BREAKING NEWS

Wednesday, November 25, 2015

Bagaimana Cara Belajar Anak Anda?


“Mas, anakku susah sekali kalau mau disuruh belajar. Bagaimana ya cara mengatasinya?” begitu kira-kira pertanyaan salah seorang sahabat. Ada pula yang bertanya, “anak saya kalau belajar cuek banget. Dikasih tahu kaya ngga ada response sama sekali. Bikin emosi,” ujar orang tua lainnya.

Sejak menjadi wartawan di Kaltim Post, dunia anak-anak dan pendidikan memang menjadi salah satu minat saya. Itu pula yang melatari dorongan lahirnya halaman khusus untuk anak-anak. Kini halaman itu dilebur dengan halaman lain khusus segmen wanita.

Karena sering menulis terkait anak-anak dan pendidikan, begitu banyak teori yang menempel dan mencoba diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selama menjadi wartawan itulah, saya sering ngobrol dan diskusi dengan psikolog, psikiater, dokter spesialis anak, serta para praktisi pendidikan.


Tak sedikit pula seminar terkait pendidikan dan anak-anak yang saya ikuti. Seminar dan pelatihan itu umumnya tidak gratis. Biayanya dari mulai ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Tapi alhamdulillah, semua saya ikuti gratis. Saya biasanya diundang sebagai wartawan untuk meliput acara itu, sehingga wajar kalau tidak ditagih uang tiket oleh panitia seminarnya. Ada pula acara seminar yang kemudian panitia mengundang saya menjadi moderator.

Kalau ada seminar menarik, biasanya saya ikuti sampai selesai. Kalau kurang puas, saya pun bisa diskusi langsung dengan narasumbernya saat wawancara usai seminar. Sehingga pertanyaan yang mengganjal bisa mendapat jawaban lebih jelas.

Salah satu yang berkesan adalah ketika bisa berdiskusi dengan Dr Adi W Gunawan CCH, seorang intelektual, akademisi, doktor pendidikan, clinical hypnotherapist, trainer, researcher, pakar Mind Technology, penulis puluhan buku, dan dikenal sebagai Indonesia Leading Expert in Mind Technology. Salah satu buku yang dia tulis dan bisa menjadi rujukan dalam mendidik anak adalah Born to be Genius dan Genius Learning Strategy.

Beruntung, saya akhirnya bisa belajar langsung dengan beliau, hingga akhirnya mendapat sertifikasi trainer untuk menyampaikan materi Hypnotherapy for Children alias hipnoterapi untuk anak.  

Sahabat, agar anak bisa belajar dengan baik, poinnya adalah, orang tua dan guru harus paham bagaimana cara mendidik anak. Masih ingatkah ketika TK atau SD, guru selalu meminta muridnya duduk yang manis. Duduk dengan tangan dilipat di atas meja dan harus diam, tak boleh bersuara. Bagi guru, yang duduk manis itulah anak pintar. Umumnya, murid yang duduk di depan lah yang duduk tenang dan biasanya juga menduduki ranking 10 besar.

Lantas, bagaimana dengan murid yang duduk di belakang? Ya umumnya dicap sebagai pembuat onar, dan tidak akan tenang saat diminta duduk yang manis. Tapi biasanya, mereka yang dianggap pembuat onar ini memiliki kelebihan lain di bidang olahraga atau seni.

Nah, di sinilah sebenarnya peran guru dan orang tua agar memahami cara belajar anak. Memahami cara belajar anak adalah kunci pokok untuk menunjang keberhasilan anak. Sebaliknya, jika cara belajar anak tidak dipahami, maka hasilnya akan kurang maksimal.

Secara garis besar, anak-anak terbagi dalam tiga cara belajar. Masing-masing auditori, visual, dan kinestetik. Ada anak-anak yang senang belajar dengan cara mendengar. Inilah yang namanya anak auditori. Bagi anak-anak yang bertipe auditori ini, anak akan mudah menyerap apa yang diajarkan meski hanya dengan cara mendengar. Anak seperti ini memang lebih mudah belajar. Cukup diberikan ceramah atau pemahaman, sudah bisa masuk apa saja yang diajarkan.

Anak dengan sistem auditori ini juga harus didukung dengan suara guru yang lantang atau keras. Begitu suara yang didengar kecil, anak menjadi tak lagi memperhatikan dan lebih banyak ngobrol dengan teman sendiri. Anak tipe ini juga lebih suka dibacakan buku, dan dia cukup mendengarnya saja, ketimbang membaca buku sendiri.

Lalu bagaimana dengan anak yang senang belajar dengan sistem melihat (visual)? Anak semacam ini jelas lebih senang melihat. Biasanya, anak dengan tipe ini lebih senang diberikan catatan. Makin banyak catatan, makin senang dan makin paham dalam belajar.

Untuk memudahkan dalam memahami persoalan, pada catatan atau buku, sebaiknya juga dibantu dengan pulpen atau spidol berwarna. Dengan cara itu, anak pun lebih mudah menyerap apa yang sedang dibaca.

Selain itu, anak-anak bertipe visual akan lebih mudah jika diajarkan dengan dipertontonkan media ajar seperti video atau dipraktikkan langsung. Menghadapi anak seperti ini memang lebih baik jika diberikan materi berupa praktik langsung atau melihat langsung apa yang sedang dibahas.

Terakhir adalah anak yang senang dengan sistem kinestetik atau bergerak. Anak seperti ini jangan harap bisa menyerap apa yang diajarkan jika dalam posisi duduk diam. Kalau duduk diam justru ilmu tidak bisa masuk. Biar dimarahi atau dipaksa, tetap saja tidak bisa menyerap apa yang diajarkan. Anak-anak tipe inilah yang biasanya lebih suka duduk di baris belakang, dan kerap dituding sebagai pembuat onar. Padahal, kalau saja mereka diajak belajar di luar ruangan dan bebas bergerak, bisa jadi lebih mudah dalam belajar.

Karena itu, di beberapa sekolah yang sudah menerapkan sistem ini, sejak awal anak-anak sudah dibedakan antara yang auditori, visual, dan kinestetik. Anak auditori, kelasnya didesain dengan ruangan khusus kedap suara dan banyak disampaikan materi dalam bentuk suara.

Sementara untuk kelas visual, tentu dilengkapi dengan berbagai alat multimedia seperti video, hingga alat peraga penunjang lainnya. Sedangkan untuk kelas kinestetik, ruangannya tidak dilengkapi meja dan kursi. Murid diberikan kebebasan dalam belajar. Mau duduk lesehan, tengkurap, atau cara apa pun yang penting mereka leluasa bergerak.

Guru atau orang tua tentu harus memahami anak semacam ini. Sebab, meski banyak bergerak, ternyata anak tipe ini tetap bisa menyimak dan merekam apa yang sedang diajarkan. Beri dia kesibukan untuk bergerak, sementara itu berikan pula materi-materi atau bahan ajar, tentu anak akan lebih mudah menyerapnya.

Dalam kasus teman saya, seperti yang saya kutip di awal tulisan ini, saya menduga anaknya masuk dalam kategori kinestetik. Tidak mau diam, lebih suka bergerak aktif. Karena itu, saya menyarankan agar anaknya diajak belajar sambil bermain. Misalnya, di lantai dituliskan huruf atau angka. Dengan cara tebak-tebakan, anak diajak untuk melompat ke arah huruf atau angka yang diminta. Cara ini jelas harus bergerak dan lebih menyenangkan.

Karena itu, orangtua akan lebih baik mengetahui sistem belajar yang disukai anaknya. Sehingga anak akan lebih mudah menerima pelajaran. Sementara bagi guru yang mengajar di kelas dengan murid yang berbeda-beda, sebisa mungkin mengombinasikan ketiga cara tadi agar semua muridnya bisa diakomodasi. Kira-kira anak Anda masuk dalam tipe yang mana? (*)


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes