HYPNO NEWS

Sunday, November 29, 2015

Ingin Naikkan Target, Ini Caranya

Pagi itu, saat hujan sedang riang membasahi setiap jengkal tanah Kota Tepian, seorang sahabat menghubungi saya. Dia tertarik menghubungi saya setelah membaca salah satu artikel yang dimuat di Kaltim Post terkait dengan lintah energi yang bisa membuat bisnis lesu.

Sahabat saya ini seorang pengusaha, suplier barang yang cukup langka. Di Kaltim ini, tercatat tak lebih dari 5 pengusaha yang menjadi suplier barang sejenis. Saya tak akan menyebutkan barang yang dimaksud karena menyangkut kerahasiaan klien. Namun kisah ini sudah mendapat izin dari sahabat saya untuk menjadi bahan pembelajaran bersama.

Singkat cerita, sahabat saya ini banyak mempunyai rekanan yang sangat loyal. Bisnisnya pun sangat sukses dan maju pesat. Dibanding suplier lainnya, dia lah yang terbaik. Branding yang cukup kuat membuat bisnis yang dijalankan seolah sebagai pemain tunggal tanpa pesaing.

Meski beberapa kali pesaingnya berupaya untuk merebut 'kue' bisnisnya, namun dengan lihai sahabat saya ini tetap tak terkalahkan. Namun entah kenapa, energi positif dari optimisme yang sangat luar biasa itu, tiba-tiba jebol dan hancur berantakan.


Kenapa? Karena diam diam ada energi negatif yang awalnya sangat kecil tiba-tiba menggelinding hebat dan menjadi bola salju yang sangat besar. Apa itu? Energi yang dimaksud adalah SERAKAH.

Rupanya, bagian diri sahabat saya yang bijaksana, sebenarnya sudah lama memberikan peringatan, agar tidak terlena dan serakah. Bukti keserakahan itu adalah, sahabat ini sempat menaikkan harga barang suka-suka hati. Sebagai kompensasi, dia memang selalu memberi reward kepada koleganya yang menyetujui setiap kenaikan harga yang ia tawarkan.

Meski sangat dekat dengan relasi, hubungan bisnis tetap harus dijalin dengan perasaan nyaman. Sebab hubungan sebaik apa pun tetap ada batasan dan tatanannya. Justru sifat serakah ini yang merusak.
Andai rencana kenaikan harga itu didiskusikan dulu dengan relasi, jelas tidak bermasalah.

“Memang ada di dalam hati yang mengingatkan. Jangan terus naikkan harga,” kata sahabat saya ini menirukan apa yang terbersit di hatinya. Itulah cara Sang Bijaksana memberikan peringatan.

Namun rupanya, bagian diri sahabat saya yang SERAKAH, enggan mendengarkan peringatan dari sang bijaksana. Akibatnya, ada konflik internal yang berlangsung. Kali ini, Sang Bijaksana tak mau tunduk begitu saja.

Rupanya, Sang Bijaksana langsung melakukan blok dan melakukan sabotase besar-besaran. Akhirnya omzet bisnis menurun drastis. Bahkan tahun ini terancam tidak bisa membagikan bonus akhir tahun untuk karyawannya, sebagaimana tradisi yang sudah ia lakukan bertahun-tahun sebelumnya.
Alih-alih ingin menaikkan omzet dengan menaikkan harga, nyatanya pendapatannya langsung terjun bebas. Efisiensi pun dilakukan dengan luar biasa.   

Sahabat saya memang belum mau menjalani sesi hipnoterapi. Dia merasa sementara cukup untuk konsultasi saja. Satu hal yang saya ingatkan kepada dia adalah, menaikkan pendapatan bukanlah hal yang salah.
Namun kali ini disarankan, setiap ingin menaikkan target, sebaiknya melakukan konfirmasi dulu ke pikiran bawah sadar. Jika pikiran bawah sadar menerima, maka jalankan. Jika tidak, bisa dinegosiasi atau targetnya yang diturunkan.  

Sebab, menaikkan target pendapatan juga harus dilakukan dengan perasaan nyaman. Ambisi boleh, asal tidak ambisius. Sebab, ambisi masih nyaman, sementara ambisius cenderung sangat tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman inilah yang bisa menghambat bisnis yang sedang dilakoni.

Bagaimana menurut Anda?   



Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes