Wednesday, December 23, 2015

Indahnya Bahasa Cinta

Artikel soal bahasa cinta yang saya tulis sebelumnya, mendapat tanggapan dari salah satu sahabat saya. Berikut email yang dia kirimkan ke saya. Namun maaf jika saya ada lakukan sedikit koreksi, yakni dari sisi tata bahasanya saja.

“Dear Endro,

Semalam waktu kamu broadcast tentang artikel bahasa cinta, kebetulan waktu itu agak bete dan kebetulan juga artikel kamu agak ada koneksinya.

Beberapa hari lalu suami bilang pengen banget nasi bakar tuna. Nah, akhirnya kemaren aku pesan temanku. Terus, sore kemarin suamiku BBM nggak bisa pulang cepat karena lembur. Akhirnya aku pulang duluan.


Malamnya aku BBM, pulang jam berapa? Terus mau makan nasbaktun-nya nggak. Suami jawab, +/- jam 10 sampai rumah, terus mau makan.

Ya udah, aku panasin tuh nasi. Ternyata sampai rumah jam 10.30. Yang bikin kesal kok nasinya nggak dimakan. Habis mandi dia langsung tidur.

Walaupun bukan aku yang masak nasinya, tapi kan aku juga sudah bela-belain pesan dan menghangatkan nasi. Pas aku tanya kenapa nggak dimakan, ternyata dia tadi ditraktir sama owner yang punya proyek dan sudah kekenyangan.

Jengkel banget. Tapi mau marah-marah kok ya nggak tega. Ya sudahlah, tarik nafas dalam-dalam terus tidur.

Tadi pagi sempat aku lanjutin protesnya. Tapi sebenarnya sudah nggak jengkel. Aku hanya ingin dia tahu kalau semalam aku sempat sakit hati sedikit.

Dari kejadian ini, hikmah yang aku ambil adalah, memang nggak bisa tiap saat suami harus mengerti kita. Ngga bisa juga bahwa suami harus terus buat kita senang. Kadang memang ada hal-hal di luar ekspektasi kita, he he.” 

Sahabat saya ini benar-benar sudah membuang rasa tidak nyamannya. Sebelumnya, memang sudah saya beri teknik khusus untuk melepas rasa tidak nyaman jika diperlukan. Terbukti, ketika dia praktikkan, langsung plong dan nyaman. Dia pun bisa menerima kenyataan dengan tenang dan damai.


Bagaimana menurut Anda? 

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...