Tuesday, November 10, 2015

Tidak Dihargai Anak? Ini Penyebabnya

Siang tadi, salah satu rekan menghubungi saya lewat telepon. Dia bercerita panjang lebar tentang anaknya yang masih berusia sekolah dasar. Sebagai orang tua, dia merasa sama sekali tidak dihargai. “Sudah marah-marah sampai berbusa-busa, anaknya ya tetap cuek aja. Sama sekali suara saya ngga didengar. Siapa yang ngga jengkel, coba?” ujarnya dengan nada cukup tinggi. Saya sebagai pendengar di ujung telepon jadi merasa kena marah juga, he he he.

Apakah Anda juga pernah mengalami apa yang disampaikan rekan saya di atas? Persoalan tidak dihargai oleh anak, boleh jadi juga menjadi masalah umum dan banyak dikeluhkan para orang tua. “Pokoknya mendidik anak sekarang susah-susah gampang,” keluh rekan lainnya.

Bagi orangtua yang merasa tidak dihargai oleh anaknya, izinkan saya bertanya dan tolong dijawab dengan jujur, sudahkah menghargai anak Anda? “Ya sudah dong, masa saya tidak menghargai,” begitu jawaban spontan yang kadang muncul. Tunggu dulu, sabar…, sabar… tolong dijawab dengan tulus dan dari hati nurani yang paling dalam. Apakah Anda sudah benar-benar yakin kalau Anda yakin bahwa Anda sudah menghargai anak Anda sendiri? Atau jangan-jangan, itu hanya perasaan Anda saja. Sementara si anak, sama sekali merasa tidak dihargai oleh orang tuanya.

Nah, sampai di sini, biasanya pikiran bawah sadar Anda mulai menelisik dan mencari tahu kebenaran yang terjadi. Sebab umumnya, anak berkembang sesuai dengan lingkungannya. Ketika orangtua sama sekali tidak menghargai anaknya, maka jangan harap anak bisa menghargai orang tuanya.

Contoh sikap orang tua yang tidak menghargai anak adalah, memarahi anak di depan orang lain. Yang lebih parah, bahkan memaki-maki anak sendiri, disaksikan oleh orang banyak. Mungkin orang tua merasa, hal itu untuk membuat anaknya jera. Namun yang dirasakan anak adalah sebaliknya, anak merasa dipermalukan oleh orang tuanya sendiri. Anak merasa di-bully dan dijatuhkan harga dirinya oleh orang tuanya sendiri. Bagaimana mungkin sosok orang tua yang seharusnya sebagai tokoh utama dalam melindungi anak dan harus selalu memberi rasa aman, justru malah menghancurkan harga diri anak. Lalu, ke mana lagi anak harus mencari rasa aman?

Hal lain yang kerap dilakukan orang tua adalah, membandingkan anak sendiri dengan teman atau saudaranya sendiri. Niatnya mungkin baik, untuk memotivasi anak. Namun, lakukan itu ketika hanya berdua dengan anak, dengan tujuan mendidik dan beri tahu alasan saat melakukan perbandingan. Hindari membandingkan anak sendiri di depan orang lain, bahkan di depan orang yang menjadi bahan perbandingan.

“Tuh lihat sepupumu, pintar. Selalu ranking satu. Coba kamu seperti dia,” begitu kira-kira yang diucapkan orang tua. Parahnya, ini diucapkan di depan sepupunya yang menjadi bahan perbandingan. Jika ini dilakukan, sama halnya Anda sedang melempar anak sendiri di tengah kubangan lumpur. Sangat memalukan dan membuat harga diri anak benar-benar hancur. Kalau sudah seperti ini, patutkah orang tua minta dihargai oleh anak?

Sahabat, anak sejatinya juga sama dengan orang tua. Apa yang dirasakan orang tua, juga bisa dirasakan anak. Kalau sebagai orang tua tidak mau dipermalukan di depan umum, demikian pula dengan anak. Kalau orang tua suka dipuji, demikian pula dengan anak, yang bahkan sangat membutuhkan pujian. Memarahi anak janganlah dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Sebab sejatinya anak juga punya rasa malu dan punya harga diri.

Lantas sikap seperti apa yang menghargai anak? Sebagai orang tua, sepatutnya menjadi pendengar yang baik untuk anak. Siapkan waktu khusus untuk mendengarkan semua keluh kesah anak Anda. Saat santai sembari menikmati makan malam, pancing anak untuk bercerita, apa saja yang dialami seharian tadi? Baik itu di sekolah, maupun saat sedang bermain di sekitar tempat tinggal. Dengan cara ini, anak akan merasa dihargai dan didengarkan.

Dengan cara ini pula, anak juga akan terbiasa terbuka dengan orang tuanya. Ini juga sebagai cara mudah untuk deteksi dini. Sehingga jika sewaktu-waktu anak mengalami sesuatu yang tidak nyaman, sebagai orang tua, bisa melakukan deteksi lebih dini. Anak yang menjadi korban bully, umumnya baru ketahuan setelah kejadian yang ke-sekian kalinya. Kenapa? Karena anak takut bercerita. Kenapa takut bercerita? Ya karena tidak terbiasa didengarkan semua keluh kesahnya, sehingga anak takut menyampaikan apa yang sedang dialaminya.


Mulai saat ini, sebagai orang tua, ada baiknya lebih banyak menggunakan telinga ketimbang mulut. Maksudnya apa? Banyak-banyaklah mendengar, ketimbang berbicara. Sebab dengan mendengar, anak benar-benar punya tempat berbagi, dan orang tua akan dianggap sebagai temannya sendiri. Bukankah ini yang diidamkan para orang tua? (*)

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...