Monday, November 23, 2015

Mendamaikan Pikiran Bawah Sadar dengan Orang Tua


Saat bapak tutup usia, praktis hubungan dengan ibu menjadi renggang. Penyebabnya bukan karena disengaja, melainkan karena keadaan. Sebagai single parent, ibu harus berusaha meneruskan biduk rumah tangga hanya dengan satu mesin saja.

Meski seorang wanita, ibu terus melanjutkan usaha yang ditinggalkan bapak. Membuka kios kaki lima dan juga bengkel tambal ban. Saya kerap ikut membantu menambal ban. Pelajaran hidup dari bapak membuat saya mampu melakukan pekerjaan orang dewasa ini.

Pernah suatu kali, saya kena marah besar. Ketika saya sedang menambal ban mobil, saya kurang teliti. Ban dalam mobil yang sedang saya tambal itu, justru kena api. Itu membuat lubang baru yang lebih besar. Walhasil, ibu harus keluar uang lebih banyak untuk mengganti ban dalam mobil tersebut. Hari itu saya terpaksa hanya bisa makan nasi sama garam. Bukan karena hukuman, melainkan semua penghasilan hari itu, habis dipakai untuk membeli ban dalam mobil tadi.


Menyambung hidup di pinggir Jalan Raya Kupang Baru Surabaya ini semakin sulit. Ibu merasakan tekanan yang semakin berat. Hal inilah yang menyebabkan ibu nekat, merantau ke Jakarta. Kios kaki lima, termasuk mesin kompresor sebagai satu-satunya harta peninggalan bapak, dijual sebagai bekal merantau ke ibu kota negara.

Selama ibu merantau ke Jakarta itulah, saya terpaksa tinggal di rumah sendirian, karena harus tetap bersekolah. Hingga akhirnya saya pun ikut memutuskan ke Jakarta, membantu ibu yang bekerja di sebuah industri kecil pembuatan tas  di kawasan Pademangan Jakarta Utara.

Hanya tiga tahun di Jakarta, hingga lulus SMP, saya akhirnya merantau ke Berau – Kalimantan Timur. Ajakan pakde membuat saya mencoba memberanikan diri menembus belantara Kalimantan yang konon dikenal hanya berisi hutan. Nyatanya dugaan itu salah besar. Sebab Kalimantan memang terbukti sebagai daerah masa depan bagi bangsa ini. Namun, entah kapan masa depan itu datang.

Selama merantau di Kalimantan ini lah membuat kedekatan seorang ibu dan anak mulai memudar. Ketika itu, jelas tidak ada telepon seluler. Kalau pun ada cara komunikasi yang cepat hanya telegram. Itu pun hanya bisa menulis bahasa yang singkat padat dan jelas. Berkirim surat pun jarang, karena saya sibuk bekerja di sebuah warung makan. Nyaris tak ada waktu untuk sekadar menulis surat. Pulang dari warung, badan sudah lelah dan mata langsung terpejam. Pagi hari, sebelum azan berkumandang, sudah harus bangun lagi memasak di dapur. Sebuah rutinitas yang cukup melelahkan.

Sebenarnya, di kantor Telkom Berau, tersedia warung telekomunikasi alias wartel. Namun, untuk bisa menelpon, harus antre cukup lama. Pagi-pagi sekali, harus mendaftarkan nama terlebih dahulu. Sebuah buku panjang, seperti daftar absen waktu di sekolah, sudah penuh berisi nama orang lain. Saya ternyata masuk ke urutan 39.

Begitu selepas maghrib, suasana di wartel sudah sangat padat. Sebanyak 6 kamar bicara umum sudah terisi. Sementara di ruang tunggu juga sudah padat. Ruangan 8 x 6 meter tak mampu menampung semua calon penelpon di ruang tunggu tak sedikit yang harus menunggu di pelataran hingga di tempat parkir.

Setelah antre selama 3 jam, akhirnya saya mendapat giliran untuk masuk kamar bicara umum. Nomor yang saya hubungi adalah rumah pemilik usaha industri tas, tempat ibu bekerja. Dasar apes, dering suara telpon di ujung sana tak kunjung diangkat. Rupanya sang penghuni rumah sudah lelap semua. Jadilah waktu menunggu berjam-jam sia-sia. Harapan untuk sekadar bertegur sapa dengan ibu pun sirna.

Kondisi itulah yang menyebabkan saya menjadi semakin jauh dengan ibu. Saya yakin, tidak ada ibu yang tidak sayang dengan anaknya. Di balik fisik yang saling berjauhan, ibu selalu mendoakan diri saya. Terbukti, saya tak pernah mengalami sesuatu yang membahayakan. Meski harus bekerja di warung, bekerja serabutan sebagai penagih arisan, hingga sesekali bekerja sebagai kuli harian, tetap saya lakoni dengan nyaman.

Sampai akhirnya saya bekerja di Kaltim Post, saya kerap mendapat kesemp atan pulang ke Surabaya. Saat itu, ibu akhirnya memutuskan meninggalkan Jakarta, karena ingin merawat ketiga keponakannya yang yatim piatu. Walau rumah peninggalan bapak yang sebelumnya sempat terjual, alhamdulillah saya bisa menggantinya dengan rumah sederhana di kawasan Pakal – Benowo Surabaya.

Ibu memilih rumah di kawasan ini, karena banyak yang dia kenal. Suasananya juga dianggap nyaman. Ibu enggan dibelikan rumah di kawasan perumahan, karena lebih ingin bersosialisasi. Terbukti, di kawasan Pakal, ibu memang aktif mengikuti kegiatan pengajian, juga aktif mengikuti kegiatan ibu-ibu Lansia di kelurahan.

Jujur, saya merasa ada yang aneh setiap kali bertemu ibu di Surabaya. Sepertinya, saya belum berdamai dengan ibu. Setelah bertahun-tahun hidup terpisah dengan ibu, membuat jalinan emosi menjadi kurang kuat.

Beruntung, saya sempat mengikuti workshop Quantum Life Transformation (QLT) di Prigen – Pasuruan – Jawa Timur. Workshop dengan nara sumber pakar teknologi pikiran Adi W. Gunawan ini, benar-benar membuka mata saya, bahwa di dalam diri saya masih banyak mental blok yang perlu dibereskan. Hambatan perasaan yang tidak nyaman dengan ibu, adalah salah satunya.

Saya jelas tidak mau kualat dengan orang tua. Namun namanya perasaan, tentu tidak bisa dipaksakan. Kenapa pikiran bawah sadar menciptakan perasaan tidak nyaman dengan ibu sendiri? Ya pikiran bawah sadar beranggapan, karena tidak pernah mendapat ucapan sayang, termasuk sentuhan dan belaian, sehingga pikiran bawah sadar menganggap ibu tidak sayang dengan saya. 

Itulah yang kemudian membuat pikiran bawah sadar melakukan sabotase perasaan diri saya kepada ibu sendiri. Pikiran bawah sadar memang tidak salah, karena dia lugu dan tidak memahami apakah yang ia lakukan benar atau salah. Sebab bagi pikiran bawah sadar, namanya ibu ya harus sayang anak. Kalau sayang ya sering dibelai, dipeluk, dicium, dan berbagai interaksi lainnya. Begitu interaksi itu tidak ada, maka program sayang terhadap ibu langsung disingkirkan.

Dengan teknik yang diajarkan di workshop tersebut, akhirnya pikiran bawah sadar saya mau menerima dan bersedia untuk berdamai dengan ibu. Apalagi, terganggunya hubungan ibu dan anak ini bukan karena disengaja, melainkan karena kondisi dan keadaan yang terpaksa.

Sepulang dari Pasuruan, saya pun mampir ke Surabaya. Begitu sampai di depan pintu rumah ibu, wanita yang dulu mengandungku itu sudah menyambut dengan senyum lebar. Inilah kali pertama saya memeluknya dengan hangat. Pelukan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Betapa selama ini saya sudah membuat ibu sedih, karena dia pasti merasa, anaknya tidak dekat dengannya karena keadaan.

Perasaan damai itu membuat energi saya benar-benar melimpah. Perasaan nyaman dan tenang terasa dari ubun-ubun sampai ke ujung jari kaki dan menyebar ke seluruh tubuh. Sejak saat itu, hubungan dengan ibu akhirnya bisa semakin dekat dan nyaman. Saya pun bisa terus menggapai impian dengan lebih mudah dan nyaman. Bukankah ibu adalah keramat terbaik di dunia? Beruntung saya masih memilikinya. Terima kasih ibuku. Saya sungguh sayang sama ibu. (*)

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...