HYPNO NEWS

Friday, November 27, 2015

Anak Suka Membantah? Ini Penyebabnya


Belum lama ini, saya bertemu salah satu sahabat yang juga seorang jurnalis. Namun, bukan satu perusahaan dengan saya. Karena lama tak pernah jumpa, apalagi saya sempat cukup lama berada di daerah yang berbeda, obrolan pun akhirnya berlanjut ke urusan anak.

“Anakku kok susah ya dikasih tahu. Setiap kali dikasih tahu, bukannya menurut, yang ada malah melawan,” ucap sahabat saya ini. “Bisa ngga anakku diterapi?” tanyanya lagi, ketika belakangan dia tahu bahwa saya juga mendalami tentang teknologi pikiran.


Saya pun mencoba mencari informasi tentang pola asuh yang diterapkan pada anaknya. Sebagai jurnalis, seperti yang juga pernah saya alami, sahabat saya ini saya simpulkan kurang dalam menjalankan perannya mengisi baterai kasih sayang pada anak.

Kewajiban seorang ayah juga harus mengisi baterai kasih sayang, tak ubahnya handphone yang juga harus selalu diisi tenaganya ketika sudah kosong. Anak juga harus selalu diisi kasih sayangnya tidak hanya oleh ibunya, tapi juga oleh ayahnya. Konsep mengisi baterai kasih sayang dengan lima bahasa kasih pun saya jelaskan. Masing-masing memberi pujian, waktu yang berkualitas, sentuhan, hadiah, dan pelayanan.

Anak dari sahabat saya ini baru kelas 4 SD. Namun, di usia seperti ini, sudah harus menjalani rutinitas yang padat. Selain pagi hari harus mengikuti pendidikan formal, sore hari juga ada beberapa les yang diikuti meski dengan hari berbeda-beda. Ada les bahasa Inggris, les menghitung cepat dengan metode tertentu, juga les menggambar.

Praktis, anak ini kurang waktu bermain dan bersosialisasi. Meski untuk urusan antar jemput sekolah dan les juga kerap dilakukan sahabat saya tadi, namun interaksi selama di perjalanan juga kurang. “Ya paling-paling di mobil dia tidur,” ucap sahabat tadi.

Saya pun meminta sahabat saya kembali ke konsep mengisi baterai kasih sayang tadi. Anak kekurangan kasih sayang, karena waktunya habis untuk sekolah dan les. Begitu pulang, anak sudah kelelahan sehingga tidak ada lagi energi untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungannya.

Sikap anak yang suka membantah dan susah diatur, hanya ‘sinyal’ bahwa anak merasa kurang nyaman, namun tidak berani menyampaikan rasa tidak nyamannya itu. Apalagi sahabat saya ini memang tergolong memiliki karakter yang keras pada anaknya.

Kepada sahabat saya ini, saya menyarankan untuk melakukan beberapa hal. Pertama, meminta maaf atas apa yang sudah pernah diperbuat kepada anaknya. Cara meminta maaf, seperti yang selalu saya tulis, bukan seperti ketika Lebaran. Kali ini minta maafnya harus dengan tulus, dari hati yang paling dalam, dan disampaikan dalam suasana yang nyaman.

Setelah meminta maaf, saya sarankan untuk menghentikan dulu semua les yang ada. “Lah, sayang. Itu yang les menghitung sudah level tinggi,” kata dia. Semua tentu saya kembalikan lagi kepada sahabat saya tadi. “Sayang les menghitungnya, atau sayang masa depannya?” tanya saya kemudian.

Sebab, tak sedikit orang tua yang terjebak dalam kamuflase pendidikan. Alih-alih ingin anaknya berprestasi, nyatanya yang dilakukan hanya untuk mengejar prestise orang tunya. Sementara anak kadang tertekan dan stres akibat beban yang diemban tak sesuai dengan kapasitas usianya.

Terakhir, saya kemudian meminta dia mengisi baterai kasih anak dengan lima bahasa kasih tadi, plus dilakukan dengan tatapan mata yang tulus. Satu minggu berselang, sahabat saya tadi pun menghubungi saya. Dia merasakan perubahan drastis yang dialami anaknya.

“Iya, ternyata selama ini anak saya stres, terlalu banyak beban. Padahal selama ini saya tidak memaksakan, hanya menawarkan mau ikut les ini dan itu. Rupanya itu dianggap sebagai perintah. Padahal saya tidak memaksakan,” beber sahabat saya itu.

Dari ujung telepon, terdengar sedikit suara tangisan karena terharu yang dirasakan sahabat saya. “Sekarang saya jadi lebih dekat dengan anak-anak. Sesuatu yang selama ini tidak pernah saya rasakan,” ungkapnya  lagi.

Tak terasa, mata saya pun sempat berkaca-kaca mendengar apa yang sudah dicapai sahabat saya ini. Betapa tidak, hal yang sama, juga pernah saya rasakan. Beruntung saya juga cepat menyadari dan memperbaiki pola asuh terhadap anak-anak.

Sahabat semua, masa anak-anak hanya sebentar saja. Jangan sia-siakan waktu yang hanya sebentar itu, untuk mengisi baterai kasih sayangnya dengan maksimal. Nanti ketika anak sudah dewasa, jangan sedih jika dia tidak lagi membutuhkan Anda. Mumpung masih kecil dan dia membutuhkan Anda, isi baterai kasih dengan sepenuh hati. Sehingga ketika dewasa, meski anak secara fisik tidak lagi dekat dengan Anda, namun jauh di pikiran bawah sadarnya, masih ada sosok orang tua ideal yang selalu tertanam kuat.

Bagaimana menurut Anda?  

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes