HYPNO NEWS

Tuesday, November 3, 2015

Selama 11 Tahun Takut Nasi

Kisah ini sudah mendapat persetujuan dari klien, serta orang tua klien, sebelum ditampilkan di laman ini. Minggu (1/11/15)  tadi, seorang klien datang ditemani kedua orang tuanya. Klien bernama Atifah (17 tahun) ini datang dengan keluhan ingin mengakhiri ‘permusuhannya’ dengan nasi.

Ya, sahabat tidak salah baca. Sejak Ifah, sapaan akrabnya, berusia 6 tahun, dia sangat takut sekali dan merasa jijik setiap kali melihat nasi. Jangankan untuk memakannya, melihat nasi dari kejauhan saja sudah membuat badannya merinding tidak karuan.


Kedua orang tuanya sudah hampir putus asa. Entah sudah berapa dokter didatangi, bahkan hingga ke Pulau Jawa, berharap agar masalah phobia nasi ini bisa diatasi. Berbagai jenis obat perangsang nafsu makan pun diminum, hasilnya tetap nihil. Bahkan ‘orang pintar’ di beberapa kota hingga luar pulau pun sudah didatangi. Nyatanya tetap saja tak ada perkembangan.

Kedua orang tuanya sangat cemas dengan perkembangan anaknya kelak. Apalagi, sebentar lagi akan berkuliah dan menuntut ilmu di kota lain. Orang tuanya sangat khawatir dan ragu melepas buah hati kesayangannya ini.

Ifah pun mengaku tidak tahu, kenapa rasa takutnya begitu besar dengan makanan pokok utama bangsa ini.

“Ngga suka, jijik, geli, takut, dan rasanya aneh. Pokoknya benci sama nasi,” kata penggemar musik padang pasir ini. Alhasil selama ini, gadis kelahiran Palu, 18 April 1998 ini hanya makan selain nasi. Seperti roti, mie, pizza, bakso, juga lainnya. Asal bukan nasi, oke saja.  

Setiap kali ada acara keluarga, sudah barang tentu ada nasi, gadis ini lebih memilih menghindar dan menjauh. Begitu pula ketika berkumpul dengan teman-temannya untuk makan bareng di mal, dia terkadang hanya bisa pasrah menjadi bahan ejekan dan tertawaan teman-temannya. Kedua orang tuanya pun kerap melarang ketika dia ingin ikutan camping. Orang tua khawatir, dia akan kesulitan dalam hal urusan makanan.  Dalam hati kecilnya, ada bagian diri yang ingin mengakhiri semuanya. Namun faktanya, gangguan rasa takut itu jauh lebih besar.

Ifah betul-betul merasa jijik setiap kali melihat nasi. Jangankan untuk makan nasi, melihatnya saja sudah merasa tidak nyaman. Gadis ini merasa, kondisi ini akan membuat dirinya kurang sehat. Ditambah tidak ingin terus-terusan merepotkan kedu orang tuanya.

Keinginannya yang sangat kuat untuk mengakhiri tabuhan genderang perang terhadap nasi, membuat proses terapi menjadi jauh lebih mudah. Klien sangat all out dan pasrah menceritakan segala hal yang terjadi di masa lalu. Dengan teknik tertentu, trauma yang sangat mendalam terhadap nasi ini akhirnya bisa diatasi.

Usai terapi, Ifah merasa sangat nyaman dan lega. Untuk menguji hasil terapi selama hampir 2 jam itu, saya sengaja menyiapkan sedikit nasi di piring. “Seandainya sekarang lihat nasi, bagaimana?” tanya saya. “Biasa saja,” jawabnya. Benar saja, ketika saya tunjukkan sebuah piring kecil berisi nasi, dia menyambutnya dengan senyum.

“Berani mencicipi?” saya semakin penasaran. Diambilnya beberapa butir nasi, dan diarahkan ke mulutnya. Dikunyah perlahan sambil dirasakan dengan serius. “Rasanya biasa saja, kok,” ujarnya kemudian.

Di luar ruang terapi, kedua orang tuanya yang sudah menunggu cukup lama, menanti hasilnya dengan was-was. Saya tersenyum memandangi wajah kedua orang tuanya, sembari membawa piring nasi tadi.

“Ayo tunjukkan ke Umi sama Abah, kamu ngga takut lagi,” kata saya sembari menyodorkan piring nasi tersebut. Dia kembali menyambut piring itu, kemudian mengambil beberapa butir nasi dan dipindahkannya ke mulutnya.

Terlihat perasaan haru dan bahagia dari kedua orang tuanya. Phobia yang sudah terpendam selama 11 tahun itu akhirnya benar-benar bisa dilepaskan. Selamat untuk Ifah, dan terima kasih atas izinnya untuk berbagi kisah ini. (*)


Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes