BREAKING NEWS

Sunday, November 15, 2015

Saatnya Putus Hubungan, untuk Sebuah Hubungan

Some Time We Have to Disconnect, To Make a Connection. (Terkadang kita perlu memutuskan hubungan, untuk menjalin sebuah hubungan). Ya, kalimat dalam bahasa Inggris di atas memang sangat pas sebagai pengingat untuk setiap orang di era digital seperti saat ini. Betapa tidak. Hampir setiap orang sudah tidak mampu lagi hidup tanpa gadget. Apa pun itu, dari mulai smartphone, tablet, laptop, dan perangkat multimedia lainnya.

Sabtu tadi misalnya, saya sempat merasakan ‘hampa’ yang luar biasa, akibat smartphone kesayangan sempat ngambek. Jempol yang biasanya sangat familiar menyentuh layar, seketika merasa ada yang aneh. Tak ada yang disentuh.


Maklum, saya tidak menggunakan banyak handphone. Smartphone itu adalah satu-satunya dan hanya itu yang saya gunakan untuk semua aktivitas. Baik untuk mengetik artikel ketika di perjalanan, termasuk menerima telepon sahabat yang ingin konsultasi, atau yang meminta waktu untuk menjalani sesi hipnoterapi. Begitu pula untuk urusan kantor, juga menggunakan smartphone ini.  

Beruntung, masih ada ‘bangkai’ HP lama yang masih bisa digunakan. Sehingga untuk sementara, sembari smartphone dibawa ke ‘binatu’, saya tetap bisa menerima telepon atau pesan pendek di HP lama yang selama ini hanya ‘tidur’ di lemari.

Namun, ada nilai plus yang sangat luar biasa yang bisa dirasakan selama smartphone tadi mengalami ‘mati suri’. Bisa memiliki lebih banyak waktu untuk bermain dengan anak-anak. Selama ini, saya selalu menyisihkan waktu berkualitas untuk anak-anak. Namun kali ini, lebih berkualitas lagi karena durasinya jelas lebih lama.

Sahabat. Saran ‘tanpa smartphone’ ini pula yang kerap saya sampaikan kepada klien yang mengeluhkan soal perubahan perilaku pada anak. Belum lama ini ada klien mengeluhkan soal anaknya yang selalu berontak setiap kali dirinya hendak berangkat kerja. Anaknya masih berusia 3 tahun.

“Pokoknya kalau saya mau berangkat kerja, pasti ngamuk. Nangis dan langsung minta digendong,” kata klien ini. Sebagai kepala rumah tangga, tentu dia harus berangkat kerja setiap pagi, mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Namun perilaku anak ini memang membuatnya sangat pusing. Akibatnya, setiap pagi dia selalu mencoba ‘menipu’ anaknya supaya bisa lolos dan kabur untuk bekerja.

Seperti biasa, saya mencoba menelusuri pola asuh terhadap anak ini, terutama hubungan si anak dengan ayahnya. “Saya pulang kerja selepas maghrib mas. Maklum, jarak rumah ke kantor lumayan jauh,” kata dia. Itu pun, saat sampai rumah terkadang harus lembur, bekerja lagi di rumah.

Dari sini sudah bisa dilihat, anak kekurangan waktu berkualitas dengan ayahnya. Anak merasa ‘diabaikan’ oleh ayahnya sendiri. Karena itu, saya menyarankan saat di rumah agar waktunya betul-betul digunakan untuk bermain dengan anak. Satu lagi, sebaiknya HP ‘dibunuh’ untuk sementara waktu. Sebab kalau HP masih bisa berteriak, maka si ayah tidak bisa lepas dari urusan pekerjaan.

Saran itu dilakukan. Pemutusan hubungan sementara dengan HP, membuat anaknya tidak lagi mengamuk saat dia hendak bekerja di pagi hari. “Rutinitasnya jadi beda. Setiap pagi wajib cium tangan dulu, baru saya boleh pergi kerja,” ucapnya sumringah.

Lalu, siapkah Anda memutus hubungan sementara untuk meningkatkan hubungan yang lain?      

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes