HYPNO NEWS

Friday, November 6, 2015

Anak Tidak Mau Sekolah karena Ini

Siang tadi sepulang sekolah, anak saya yang terakhir, yang duduk di kelas 3 sekolah dasar, tiba-tiba menangis. Dia enggan masuk sekolah, dan sama sekali tidak mau sekolah.

Dia menangis sangat hebat, sehingga membuat saya dan istri perlu waktu cukup lama untuk menenangkannya. Si kecil ini pun saya bujuk untuk masuk ke ruang terapi, dan duduk di kursi terapi.

Di kursi terapi, anak saya yang bernama Sofia ini, saya bimbing untuk mengalami relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Teknik yang saya gunakan tentu berbeda dengan klien yang dewasa. Untuk anak-anak, saya gunakan teknik Hypnotherapy for Children.


Setelah Sofia dalam kondisi rileks secara fisik dan pikiran, saya pun dengan mudah berkomunikasi dengan pikiran bawah sadarnya.

Ternyata, yang membuatnya menangis dan enggan masuk sekolah adalah, hari itu posisi tempat duduknya ditukar. Anak saya bertukar tempat duduk dan di sebelahnya kini tidak lagi teman perempuan, melainkan laki-laki.

Yang menjadi masalah adalah, teman sebangku yang laki-laki ini kerap mengejek dan mengolok anak saya. Bahkan sempat memukul Sofia.

Pendek kata, anak saya menjadi korban bully baik verbal maupun fisik. Akibatnya dia menjadi trauma dan sangat ketakutan untuk kembali ke sekolah.
  
Namun, apakah ini jadi penyebab awalnya? Ternyata bukan. Saat berkomunikasi dengan pikiran bawah sadarnya, saya akhirnya berhasil menemukan akar masalahnya. Rasa takut muncul pertama kali, ketika dia berusia 4 tahun.

Ketika itu, dia merasa ketakutan saat hujan deras siang hari, dan kondisi rumah sedikit gelap karena listrik padam. Inilah yang menjadi penyebab awalnya si kecil ini mengalami rasa takut.

Trauma dan perasaan takut ini pun saya tuntaskan dengan menggunakan teknik khusus. Hanya dalam waktu 5 menit, Sofia pun berhasil mengatasi rasa takutnya.

Tak hanya itu, keberaniannya pun muncul, dan dia pun mau kembali bersekolah keesokan harinya.
Sahabat, tentu saya merasa beruntung karena bisa mengatasi trauma yang dialami anak saya sendiri.
Persoalannya, bagaimana dengan mereka yang anaknya juga jadi korban bully?

Saya hanya ingin menyampaikan kepada pihak terkait di sektor pendidikan, termasuk para guru dan kepala sekolah, jangan sepelekan bully yang terjadi di sekolah.
Hindari kalimat, "biasa, namanya juga anak-anak." Bully baik fisik maupun verbal, tak boleh dianggap enteng. Jika dibiarkan, anak akan mengalami trauma yang sangat dalam dan semakin sulit diatasi.

Bukankah sudah banyak kasus,  bahkan hingga ada yang meregang nyawa akibat bully dan kekerasan yang terjadi di sekolah.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman, tiba-tiba bisa berubah menjadi tempat yang menakutkan bagi anak-anak.   

Di sinilah pentingnya setiap sekolah memiliki guru yang memahami psikologi atau hipnoterapi. Jika tidak, ada baiknya setiap sekolah bekerja sama dengan hipnoterapis atau psikolog. Sehingga kasus seperti ini, bisa langsung segera diatasi, dan tidak dibiarkan berlarut-larut.
Bagaimana menurut Anda?

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes