan belajar.

Karena itu, di sekolah khusus yang memahami konsep ini, anak kinestetik tidak memerlukan bangku di ruang kelas. Dia bisa belajar sambil lesehan, atau tengkurap. Yang penting fisiknya tidak benar-benar duduk diam sama sekali.

Sahabat, seringkali orang tua memang tidak sadar memberikan ‘label’ negatif pada anaknya sendiri. Label nakal, bodoh, bandel, dan sejenisnya, dengan terang-terangan diberikan kepada anak. Kalau pun tidak disampaikan kepada anaknya, tetapi disampaikan kepada teman atau keluarganya. Padahal label ini akan menjadi sinyal negatif yang membahayakan tumbuh kembang anak. Kenapa, vibrasi energi orang tua yang cemas atas kondisi anaknya, akan membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak dihargai sepenuhnya oleh orang tuanya.


Masih ingat dengan teman waktu di sekolah dulu? Ada kah teman yang ‘nakal’ namun kini justru menjadi pengusaha sukses? Hal itu setidaknya juga bisa menjadi salah satu jawaban agar para orang tua tidak buru-buru cemas ketika mendapat anaknya dianggap nakal. Yang penting, tetap tenang dan dampingi dengan segenap kasih sayang.  

Bagaimana menurut Anda?  


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes