Sunday, November 22, 2015

Harus Ada ‘Kontrak Politik’ Sebelum Hipnoterapi


Bagi yang belum pernah tahu manfaat dari hipnoterapi, tentu masih meraba-raba dan penasaran, seperti apa cara kerja dari metode terapi komplimenter ini? Apalagi banyaknya tayangan hipnotis di televisi, menjadikan sebagian orang ‘parno’ begitu mendengar kata hipnoterapi.

“Saya takut kaya yang di TV-TV itu. Nanti terungkap semua rahasia yang penting-penting. Nanti semua rahasia muncul,” begitu kata salah satu kawan saat ingin mencoba sesi hipnoterapi.

Edukasi tentang hipnoterapi adalah bagian penting yang juga harus terus-menerus dilakukan. Dampak tayangan di televisi yang ‘minor’ mengenai hipnoterapi memang cukup berpengaruh. Setidaknya perlu waktu hingga 1 jam, untuk edukasi hipnoterapi yang sesungguhnya. Proses edukasi ini menyangkut cara kerja, dan alur yang akan dilalui setiap orang saat menjalani sesi ini. Umumnya, setelah proses edukasi tuntas, barulah klien yakin dan percaya dan akhirnya bersedia menjalani proses perubahan seperti yang diharapkan.

Dalam sesi hipnoterapi, semua bergantung pada klien. Saat proses komunikasi dengan pikiran bawah sadar, klien tetap memegang kendali penuh atas pikiran bawah sadarnya sendiri. Selain itu hipnoterapis lulusan Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, termasuk saya, dibekali kode etik yang mengikat. Jika saya melanggar kode etik ini, izin praktik saya bisa dicabut oleh lembaga dan saya akan di-black list. Sanksi yang jelas tidak main-main dan harus ditaati.

Karena itu, sejak awal, harus ada ‘kontrak politik’ antara saya dengan klien. Sebagai contoh, ketika klien datang dan meminta bantuan untuk mengatasi masalah diet, maka saya hanya fokus untuk mengatasi masalah ini.

Jika kemudian saat sesi hipnoterapi saya menyimpang dan bertanya soal lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah diet, maka saya masuk kategori melanggar kode etik, dan bisa dilaporkan ke lembaga melalui www.adiwgunawan.com.

Kemarin, ada pula calon klien yang mengatakan, sudah pernah mencoba sesi hipnoterapi dengan hipnoterapis lulusan lembaga lain. “Saya ngga bisa masuk-masuk. Dua jam saya ikuti perintahnya, ngga juga masuk-masuk. Akhirnya ya cuma ngobrol biasa,” katanya.

Saya tentu tidak berani mengklaim bahwa hipnoterapis lulusan Adi W. Gunawan Institute adalah yang terbaik di Indonesia. Namun, dari bukti yang ada, alumni lembaga ini sudah melakukan lebih dari 100.000 kali terapi dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Kenapa keberhasilannya cukup tinggi, karena protokol yang disusun lembaga ini sudah melalui riset yang sangat mendalam serta sudah terbukti dan teruji secara klinis. Karena itu, teknik yang digunakan untuk membimbing klien mengalami relaksasi yang dalam dan menyenangkan, sangat ampuh.

Rata-rata saya hanya memerlukan waktu 15 menit untuk membimbing klien mengalami relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Tentu sebelumnya didahului dengan edukasi serta dukungan penuh dari klien. Berikutnya, lamanya proses terapi bergantung dari berat tidaknya kasus yang diatasi. Jika akar masalah yang menjadi penyebab cukup kompleks, maka perlu waktu lebih lama untuk mengurai satu demi satu.

Terkadang, ada satu masalah yang disebabkan oleh banyak akar masalah. Sebaliknya, ada banyak masalah, yang sumbernya hanya satu akar saja. Semua hanya bisa diketahui dari proses hipnoanalisis, dan berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar.

Saat saya memberi seminar mahasiswa salah satu kampus yang ada di Samarinda, mereka juga bertanya tentang hipno stage alias hipnosis yang sering dijadikan bahan pertunjukan. Dengan tegas saya mengatakan, saya juga mampu melakukan apa yang dilakukan oleh pemain hipno stage. Namun itu akan sangat merugikan bagi saya pribadi. Rugi kenapa? Nanti tidak ada yang mau diterapi oleh saya, karena klien akan takut duluan.

Meski demikian, sesekali saya tetap perlihatkan beberapa teknik yang sudah terbukti dan teruji, misalnya untuk mengatasi fobia. Hanya dalam waktu 15 menit, fobia yang dialami peserta seminar bisa dihilangkan. Bahkan pernah ada salah satu mahasiswa ‘menantang’ dan mengatakan dia tidak pernah bisa dihipnosis.

Mahasiswa ini saya minta ke depan, dan hanya dengan satu hentakan di tangan, terbukti mahasiswa ini bablas dan masuk kondisi trance. Persoalannya adalah, setelah mahasiswa ini dalam kondisi trance, selanjutnya mau diapakan? Klien seperti inilah yang umumnya jadi subjek hiburan. Disuruh melakukan ini dan itu, kemudian menjadi bahan tertawaan. 

Saya tidak akan pernah mau melakukan itu. Karena sama saja merendahkan harkat dan martabat orang lain di depan umum. Biasanya, jika ada mahasiswa yang menantang seperti ini dan sudah dalam kondisi trance, maka saya berikan sugesti yang positif, dan akhirnya dia kembali bangun dengan tubuh segar dan sehat sempurna dengan pandangan mata terang.

Bagaimana menurut Anda?   


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...