Friday, November 20, 2015

Fisika Quantum dan Perilaku Anak






Saat orang tua konsultasi tentang perilaku anaknya, terkadang orang tua tersebut justru agak kesel. Kenapa? Karena saya justru lebih banyak ‘interogasi’ tentang orang tua tersebut.

“Yang bermasalah ini anak saya mas, kok malah saya banyak ditanya,” ujarnya protes. Untung protesnya tidak sampai ke tahap unjuk rasa, he he.

Inilah umumnya orang tua, enggan mengakui kesalahannya sendiri. Lebih mudah menyalahkan dan menimpakan persoalan kepada anak. Anak jelas tidak tahu jika dia disalahkan. Namun setiap kali para orang tua ngobrol dan diskusi, maka yang lumrah adalah menceritakan perilaku buruk anaknya masing-masing.


Pepatah mengatakan, menepuk air didulang, terpercik muka sendiri. Menyalahkan anak, sejatinya ya menyalahkan diri sendiri.

“Tapi memang mendidik anak zaman sekarang itu susah. Ngga sama dengan zaman dulu,” ujar salah satu orang tua.

Saya tentu sependapat dan setuju dengan kalimat itu. Dengan begitu, kalau sudah sepakat dan sependapat dengan argument tersebut, otomatis sebagai orang tua harus berbuat lebih ekstra di zaman sekarang, agar anak tetap terdidik dengan baik.

Itu pula yang saya alami. Meski sudah menguasai hypnotherapy for children secara teori dan praktik, tetap harus ekstra sabar dan ekstra ketat, ketika harus menerapkannya kepada anak-anak di rumah. Namun poinnya adalah perlu kerja sama yang kompak antara kedua orang tua, serta siapa saja yang terlibat dalam pengasuhan anak tersebut.

Lantas kenapa ketika anak bermasalah, saya justru lebih banyak bertanya soal orang tuanya? Ini ada kaitannya dengan sinyal atau energi yang menjadi penghubung antara anak dan orang tua. Hipnoterapis sekaligus penemu metode diet Quantum Slimming, Kristin Liu CCH pernah membuktikan, ketika orang tua tenang, maka anak ikut tenang. Sebaliknya ketika orang tua cemas, anak pun juga cemas.

Hal itu terjadi ketika Kristin melakukan terapi pada anak yang dianggap punya kecemasan sangat tinggi. Sebelum anak dilakukan terapi, kedua orang tuanya menjalani sesi konsultasi. Terungkap bahwa kedua orang tuanya justru yang bermasalah dan memiliki kecemasan tinggi. Ruang terapi Kristin terdapat kaca satu arah, yang bisa melihat ke arah ruang tunggu. Namun  orang di ruang tunggu tidak bisa melihat ke dalam.

Kedua orang tua ini pun dibimbing untuk bersikap tenang. Hasilnya, anak yang di ruang tunggu juga berperilaku tenang. Namun ketika kedua orang tua di dalam ruang terapi mulai cemas dan saling tegang karena adu argumen, maka anak yang menunggu di luar pun kembali terlihat cemas.

Sahabat, energi orang tua akan diserap langsung oleh anak. Ketika orang tua merasakan kecemasan dan kekhawatiran luar biasa, maka anak pun akan merasakan hal yang sama. Itulah kenapa keluarga yang rukun dan damai, penghuninya juga jauh merasa lebih tenang dan bahagia. Sebaliknya, jika rumah tangga selalu ribut dan suka berselisih, maka anak pun akan merasa ‘panas’ dan tidak nyaman tinggal di rumah tersebut. Aura di dalam rumah yang negatif, tentu akan membuat penghuninya juga negatif.

Lebih jelas, dalam fisika quantum, partikel-partikel yang entangle alias terkorelasi, akan memiliki hubungan yang kuat antara satu partikel dengan partikel lainnya. Riset terbaru, orang sudah bisa membuat 3 ribu partikel terkorelasi. Hasilnya, ketika sifat satu partikel diubah, maka 2.999 partikel lain secara serentak SEKETIKA juga berubah sifatnya.

Inilah penjelasan ilmiah, kenapa ketika orang tua yang sabar dan tulus menyayangi anaknya, maka anak juga berperilaku lebih baik. Sebaliknya, ketika orang tua mendidik dengan cara yang sangat tegas tanpa toleransi, maka juga akan terbentuk anak yang keras pula karakternya.

Penelitian ilmiah ini sekaligus menjelaskan, betapa jalinan kasih antara orang tua dan anak sejatinya tidak bisa dibatasi ruang dan waktu. Saat orang tua rindu dengan anaknya yang sedang di perantauan, seketika anak juga akan merasakan hal yang sama. Padahal keduanya terpaut jarak cukup jauh.

Penjelasan ini setidaknya bisa menjadi tumpuan penting. Ketika ingin mengubah perilaku anak agar lebih baik, maka sebagai orang tua, ada baiknya lebih dulu berbuat lebih baik. Bukankah keteladanan jauh lebih utama ketimbang perintah dan arahan. Jangan harap anak bisa tenang dan sabar, ketika orang tuanya di kehidupan sehari-hari mudah marah dan emosi.

Bagaimana mungkin anak disuruh rajin belajar, sementara orang tuanya tidak pernah memperlihatkan aktivitas membaca buku atau sekadar membaca koran atau majalah. Pendek kata, utamakan keteladanan. Dengan keteladanan, tumbuh kembang anak jelas akan lebih maksimal dan sangat berguna untuk masa depan. Bagaimana menurut Anda?   

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...