Monday, November 23, 2015

Sering Jadi Tempat Curhat? Ini Dampaknya


Sebenarnya, artikel ini sudah pernah dimuat sebelumnya. Namun, saya lakukan sedikit penyesuaian dengan kondisi terkini. Kenapa? Karena hingga kini tak sedikit orang yang rela menjadi ‘tempat sampah’ alias menampung curhatan orang lain.

Sebenarnya tidak masalah menyediakan diri menjadi tempat sampah, sepanjang punya cara tersendiri untuk membuangnya kembali. Artinya apa? Saat menyiapkan diri menjadi tempat curhat, pastikan bahwa posisi Anda hanya sebagai TPS alias tempat penampungan sementara. Sehingga, ketika memori pikiran bawah sadar yang menampung ‘sampah curhat’ tadi sudah penuh, Anda langsung membuangnya kembali ke TPA alias tempat pembuangan akhir.  

Itu artinya, saat sudah menyiapkan diri menjadi tempat sampah, Anda sudah mempunyai metode atau cara tersendiri untuk membersihkan kembali tempat sampah itu. Jika tidak, akan sangat berbahaya bagi diri sendiri.


Yang lebih membahayakan adalah, ketika bersedia menjadi tempat curhat untuk masalah yang sama, berkali-kali. Ingat, salah satu sifat pikiran bawah sadar adalah mudah ditembus dengan repetisi ide alias informasi yang berulang-ulang. Jika ada informasi yang sama masuk secara terus menerus ke pikiran bawah sadar, maka hal itu akan menjadi perintah baru yang otomatis akan dijalankan oleh pikiran bawah sadar.

Pikiran bawah sadar juga mudah ditembus ketika seseorang sedang dalam emosi yang bermuatan tinggi. Coba diingat, umumnya ketika orang curhat, apalagi curhat soal masalah, apa pun itu, maka akan membuat suasana hati menjadi sedih. Baik yang curhat maupun penampung curhat, dua-duanya hanyut dalam kesedihan. Saat emosi sedih muncul, maka gerbang pikiran bawah sadar terbuka lebar. Artinya, Anda dengan sengaja memasukkan program baru berupa kesedihan terhadap pikiran bawah sadar Anda.

Saat bersedia menjadi tempat sampah, apakah Anda sudah bisa menjamin bisa kuat dan tidak ikut larut dalam kesedihan itu? Apakah Anda sudah punya cara tersendiri untuk membuang ‘sampahnya’ nanti.

Informasi yang berulang-ulang masuk ke pikiran bawah sadar, jelas akan menjadi program yang secara tidak langsung akan diserap dan dijalankan secara otomatis. Coba Anda perhatikan, artis yang suka menyanyikan lagu patah hati, bagaimana akhir perjalanan pernikahannya? Sepintas itu hanya nyanyian. Namun saat lagu dengan lirik negatif itu dinyanyikan dengan segenap perasaan, maka pikiran bawah sadar akan terbuka lebar. Ketika lagu tersebut dinyanyikan berkali-kali dan berulang-ulang (bukan ‘berulang kali’ seperti lagunya Betharia Sonata), maka pikiran bawah sadar akhirnya mengkonfirmasi, bahwa informasi itu harus dijalankan dan dijadikan kenyataan. Ada baiknya, mulai dari sekarang lebih sering mendengar lagu yang liriknya riang dan positif, ketimbang yang sedih dan berkonotasi negatif.

Pikiran bawah sadar memang sangat dahsyat dan tidak mengenal benar atau salah. Informasi apa pun yang masuk, akan diproses dan dijalankan dengan tepat sesuai pemahaman pikiran itu sendiri. Sementara 95 sampai 99 persen pikiran bawah sadar memegang kendali manusia.  

Karena itu, untuk mencapai keberhasilan, lebih baik bergaul dan berteman dengan mereka yang selalu antusias dan selalu positif memandang masa depan. Kalau pun masih ada teman yang ingin curhat soal yang negatif, pastikan untuk bisa memberikan solusi. Jika tidak, sebaiknya hentikan sekarang juga, demi kebaikan dan kemajuan hidup Anda sendiri.

Sebab, curhat yang tanpa solusi hanya akan menguras diri Anda sendiri. Energi yang sedianya bisa dipakai untuk merancang dan mencapai impian di masa depan, hanya akan terkuras sia-sia untuk menerima curhatan yang menggerogoti energi diri sendiri.

Lain halnya saya sebagai terapis, sudah punya teknik tersendiri. Sehingga setiap kali menerima klien datang dengan berbagai masalah, sudah ada teknik untuk melepaskan semua masalah itu. Selain itu, klien memang datang untuk mengatasi masalahnya, bukan untuk sekadar curhat yang tidak ada solusi atau jalan keluarnya.  

Sudah menjadi hal lumrah, saat sedih, sibuk mencari tempat untuk membuang kesedihannya. Giliran senang, maka dia nikmati sendiri, tidak mau berbagi dengan orang lain. Itu pula yang saya alami sebagai terapis. Saat klien datang dengan masalah, curhat berjam-jam. Namun saat sudah berhasil mengatasi masalah, hanya satu atau dua klien yang mengabarkan keberhasilan yang dia rasakan. Selebihnya, sudah lupa kalau dia sudah pernah mendapat masalah berat bahkan sudah putus asa.

Beruntung, saya masih ada beberapa grup yang isinya hanya membahas soal keberhasilan dan kebahagiaan. Sehingga saya tetap mendapatkan energi keberhasilan dari grup ini. Grup Quantum Life Transformation benar-benar ikut memberikan informasi yang tepat ke pikiran bawah sadar. Saat ada orang yang berhasil mencapai impian atau sesuatu, maka saya termasuk anggota grup lainnya akan merasa ikut bahagia dan senang. Nah saat bahagia itulah, emosi akan tinggi dan pikiran bawah sadar sangat terbuka lebar. Dengan memasukkan informasi keberhasilan, maka pikiran bawah sadar juga meresponse hal positif tersebut.

Bagaimana menurut Anda?






Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...