HYPNO NEWS

Thursday, November 19, 2015

Papa Minta Saham

sumber: internet
Belakangan muncul istilah baru yang cukup populer, “papa minta saham”, 
sebagai pengganti istilah “mama minta pulsa”. Apalagi kalau bukan kasus politisi yang meminta saham kosong kepada perusahaan besar, demi masa depan dia sendiri.

Persoalan “papa minta saham” ini pun sempat menjadi perbincangan hangat kalangan hipnoterapis dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan termasuk dari Australia dan Timor Leste. Tentu yang saya maksud di sini bukan diperbincangkan pada forum resmi, melainkan via dunia maya, melalui aplikasi WhatsApp. Dengan aplikasi ini, obrolan bisa dilakukan dengan leluasa, tanpa harus bertemu secara fisik.

“Para pelaku korupsi, umumnya dulu pernah menjadi aktivis mahasiswa. Mereka bahkan pernah hidup susah, hingga ada yang tidur di tempat ibadah hanya untuk menyambung hidup,” begitu bunyi obrolan yang coba dipancing salah satu rekan hipnoterapis.

Diskusi pun terus mengalir dengan nyaman. Karena semua peserta diskusi memiliki pemahaman yang sama tentang teknologi pikiran, diskusi menjadi fokus, tidak bias dan sangat terarah.
Salah satu kesimpulan yang muncul dalam diskusi di ruang maya itu adalah, di setiap diri para koruptor itu, muncul bagian diri yang baru, sesaat setelah mendapat amanah menjadi pejabat.

“Dulu dia ngga begitu kok.” “Dulu dia hidup sederhana lho…” dan berbagai ungkapan lain membuktikan, ada yang berubah pada diri para koruptor. Tumbuhnya bagian diri yang baru ini, terkadang tidak disadari oleh koruptor itu sendiri. Jangankan teman atau koleganya, anak dan istrinya pun belum tentu menyadari tumbuhnya bagian diri yang baru ini. Sebab jangan-jangan, anak dan istri koruptor ini pun juga mengalami hal yang sama, ada bagian diri baru yang tumbuh, yakni bagian diri yang suka akan kekayaan dan hidup dalam kemewahan.

Namun demikian, di tengah-tengah diskusi, guru kami Adi W. Gunawan pun menambahkan, bahwa bisa juga terjadi sudah ada bagian diri yang serakah dlm diri individu koruptor. Namun bagian diri itu belum bertumbuh karena belum mendapat kesempatan. Begitu sudah ada kesempatan, maka tumbuhlah bagian diri itu dengan sempurna.

“Uang, jabatan, atau kekuasaan tidak pernah mengubah seseorang. Namun uang, jabatan, atau kekuasaan itu mampu mengungkap karakter asli seseorang yang selama ini disembunyikan rapi,” sebut sang guru Adi W. Gunawan.

“Ujian dalam bentuk kesusahan, ini mudah diatasi. Ujian dalam bentuk kenikmatan yang lebih sulit diatasi dan sering membuat seseorang jatuh. Dengan kata lain, waktu susah manusia biasanya ingat Tuhan. Waktu senang... umumnya lupa sama Tuhan,” tambah Adi W. Gunawan kemudian.

"Mengungkap karakter asli "sejalan dengan suatu kaidah dalam dunia silat, bahwa ujian bukanlah pada saat kita susah namun saat kita di zona nyaman,” demikian tambah dokter I Ngurah Putra, rekan asal Bali yang merupakan cicit dari pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai.

Masih ingatkah ketika petinggi partai berlambang mercy terkena kasus korupsi? Seketika banyak pendukung yang membela mati-matian koruptor ini, karena pembela ini yakin petinggi partai adalah orang baik dan tidak korupsi. Lagi-lagi, dalam pemahaman saya sebagai praktisi teknologi pikiran, dulu petinggi partai ini bisa saja memang baik. Namun seiring waktu, sangat mungkin ada bagian diri lain yang muncul di dalam dirinya. Ini sekaligus menjelaskan, kenapa orang bisa berubah. Ya, orang bisa berubah kapan saja. Begitu ada bagian diri yang tumbuh dan aktif secara terus-menerus, maka perubahan itu akan terjadi pada diri seseorang.

Sebagai contoh, diri saya sendiri. Dulu yang sangat aktif adalah bagian diri saya yang menjalani profesi wartawan. Namun saat ini, ada bagian diri saya lainnya yang juga cukup aktif, yakni bagian diri sebagai praktisi teknologi pikiran dan hipnoterapis. Dulu, bagian ini belum ada. Namun seiring waktu, bagian diri ini sudah sangat aktif dan memiliki kepedulian untuk membantu mengatasi masalah orang lain.

Namun, bagian diri yang pandai menulis, tetap saya perintahkan untuk selalu bekerja sama dengan bagian diri yang hipnoterapis. Itu sebabnya, dengan mudah saya bisa menuliskan setiap kasus yang saya tangani, dengan bahasa yang sebisa mungkin dipahami oleh semua kalangan. Termasuk dipahami mereka yang awam sekalipun dengan dunia hipnoterapi.

Saat mengatasi masalah klien dengan teknik hipnoterapi, saya juga sering berurusan dengan bagian diri klien yang berbeda-beda. Inilah yang disebut ego personality (EP). Penjelasan mengenai bagian diri atau EP ini, seperti digambarkan dalam film animasi, Inside Out.

Kembali ke soal pelaku yang diduga minta saham Freeport misalnya, dahulu dikenal sebagai seorang pengusaha ulet, bahkan sejak mahasiswa harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Namun semenjak mengenal dunia politik, ada bagian diri yang baru tumbuh, yakni bagian diri yang suka dengan harta. Berbagai dugaan kasus korupsi pun sempat menyeret nama politisi ini.

Akan tetapi, harus diingat. Pada diri setiap orang, termasuk para koruptor, tetap ada bagian diri yang bijaksana. Bagian diri ini sebenarnya selalu berperan dan mengingatkan sang leader atau diri seseorang yang aktif, untuk tetap menjadi orang baik. Namun sering kali sang bijaksana ini kalah kuat dibandingkan bagian diri yang angkuh dan sudah dibutakan oleh kebutuhan akan harta berlimpah.

Tentu, sang bijaksana tidak akan tinggal diam. Itulah yang kemudian memunculkan pepatah, “sepandai-pandainya monyet melompat, suatu saat akan terjungkal juga”. Maksudnya apa? Sang bijaksana punya cara tersendiri untuk menghentikan perbuatan sang leader yang sudah kelewat batas. Sebab, setiap bagian diri sudah ada porsinya masing-masing. Segala sesuatu yang berlebihan, pasti akan diblok oleh diri sendiri.

Meski bagian diri yang terlena oleh harta tak mau mendengar sang bijaksana, sejatinya sang bijaksana juga tidak akan berhenti melakukan sabotase pada ‘musuhnya’. Itulah yang kemudian menyebabkan kenapa pada kejadian tertentu, sang koruptor dengan mudah melakukan kesalahan, sehingga aksinya bisa diketahui penegak hukum. Itu adalah cara kerja sang bijaksana untuk menghentikan konflik internal sang koruptor. Konflik antara sang bijaksana dengan sang penggila harta.

“Sebenarnya di DPR itu banyak yang stres. Seandainya boleh buka praktik di gedung DPR, pasti banyak yang minta di-hipnoterapi,” kata sejawat asal Jakarta.

Lantas para wakil rakyat itu dihipnoterapi seperti apa? “Bagian diri mereka yang konflik. Antara yang bijaksana dengan yang gila harta, didamaikan dulu. Terbayang kan, kalau sudah wakil rakyat sudah baik semua, rakyat pasti sejahtera. Inilah revolusi mental yang sesungguhnya,” kata sahabat yang akrab dipanggil sebagai Suhu Jimmy ini.

Kawan yang lain juga mengakui, tak semua wakil rakyat memiliki bagian diri yang suka korup. Tetap ada saja wakil rakyat yang memiliki bagian diri selalu berbuat baik. “Tetapi memang umumnya hanyut dan berpotensi menumbuhkan bagian diri baru yang suka korupsi,” timpal yang lain

Namun perlu diingat, melakukan hipnoterapi terhadap bagian diri yang korup memang tidak mudah. Sebab bagian diri yang aktif sudah terlanjur sombong dan sangat percaya diri. Kerendahan hati yang ada seketika kalah dengan kenyataan mudahnya mendapatkan uang miliaran rupiah.
Bagian diri yang korup ini pun biasanya di-back up oleh bagian diri lain yang juga ikut muncul, yakni bagian diri yang angkuh dan bagian diri yang meremehkan orang lain. Sehingga dia merasa semua bisa diatur dan dibeli dengan uang.

“Tapi coba kalau kita bisa komunikasi dan bertanya kepada sang bijaksana yang ada di dalam diri politisi itu, umumnya tidak bahagia dan banyak penyakit berat bersarang di tubuhnya. Mau bukti? Setelah ditetapkan sebagai tersangka, pasti langsung sakit,” ujar kawan lainnya.

Di bagian akhir diskusi, para hipnoterapis berbasis teknologi pikiran ini pun saling mengingatkan untuk menjaga bagian diri yang ada, agar tetap menjaga perasaan kasih sayang berlimpah. Selalu mengajak sang leader untuk mengutamakan bagian diri yang mau beranjangsana ke semua kalangan tanpa melihat status, mau menerima semua pemahaman walau bukan paham yang ideal untuk diri sendiri, dan mampu berinteraksi dengan baik dengan siapa saja.
Diingatkan juga untuk selalu menarik kehidupan yang bahagia dan harmonis dengan keluarga, orang-orang terdekat dan semua sahabat, baik yang dekat maupun yang jauh.

“Terakhir, walau perusahaan tempat bekerja sudah sangat maju dan sukses, jangan pernah minta saham ya? Kecuali itu saham milik sendiri,” gurau Yudo, salah satu kawan hipnoterapis asal Kudus – Jawa Tengah. (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes