HYPNO NEWS

Sunday, November 15, 2015

Berani Sita HP Anak? Ini Dampaknya

source: internet
Di era saat ini, tak hanya orang dewasa yang familiar dengan gadget. Bahkan anak-anak pun sudah sangat ketergantungan dengan perangkat multimedia ini. Tak heran jika banyak orang tua yang memberikan anak fasilitas gadget, dari mulai smartphone hingga perangkat lainnya termasuk play station.

Tentu saat memberikan gadget ini ada plus minusnya. Plusnya adalah, anak sebenarnya belajar mandiri dan memecahkan masalah. Pasalnya, saat dia bermain game, sejatinya dia juga belajar untuk memecahkan masalah. Selain itu, kemampuan bahasanya juga bisa berkembang. Nilai plus lainnya adalah anak tidak gagap teknologi, sehingga tidak ketinggalan zaman. Bahkan saat mengerjakan pekerjaan rumah, anak pun menjadi sangat terbantu. Tinggal tanya ‘mbah google’, semua soal ada jawabannya.

Namun demikian, tak sedikit pula minusnya. Anak terkadang sulit diatur, karena lebih suka bermain gadget. Lebih ekstrem lagi, anak membantah hingga melawan orang tua, dan sulit jika diminta melakukan sesuatu. Nah, nilai minus inilah yang belakangan banyak dikeluhkan para orang tua.


“Anak saya malas sekolah, susah disuruh belajar. Bikin pusing kepala,” keluh salah satu orang tua.

Sahabat, yang harus diperjelas saat memberikan gadget ke anak adalah apakah statusnya menjadi milik anak, atau statusnya hanya pinjam pakai? Loh, kenapa harus jelas? Status kepemilikan ini sangat-sangat penting untuk memastikan gadget tersebut milik siapa.

Umumnya, para orang tua tidak mau ambil pusing. Begitu memberikan gadget seperti smartphone, tablet, atau laptop, ya statusnya langsung diserahkan begitu saja. Artinya, secara tidak langsung benda itu sudah diserahterimakan ke anak. Dengan kata lain, benda itu sudah menjadi hak milik si anak.

Karena gadget itu sudah menjadi milik anak, maka wajar jika kemudian anak merasakan barang itu sepenuhnya menjadi miliknya. Terlepas yang membelikan adalah orang tuanya, faktanya benda itu miliknya dan di bawah kekuasaannya secara penuh.

Nah, status kepemilikan itulah yang ke depan berpotensi menjadi sumber masalah baru. Kok bisa? Ya, sangat bisa. Sebab, terkadang orang tua mengambil jalan pintas. Begitu anaknya sulit diatur atau bandel, langkah yang umumnya diambil adalah mengambil atau menyita gadget yang sudah diberikan sebelumnya.

Sahabat, bukankah sejak awal sudah jelas. HP itu milik siapa? Kalau sudah jadi milik anak, kenapa disita? Secara tidak langsung, itu sudah memberikan pelajaran negatif pada anak. Pelajaran apa itu? Pelajaran bahwa seseorang boleh merampas atau mengambil milik orang lain. Tindakan orang tua yang menyita HP atau benda milik anak, sejatinya sudah merampas hak milik anak. Itu sama saja, merendahkan harga diri anak itu sendiri. Anak akan merasa sangat terpukul dan dia akan merasa haknya sudah dirampas orang tuanya. Anak akan merasa tidak berhak memiliki apa pun, termasuk anak merasa tidak berharga sama sekali bagi orang tuanya.

Bagi para orang tua, hal ini mungkin dianggap sepele. Padahal, kondisi ini bisa menyebabkan luka batin yang sangat dalam.

Belum lama ini, salah satu orang tua meminta tolong agar masalah anaknya bisa ditangani. Anaknya yang sudah duduk di kelas 3 SD, beberapa hari sempat tidak mau masuk sekolah. Bahkan ketika dibawa ke tempat praktik hipnoterapi, anak ini hanya satu kali masuk sekolah, dalam satu minggu.

Sebelumnya, anak tidak langsung menjalani sesi hipnoterapi. Sepekan sebelumnya, kedua orang tuanya harus menjalani sesi konsultasi dan diberikan pekerjaan rumah. Kedua orang tuanya sangat serius untuk berubah, sehingga saat sesi hipnoterapi untuk anaknya, perilaku anak sudah banyak mengalami perubahan.

Saat dilakukan hipnoterapi pada anak, ternyata terungkap bahwa dia tidak mau masuk sekolah sebagai bentuk protes atau pemberontakan, karena kenyamanannya dirampas. Ya, HP milik anak ini sempat disita, karena si anak dianggap malas belajar. Anak ini kemudian memang mau belajar. Namun, dia melakukannya secara terpaksa. Yang jelas, rasa sakit hatinya saat HP disita, sangat mendalam. Perasaan inilah yang kemudian dibereskan melalui sesi hipnoterapi, dengan menggunakan teknik hypnotherapy for children.

Setelah perasaan sakit hati itu dibereskan, si anak kembali mau bersekolah dengan tenang. Si anak pun sempat meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Begitu pula dengan kedua orang tuanya, dengan tulus meminta maaf atas penyitaan yang sudah dilakukan.

Kedua orang tua ini pun mengikuti saran yang sudah diberikan saat sesi konsultasi. HP itu dibeli oleh kedua orang tuanya, dengan harga baru yang berlaku saat ini. Uang hasil pembelian HP itu kemudian ditabung oleh si anak. Namun, HP tetap boleh dipakai dengan status pinjam pakai. Artinya, sudah ada aturan yang mengikat dalam penggunakan HP ini. Begitu ada aturan yang dilanggar, anak sudah tahu konsekuensinya, HP pasti disita dalam jangka waktu tertentu. Bagaimana menurut Anda? (*) 


Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes