BREAKING NEWS

Thursday, November 19, 2015

Si Cantik Pemilik Salon

ilustrasi
Beberapa waktu lalu, saat saya dalam perjalanan ke Surabaya, di sebelah saya duduk seorang ibu yang juga akan bertolak ke kampung halamannya. Dalam obrolan sepanjang perjalanan di atas pesawat itu terungkap, ibu ini baru saja mengunjungi anaknya yang sudah sukses di Kaltim. Anaknya telah memiliki sebuah salon kecantikan dengan pelanggan yang cukup lumayan.  

Meski awalnya ibu ini terlihat bahagia karena anaknya sudah sukses merantau, ternyata masih ada penyesalan sangat mendalam yang ia rasakan.

“Begitu lulus SMA, dia langsung merantau. Saya sendiri awalnya ngga tahu dia mau ke mana. Dia cuma bilang mau ikut temannya jalan-jalan. Ternyata setelah itu ngga pernah pulang selama 10 tahun,” sebut si ibu ini dengan bulir air mata yang tampak menggantung di sudut matanya.

Selama itu pula, ibu ini merasakan penyesalan dan kesedihan yang sangat mendalam. Bahkan dia mengaku sempat pasran dan ikhlas, dan mengira anaknya sudah benar-benar tidak ada lagi entah di mana. Meski demikian, dia terus berdoa dan selalu berdoa, agar anaknya diberikan keselamatan.


“Makanya saya ngga menyangka dik, waktu ada teman satu sekolahnya ke rumah, dan ngasih tahu anak saya ada di Kalimantan. Saya ngga ngira dia pergi sejauh ini,” tuturnya lagi.

Itu sebabnya, si ibu ini langsung girang ketika mendapat tawaran dari anaknya untuk ke Kalimantan. “Ya baru dua kali ini naik pesawat. Kemarin pas berangkat, sama ini pas pulang,” ujarnya sembari tersenyum, meski pelupuk matanya tetap terlihat berkaca-kaca.

“Kalau adik mau, nanti saya kenalkan. Anak saya cantik, kok,” katanya lagi. Dia pun buru-buru mengambil smartphone dari dalam tasnya. Terlihat agak canggung ketika ibu ini memegang benda berwarna putih bertuliskan Samsung itu. Satu sentuhan jari telunjuknya membuat benda ini kemudian menyala.

“Ini juga baru dibelikan sama anak saya. Makanya masih agak bingung pakainya,” ujarnya kemudian. Terlihat jari telunjuknya sibuk mencari aplikasi yang bertebaran di layar telepon pintarnya.

“Nah ini anak saya, cantik kan?” ujarnya antusias, sembari menyerahkan smartphone itu ke arah saya.

Sejenak saya perhatikan sosok yang sangat dibanggakan ibunya ini. Tak hanya cantik, wanita ini juga terlihat pandai merawat tubuhnya, sehingga setiap lekuk tubuhnya tergambar jelas pada busana yang dikenakan.

“Ini foto dia waktu liburan di Thailand, katanya,” ujar si ibu saat telunjuknya menggeser layar, dan muncul sebuah foto wanita dengan busana lebih sedikit terbuka. Bahkan belahan dada wanita di foto ini terlihat lebih jelas.

Saya kembali menyerahkan smartphone tersebut. Si ibu ini pun buru-buru mematikan kembali benda tersebut, dan memasukkannya ke dalam tas yang ada di pangkuannya. Pandangan ibu ini mendadak seperti kosong. Pikirannya seolah terlempar jauh, sejauh perjalanan yang sudah kami tempuh melintasi laut Jawa.

“Memangnya dulu ada apa bu, kok dia minggat dari rumah?” tanya saya mencoba memecah suasana. Wanita di sebelah kiri saya ini tak langsung menjawab. Sesaat dia memilih melemparkan pandangan matanya ke arah jendela pesawat. Entah pemandangan apa yang sedang ia lihat.

Sejurus kemudian, dia menoleh ke arah saya sembari menghela nafas. “Ya dik. Soalnya waktu di sekolah, anak saya sering diolok sama teman-temannya. Untung anak saya itu selalu ceria, cuek aja,” jawab ibu ini.

Belum lagi sempat melontarkan pertanyaan karena semakin penasaran, si ibu ini melanjutkan ceritanya. “Waktu sekolah, anak saya aktif sekali. Ikut tim nari, gabung tim cheerleaders, juga ikut lomba peragaan busana. Apa aja yang dia bisa, ya dia ikuti,” ujarnya.

“Kalau begitu, berarti ngga ada masalah dong bu? Lalu kenapa dia sampai nekat pergi jauh? Jangan-jangan dia dibawa kabur sama pacarnya,” saya coba menduga.

“Bukan karena itu dik. Anak saya ngga mungkin seperti itu. Dia memang pernah bilang, lama-lama ngga tahan juga kalau terus-terusan jadi bahan ejekan temannya di sekolah dan di lingkungan tetangga,” beber si ibu. Kali ini, tumpahan air matanya terlihat lebih deras. Terlihat dia berupaya mengatur nafasnya yang sudah tersengal, agar lebih tenang.

“Lah, memangnya anak ibu diejek masalah apa? Anaknya cantik, aktif pula. Kok bisa diejek?” saya semakin penasaran.

“Ya dik. Masalahnya dia itu laki-laki. Makanya dia selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya di sekolah,” ujar ibu ini. Dia segera memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. Tisu yang sedari tadi dipegang tangan kanannya, terlihat hancur karena tak mampu lagi membendung kucuran air matanya.

Saya pun hanya diam. Leher terasa cekat, tak berani berkata apa-apa lagi. Otak saya seketika menampilkan kembali gambar wajah wanita yang tadi saya lihat melalui layar smartphone. Betul-betul tak menyangka jika sosok cantik itu seorang laki-laki.

“Semua gara-gara saya, dik. Saya yang salah,” ujar ibu ini kemudian. Dia sudah bisa mengontrol kembali aliran nafasnya, meski pelupuk matanya belum benar-benar kering. Saya hanya diam, menyimak, menunggu kelanjutan cerita yang akan ia sampaikan.

“Dulu, waktu saya hamil pertama kali, saya memang kepingin sekali punya anak perempuan,” ujarnya. Ternyata takdir berkata lain. Anak pertama yang dikandungnya itu adalah seorang laki-laki. Ibu ini mengaku pasrah, namun tetap ada rasa kecewa karena keinginan mendapat anak perempuan, tidak terkabulkan.

Dorongan yang sangat besar untuk memiliki anak perempuan, membuat ibu ini sesekali sengaja memakaikan anaknya busana perempuan. Dia dandani menjadi putri kecil yang cantik dan lucu. Tetapi itu tak pernah lama. Hal itu hanya dilakukan ketika di kamar, dan hanya berdua saja dengan dia.

Ternyata, saat usianya semakin bertambah, anaknya ini juga mulai suka melakukan eksperimen mengenakan busana wanita. “Salahnya saya, saya tidak pernah melarang. Saya malah senang waktu anak saya pakai baju perempuan. Lucu dan cantik,” katanya. Ibu ini terlihat seperti kembali ke masa lalu. Ada sedikit sunggingan senyum di ujung bibir kanannya.

Hal itulah yang kemudian sangat ia sesali. Apalagi ternyata saat hamil kedua, dia akhirnya benar-benar dikaruniai anak perempuan. “Sekarang saya betul-betul tidak punya anak laki-laki. Dua-duanya perempuan,” ucapnya.

Ibu ini pun mengaku hanya pasrah saat anaknya menyampaikan ingin melakukan operasi kelamin. “Ini hukuman buat saya. Saya hanya bisa berdoa, memohon ampun,” sambungnya.

Obrolan kami pun terpaksa terhenti. Terdengar suara dari kokpit yang memberitahukan pesawat akan segera mendarat di Bandara Juanda. Namun, sebelum akhirnya benar-benar berpisah dengan ibu ini, saya sempat menyampaikan bahwa teknik hipnoterapi juga bisa digunakan untuk memulihkan kondisi anaknya, jika bersedia.

Sebab, guru saya, Adi W. Gunawan, pernah melakukan terapi terhadap klien yang akan melakukan operasi ganti kelamin. Dengan hipnoterapi, klien ini batal menjalani operasi ganti kelamin, karena bagian diri klien yang laki-laki, kembali diaktifkan sepenuhnya.

Saya pun sempat memberikan nomor kantor lembaga Adi W. Gunawan Institute di Surabaya, jika memang anak ibu ini bersedia menjalani sesi hipnoterapi. Sebab, hipnoterapi hanya bisa dilakukan atas kemauan dan persetujuan klien. Jika tidak, proses terapi tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian di atas, termasuk untuk diri saya sendiri. Semoga. (*)


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes