HYPNO NEWS

Friday, November 20, 2015

Ingin Impian Terwujud? Hargai Orang Lain


Di antara sesama hipnoterapis lulusan Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, ada salah satu orang yang selalu memandang rendah orang lain. Dia adalah Kristin Liu, CCH, hipnoterapis sekaligus penulis buku dan penemu metode diet Quantum Slimming. Akan tetapi jangan salah paham. Memandang rendah yang saya maksud di sini adalah dalam arti yang sesungguhnya. Postur tubuh beliau sangat tinggi alias jangkung dan langsing. Sehingga dia memang selalu memandang orang lain lebih rendah alias lebih pendek. Mohon maaf ya bu Kristin, ini hanya sekadar bercanda dan intermeso.

Sahabat. Di sekeliling kita, terkadang ada hal yang sangat mengganggu. Apa itu? Ya pandangan orang lain. “Kenapa ya orang selalu memandang status sosial lebih dulu. Saya yang karyawan biasa dan ngga punya jabatan apa-apa, terkadang disepelekan orang,” begitu ungkap salah satu sahabat dengan kesal.




Yang menyakitkan, pandangan remeh itu justru datang dari teman sendiri. Suatu ketika, ada sahabat bercerita soal teman sekolahnya yang sudah sukses. Sahabat saya ini, juga bekerja di perusahaan yang sama dengan teman sekolahnya itu. Bedanya, sahabat saya ini hanya sebagai sopir. Sementara temannya menduduki jabatan sekelas manajer.

“Sehari-hari, saya yang kadang mengantarkan teman saya itu kalau mau ke mana-mana,” ujarnya. Lalu di mana letak masalahnya? “Saya sih ngga masalah, memang kerjaan saya cuma sopir. Yang bikin jengkel, teman saya ini seperti ngga mau dan ngga rela kalau saya panggil namanya. Dia baru mau noleh kalau dipanggil ‘PAK’,” ujarnya.

Padahal, sahabat saya melanjutkan, selama di sekolah ya cukup kenal akrab. Sehingga dia merasa wajar jika cukup memanggil nama. Apalagi faktanya mereka berdua sudah saling kenal dan sudah berteman cukup lama.

Jabatan, memang terkadang membutakan segalanya. Kenapa ada orang yang merasa direndahkan? Karena memang ada orang yang lebih suka berapa dalam posisi lebih tinggi atau ingin dianggap lebih mumpuni. Padahal sejatinya, saat memandang rendah orang lain, maka energinya akan kembali kepada diri sendiri. Yakni orang lain akan memandang rendah dirinya.

Dalam kasus sahabat saya tadi, coba seandainya sang manajer justru sangat akrab dengan temannya, meski hanya sebatas sopir, tentu membuat hubungan kerja lebih nyaman. Selain itu, sahabat saya yang berprofesi sebagai sopir, tentu akan lebih hormat dengan temannya itu. Tapi kini yang terjadi sebaliknya, sahabat saya yang sopir tadi, menjadi kurang respek dengan atasan sekaligus temannya sendiri.

Suatu ketika, saya bersiap memarkirkan mobil di sebuah pusat perbelanjaan di Samarinda. Ternyata, saya merasa tidak asing dengan petugas parkir yang membantu mengarahkan kendaraan yang saya tumpangi. Meski tidak akrab, saya mengenali petugas parkir ini. Dia adalah teman saya satu sekolah.

Segera saya turun dan saya hampiri. Dia merasa terkejut, apalagi kami memang sudah belasan tahun tidak pernah bertemu. Sempat beberapa menit saya luangkan waktu berbincang dengannya. Bertanya kabar keluarganya sekaligus bertanya soal teman lain, yang mungkin pernah ia ketahui keberadaannya.

“Itulah Ndro. Aku sering lihat ada teman kita satu sekolah yang jalan-jalan ke mal ini. Aku yakin, mereka itu kenal dan tahu sama aku. Wajahku kan ngga berubah sama sekali. Tapi mereka cuek aja. Aku kan malu kalau mau negur duluan,” ujarnya.

“Ya mungkin mereka lupa. Sudah, santai aja. Kenapa harus malu? Kamu kan ngga ngapa-ngapain?” kata saya memberikan semangat. Dulu yang awalnya saya kurang akrab ketika di sekolah, kini pun jadi lebih akrab. Yang lebih enak lagi, sahabat saya ini pasti akan membantu mencarikan tempat parkir, jika kondisi mal sedang padat.

Tentu saya tidak bermaksud memanfaatkan keberadaan dia. Yang ingin saya sampaikan adalah, tidak pernah ada ruginya berteman dengan siapa pun. Karena Anda tidak akan pernah tahu, kapan Anda membutuhkan jasa mereka.  

Sebagai makhuk sosial, hidup kita sangat bergantung dengan orang lain. Saya pun sebagai wartawan atau hipnoterapis, tak akan berguna tanpa orang lain. Karena itu, mari buka hati dan buka diri. Bersikap rendah hati tak akan merendahkan diri Anda sendiri. Sebaliknya, semakin rendah hati, maka energi yang ada di dalam diri akan semakin meningkat tajam.

Sahabat, seorang peneliti David R Hawkins MD PhD dalam bukunya Power vs Force membeberkan bagaimana hubungan energi seseorang dengan level kesadaran setiap individu. Orang yang memiliki sifat suka merendahkan orang lain diiringi dengan sikap bangga pada dirinya sendiri serta sombong, energinya hanya 10 pangkat 175. Bandingkan dengan orang yang mengutamakan perasaan cinta kasih terhadap sesama, memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap orang lain, energinya sebesar 10 pangkat 500.

Hasil penelitian David adalah penjelasan ilmiah, kenapa orang yang punya toleransi tinggi, cenderung memiliki aura yang sangat kuat dan sangat disegani. Bisa dibayangkan, betapa besar energi yang dimiliki seorang Rasulullah SAW, yang bahkan mau memaafkan orang yang menghinanya. Levelnya menurut David di posisi paling tinggi, yakni pencerahan dengan energi 10 pangkat 1.000 bahkan tak terhingga.

Karena itu, jika sahabat ingin memiliki energi yang lebih tinggi, mari menghormati dan menghargai orang lain. Dengan bekal energi yang berlimpah inilah yang nanti bisa lebih mudah digunakan untuk meraih semua impian dan cita-cita yang diharapkan. Semoga bermanfaat. (*)


Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes