BREAKING NEWS

Wednesday, November 18, 2015

Dongkrak Rasa Aman dengan Kelembutan


Perkembangan anak bergantung pada setiap kata-kata dan kalimat yang disampaikan orang tuanya. Karena kata-kata merupakan kunci utama dari sebuah hubungan, apalagi jalinan kasih sayang antara anak dan orang tua. Kata-kata merupakan satu dari sekian jembatan, yang diperlukan sebagai penghubung perasaan.

Sahabat yang budiman, semakin santun dan lembut perasaan antara orang tua dengan anak, maka hal itu menandakan jembatan antara anak dan orang tua semakin pendek. Bahkan bisa dikatakan tanpa jembatan, karena sudah sangat dekat dan menyatu.

Lalu bagaimana dengan orang tua yang suka membentak, berbicara kasar, bahkan marah dan memaki-maki anak sendiri. Hal itu menunjukkan hubungan antara anak dan orang tua memang sangat jauh. Jembatan antara keduanya pun sangat jauh. Bisa dibayangkan, sulit berkomunikasi di antara jembatan yang cukup panjang. Harus berteriak agar masing-masing hati bisa mendengar.


Kedekatan emosional antara anak dan orang tua, dibangun dari keseharian yang terjalin melalui komunikasi dan interaksi yang intens. Semakin kurang berinteraksi, maka semakin jauh pula jalinan kasihnya.

Sahabat, dalam menyampaikan pesan cinta, kata-kata memang sangat berpengaruh. Kata-kata yang mengandung kasih sayang, pujian dan dorongan serta bimbingan positif, sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak.

Kata-kata yang mengandung kasih sayang ini ibarat hujan lembut dan menyirami jiwa yang sedang gersang. Dengan kata-kata yang mengandung perasaan mendalam, akan mempertebal rasa aman pada anak, dan anak pun merasa sangat berharga bagi kedua orang tuanya.

“Makanya belajar, jangan main melulu. Jadi jelek semua kan nilainya,” begitu kata salah satu orang tua ketika mendapati nilai anaknya yang jeblok.

Coba bandingkan dengan kalimat ini:

“Ayah/ibu tahu kamu sudah berusaha maksimal. Kamu pasti bisa berusaha lebih baik untuk mendapatkan nilai bagus. Kalau kamu belajar lebih giat pasti nanti ada peningkatan.”

Patut diingat, meski semua kata seolah cepat berlalu bila diucapkan, namun sejatinya tidak akan cepat terlupakan. Seorang anak akan terus merasakan dan mendapatkan manfaat dari kata-kata mengandung kasih sayang itu sepanjang hayatnya.

Anda sebagai orang tua, pasti masih ingat kata-kata orang tua, yang diucapkan dengan penuh kasih sayang. Walau itu diucapkan ketika Anda masih belia atau kanak-kanak, kata-kata itu terus menancap seumur hidup. Kata-kata yang dimaksud di sini tentu bukan “ayah/ibu cinta kamu” atau “ayah/ibu sayang kamu.” Namun ada makna tersirat dari setiap kata-kata yang disampaikan kepada si buah hati.  

Coba ingat ketika anak masih bayi, tentu belum memahami dan mengerti setiap apa yang disampaikan kedua orang tuanya. Namun, sang bayi dengan mudah bisa merasakan energi kasih sayang yang dipancarkan kedua orang tuanya serta lingkungan di sekelilingnya. Bayi sangat memahami tatapan yang ditujukan padanya. Tatapan lembut berarti kasih sayang yang menentramkan dirinya.

Patut pula diingat, saat masih kecil, anak juga belum memahami arti kata “ayah/ibu mencintaimu”. Anak hanya merasakan saja. Setiap pelukan, sentuhan, dan interaksi, adalah bentuk ekspresi kasih sayang yang membuat anak merasa aman, tenang dan damai.

Sebaliknya, kata-kata yang mengandung rasa cemas, amarah, frustasi dan stres dari orang tua kepada anak, akan mudah melukai harga diri anak, dan akan membuat anak merasa tidak mampu atau meragukan kemampuannya sendiri. Anak-anak akan meyakini setiap ucapan yang disampaikan kedua orang tuanya.   
Orang tua kadang merasa, marah adalah bentuk perhatian dan kepedulian. Padahal sejatinya, anak menangkap bahwa marah itu merupakan bentuk kecemasan orang tua terhadap anaknya sendiri. Sehingga anak akan merasa bahwa dirinya memang tidak mampu melakukan segala hal. Terbukti, tidak pernah ada pujian yang ia terima, kecuali hanya amarah dan amarah.

Terkadang, orang tua bermaksud bercanda dengan mem-bully anaknya, misalnya anak yang memiliki kekurangan fisik. Akibatnya, hal itu akan sangat melukai hati dan perasaan anak. Padahal, jika saja orang tuanya memahami dan kelebihannya yang lain yang kerap ditonjolkan, tentu anak akan merasa lebih berharga dan percaya diri.


Namun demikian, juga harus diingat bahwa kata-kata pujian juga bisa menjadi bumerang jika tidak tepat penggunaannya. Terlalu sering menyampaikan kalimat pujian yang tidak tepat, akan berdampak anak merasa dibohongi orang tuanya. Karena itu, berikan pujian hanya ketika anak-anak memang memerlukannya dan memang sudah sepatutnya mendapatkannya. (*) 

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes