HYPNO NEWS

Thursday, December 3, 2015

Ingin Anak Berperilaku Lebih Baik? Begini Caranya


Semua orang tua di muka bumi ini pasti menginginkan anak yang baik, penurut, cerdas, mudah disuruh, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan masih banyak lagi keinginan lainnya.

Nyatanya, untuk bisa menciptakan anak yang seperti di atas, tidak semudah membalik telapak tangan. Buktinya, biar Anda bolak-balik tangan Anda berkali-kali, anak akan tetap seperti itu, he he he. Maaf, urusan membalikkan tangan ini hanya bercanda.

Poinnya adalah, untuk mendidik anak, Sahabat harus tahu kapan saat yang tepat untuk memasukkan program baru terhadap anak. Ibarat komputer, harus tahu kapan waktu yang pas melakukan instalasi perangkat lunak yang baru.


Cara yang paling pas agar anak berperilaku baik adalah, dengan keteladanan. Keteladanan atau contoh dari figur otoritas, sangat berpengaruh besar. Dalam hal ini, figur yang paling tinggi peranannya adalah ayah dan ibu. Ketika ayah dan ibu berperilaku sopan, santun, jujur, bersuara lembut, menyayangi penuh kasih, dan selalu berbuat hal-hal yang baik, maka otomatis anak akan mengikuti kebiasaan baik kedua orang tuanya. Bahkan untuk urusan makan sekali pun. Ketika kedua orang tua berperilaku hidup sehat, makan sayur, banyak mengonsumsi air putih, tidak merokok, maka dengan mudah anak pun memiliki model untuk diikuti.

Yang umum terjadi adalah, sang ibu stres dan panik mendapati anaknya merokok. Padahal dia lupa, suaminya merokok. Kalau sudah seperti ini, larangan sekeras apa pun, tidak akan mempan. Bukankah ayahnya juga perokok, dan sejauh ini tidak ada masalah?

Begitu pula ketika ada anak berperilaku kasar, suka bersuara keras bahkan membentak. Coba dicek, pasti di lingkungannya ada contoh yang dia tiru. Entah itu ayahnya, ibunya, kakeknya, neneknya, paman, tante, atau siapa pun yang dalam kesehariannya selalu berinteraksi dengan anak. Bahkan boleh jadi, sang anak sendiri yang selama ini jadi korban sering dimarahi dengan kasar dan sering dibentak. Otomatis, anak pun akan berperilaku sama.

Sahabat, dulu saya termasuk ayah yang betul-betul tidak dekat dengan anak-anak. Kesibukan sebagai wartawan membuat intensitas bertemu anak sangat terbatas. Bangun pagi, anak-anak sudah berangkat sekolah. Pulang kerja, anak-anak sudah tidur. Sudah bisa dipastikan, kedekatan emosional tidak terjalin dengan baik. Ada jarak yang terpaut sangat jauh untuk bisa menjangkau hati anak-anak.

Terkadang, air mata tak terasa menetes, ketika melihat kenyataan bahwa anak sendiri tidak mau disentuh. Jangankan dicium, dipeluk, atau digendong lama, disentuh sedikit saja langsung menghindar.

Beruntung, saya segera menyadari kondisi itu. Beruntung pula saya punya kesempatan belajar di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology. Di lembaga ini, tak sekadar belajar tentang hipnoterapi, tapi juga ada materi tentang Hypnotherapy for Children, teknik hipnoterapi anak. Lisensi untuk menjadi trainer materi ini pun berhasil saya kantongi.

Sebelum digunakan untuk orang lain, tentu diaplikasikan dahulu ke anak sendiri. Hasilnya memang luar biasa. Hasilnya saya kembali memperpendek jarak yang tadinya sudah sangat jauh dengan anak-anak. Meski kesibukan saya saat ini cukup tinggi, namun secara emosi, sudah tidak ada masalah lagi.

Kuncinya adalah ketenangan, keyakinan dan selalu menyebarkan vibrasi positif ke lingkungan sekeliling. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan sambil lalu. Perlu keseriusan untuk memperbaiki hubungan yang sudah terlanjur mengalami gangguan.

Tak perlu waktu lama untuk memperbaiki semua keadaan. Betul kata orang bijak, tak ada kata terlambat. Begitu pula saya sampaikan kepada sahabat semua. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan. Mari mulai mendidik anak dengan keteladanan.

Kelola emosi dengan baik. Yakinkan diri bahwa anak yang dibesarkan dengan amarah, hanya akan menghasilkan anak yang pemarah. Anak yang dibesarkan dengan kecemasan, hanya akan menghasilkan anak yang kurang percaya diri. Anak yang dibesarkan dengan larangan-larangan, hanya akan menghasilkan anak yang penakut dan tidak berani berbuat apa pun.

Ingat, Anda juga pernah menjadi anak-anak. Coba diingat, ketika Anda menjadi anak-anak, sikap orang tua yang mana saja yang tidak Anda sukai. Nah, mumpung Anda jadi orang tua, jangan ulangi lagi kesalahan orang tua di masa lalu saat mendidik anak sendiri.

Yang lalu sudah berlalu, dan mari membuka lembaran baru untuk mendidik anak dengan penuh kasih, kesabaran, dan kasih sayang yang tulus. Jangan lupa, meminta maaf kepada anak-anak atas semua sikap, perbuatan, perkataan yang sudah pernah terlontar dari mulut kepada anak Anda. Lakukan permohonan maaf dengan tulus, bukan meminta maaf seperti saat Lebaran yang sambil lalu. Ketulusan itu akan menjadi pintu gerbang utama membawa anak ke perilaku yang lebih santun dan penurut. 

Bagaimana menurut Anda?

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes