BREAKING NEWS

Wednesday, November 25, 2015

Sudahkah Meminta Maaf Pada Anak?


Perasan dongkol, jengkel, kecewa, sakit hati, merasa tidak dihargai dan berbagai perasaan tidak mengenakkan lainnya, jika dipelihara di dalam sebuah keluarga, akan menjadi beban yang kurang baik. Jika perasaan itu tidak dilepaskan, kita seperti berjalan dengan membawa ransel yang berat. Ya, beban rasa bersalah, kecewa, sakit hati dan aneka perasan yang kurang enak itu, akan membuat kehidupan kita terhambat.

Itu sebabnya, hal yang perlu dilakukan adalah menetralisir perasaan itu, sehingga semua dibuat nol, atau netral sama sekali. Satu hal penting, jangan pernah mengabaikan anak-anak. Orang tua sering kali egois dan beranggapan anak-anak harus nurut dan tidak boleh dongkol, marah, kecewa atau sakit hati sama orang tua. Ini berbahaya, jika perasaan ini tidak dihilangkan, anak akan memendam perasaan itu hingga dewasa dan akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Karena itu, sebisa mungkin upayakan untuk berkomunikasi dengan anak dan melepas semua emosi yang ada di diri anak dan orang tua. 


Suatu ketika, saat suasana di rumah sedang santai, saya coba menghampiri ketiga anak saya bergantian. Saya mulai dengan anak pertama, bernama Tasya Nur Aulia. Ketika itu dia duduk di kelas VI SD. “Nak, ada kah sikap, kata-kata, atau perbuatan bapak yang membuat kamu kecewa, marah, sakit hati atau jengkel? Tolong diingat-ingat. Kalau ada sampaikan ke bapak. Bapak minta maaf ya kalau ada,” ucap saya lembut sembari memeluknya dan duduk di pangkuan.

Anak saya diam sejenak dan memastikan tidak ada. “Bener tidak ada?” Tasya tetap menggeleng, “Tidak ada kok pak, beneran,” katanya.

Saya pun berlanjut ke anak kedua, Rafli yang duduk di kelas IV SD. Duduk di pangkuan saya sembari saya peluk, pertanyaan yang sama saya lontarkan padanya. Seketika air matanya meleleh, tangisnya meledak. Anak kedua saya ini memang sedikit sensitif dan selalu meluapkan emosinya dengan menangis. Saya biarkan dia mengeluarkan emosinya dengan menangis, setelah tenang  baru saya tanya apa kesalahan yang saya perbuat sehingga dia sampai merasa sakit hati.

“Waktu bapak pulang dari tugas, aku ngga dibelikan mainan. Sementara kakak dan adik dibelikan,” ucapnya menjelaskan perihal yang membuatnya sakit hati. Padahal, yang terjadi ketika itu, saya sengaja ngerjain. Saya belikan dia mainan, tapi tak langsung saya berikan kepadanya. Begitu tiba di bandara, hanya mainan untuk kakak dan adiknya yang saya tunjukkan. 

Begitu pula di rumah, ada mainan lain untuk kakak dan adiknya, sementara mainan untuk dia belum saya keluarkan. Hingga tangisnya meledak, barulah mainan untuk dia saya berikan. Rupanya, hal yang menurut orang tua sepele, nyatanya bisa membuat sakit hati yang sangat membekas dan mendalam bagi anak-anak. Saya langsung memeluknya dan minta maaf, dan meminta dia melepaskan emosi sakit hatinya saat itu juga.

Yang tidak saya sangka justru anak ketiga. Sofia Citra Ananda adalah anak terakhir yang sudah pasti cukup dimanja, sehingga dalam hati kecil saya, sangat yakin kalau dia tidak mungkin punya perasaan jengkel atau sakit hati pada saya. Nyatanya perasaan saya salah total. “Ada pak,” ujarnya cepat ketika saya tanyakan, adakah yang perilaku saya yang membuatnya sakit hati.

Kontan saja jawabannya itu membuat saya kaget dan tidak yakin ada hal yang membuatnya kecewa. “Kejadian yang mana?” tanya saya sembari memeluknya dengan damai. “Waktu itu, waktu aku habis mandi. Aku teriak panggil mama, tapi bapak negur karena aku teriak-teriak,” jelasnya gamblang. Astaga, kejadian yang menurut saya sama sekali biasa, bahkan saya sudah lupa, ternyata membekas bagi Sofia. Saya segera memeluknya lagi dan meminta maaf. Saat itu Sofia mengangguk dan memaafkan.

Saya seketika merasa lega, bisa membereskan perasaan bersalah, yang boleh jadi selama ini membuat beban dalam pekerjaan saya. Perasan kecewa dari anak tadi akan memancarkan energi negatif sehingga bisa membebani diri kita. Terbukti setelah ketiga anak saya memaafkan, perasaan saya pun jadi lebih tenang dan damai. 

Bagaimana menurut Anda?


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes