BREAKING NEWS

Saturday, November 28, 2015

Cukup Diberi Perintah, Langsung Jago Bahasa Inggris


Beberapa waktu lalu, seorang sahabat mengaku pusing dengan pekerjaannya. Kenapa? Secara tiba-tiba, atasannya meminta dia untuk membuat konsep surat dalam bahasa Inggris. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia lakukan, meski tercatat sudah 10 tahun bekerja di perusahaan tersebut.

Sahabat saya ini mengakui, dulu nyalinya sempat ciut sebelum melamar kerja di tempatnya mengais rezeki sekarang. Sebab, ada poin khusus yang menjadi syarat utama yakni menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Syarat itu, seolah menjadi momok tersendiri. Sebab dia sangat menyadari bahwa kemampuannya berbahasa asing itu masih sangat terbatas.


Sahabat ini tetap berani melamar kerja di kantor tersebut, karena ada informasi dari orang dalam, bahwa selama ini yang membuat surat-menyurat dalam bahasa Inggris adalah pemilik perusahaan itu sendiri.

Ternyata benar adanya. Selama dia bekerja di perusahaan itu, tidak pernah membuat surat dalam bahasa Inggris. Urusan menulis surat dalam bahasa internasional itu dilakukan oleh atasannya sendiri. Sahabat saya ini tinggal mengetik ulang dan mengirimkannya kembali melalui surat elektronik kepada klien perusahaan.

“Selama ini aku hanya mengetik ulang konsep surat dari bos, diperiksa, dan aku kirim ke mitra perusahaan di luar negeri melalui e-mail,” terangnya. Begitu nyamannya, sehingga kemampuannya dalam korespondensi berbahasa Inggris tak semakin berkembang.

Pernah suatu ketika, pikiran bawah sadar (PBS) – nya melakukan unjuk rasa. PBS mengaku jenuh karena kemampuannya berbahasa Inggris sama sekali tidak digunakan.

PBS-nya sempat berkata, “coba bayangkan kalau ternyata kamu harus keluar dari zona nyaman ini! Bayangkan kalau mendadak bos harus keluar negeri seperti Minggu lalu dan kamu harus menjawab semua koresponden dalam Bahasa Inggris!”

Sahabat saya ini seolah tersentak, meski tetap enggan dipaksa keluar dari zona nyaman ini. Dan ternyata benar, beberapa hari kemudian atasannya memanggil untuk meminta bantuan dibuatkan konsep surat.
“Wajahnya lusuh seperti lelah, dan sepertinya juga menahan emosi. Kemudian bos saya bilang kalau dia capek sekali dan dia sudah tidak sanggup memikirkan jawaban untuk koleganya di Itali,” ucapnya menggambarkan kondisi pimpinannya saat itu.

Permintaan itu bak sambaran petir di siang bolong. Belum lagi sempat menolak atau menerima permintaan tersebut, sang bigbos langsung bercerita dalam bahasa Indonesia soal konsep surat yang harus ditulis. Sementara sahabat saya ini harus menuliskannya kembali nanti dalam bahasa Inggris.

“Yang tadinya mata ngantuk, langsung mendadak melek beneran,” ujarnya.

Si bos pun bicara panjang lebar, dari A ke H, terus ke Z balik C, B, K, dan seterusnya. Otaknya pun seolah seketika berdansa di dalam rongga kepala, mencoba mencerna setiap kata yang sedang disampaikan pimpinannya itu.

“Sudah, sekarang kamu buatkan suratnya dalam Bahasa Inggris yang runtut,” ia menirukan perintah bosnya.

Melalui telepon seluler, sahabat saya ini pun saya bantu untuk mengaktifkan kembali kemampuannya berbahasa Inggris. Terlebih dahulu dia saya bimbing untuk melakukan relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Saya kemudian mengajak PBS-nya untuk berkomunikasi, sekaligus meminta agar kemampuan dalam menulis berbahasa Inggris diaktifkan kembali.

Setelah itu, saya bimbing untuk membuka matanya kembali, dan menulis surat berbahasa Inggris itu dengan tenang dan fokus.

Hasilnya memang dahsyat. Saat itu juga, PBS-nya langsung bekerja secara otomatis. Secara menakjubkan, PBS mampu mengingat setiap detil pembicaraan dan menerjemahkan dengan sangat teliti dan presisi.

“Bahkan cara kerja otak itu lebih cepat dari tanganku,” ujarnya. Tangannya tak mampu mengimbangi kecepatan PBS, sehingga beberapa kali hasil ketikannya mengalami kesalahan.

“Ketika selesai, aku print untuk aku serahkan ke pimpinan. Mungkin perlu ada koreksi atau tambahan sebelum aku kirimkan via e-mail. Tapi belum sempat print, telpon di mejaku bunyi. Suara pimpinanku terdengar lebih sumringah ketimbang tadi aku ketemu langsung,” katanya.

“Bahasa korespondensi kamu dalam Bahasa Inggris sangat bagus, lebih bagus dari dugaanku. Gaya bahasamu lebih bagus dari gayaku. Lain kali kamu sendiri yang susun, aku hanya buatkan draft dalam Bahasa Indonesia,” begitu dia menirukan reaksi bosnya.

Terbukti, cara kerja pikiran bawah sadar memang sangat dahsyat. Asalkan, Anda memang mampu membangkitkannya. Bagaimana menurut Anda?



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes