BREAKING NEWS

Saturday, December 12, 2015

Ingin Bercerai? Baca Ini Dulu


Sebagaimana pada orang dewasa, perceraian dapat menimbulkan kerusakan mental pada anak-anak yang terjebak di tengah-tengah. Karena tidak terbiasa mendapat tekanan sebesar itu, mereka seringkali menghadapinya dengan cara yang kurang positif.

Para orangtua yang telah siap menghadapi reaksi anak-anak, mereka dapat membantu si anak untuk melewati masa-masa sulit tersebut. Sedangkan mereka yang tidak siap, dapat memperpanjang stres bagi anak-anak mereka dan mereka sendiri. Dampak pada anak ini bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan.

Sebagai trainer Hypnotherapy for Children alias hipnoterapi anak, saya memahami pentingnya pemahaman terhadap teori tangki cinta. Anak-anak pasti akan terpengaruh dari sisi pemenuhan kasih sayangnya ketika kedua orang tuanya berpisah.  


Orang tua tidak bisa mengatakan bahwa semua akan berlalu begitu saja. Sebab dampak terbesar dari sebuah perceraian akan dirasakan anak-anak. Saya sempat menangani beberapa trauma yang menimpa anak-anak, akibat kedua orangtuanya bercerai. Apa yang terjadi di ruang terapi membuktikan, persoalan cerai tidak bisa dianggap remeh jika dilihat dari sudut pandang anak-anak.

Adalah benar bahwa efek dari perceraian tidak selalu bersifat negatif. Terutama dalam kasus dimana terjadi penganiayaan terhadap anak. Tapi, perceraian tetap merupakan hilangnya kesatuan keluarga.

Anak-anak yang berasal dari kelompok usia berbeda akan menghadapi stres akibat perceraian dengan cara berbeda, tapi ada beberapa reaksi tipikal dalam semua kelompok umur.

Reaksi yang umum pada anak-anak adalah mereka merasa bahwa merekalah yang menyebabkan perceraian tersebut. Mereka merasa bahwa jika membereskan mainan atau jika bersikap lebih manis, orangtua takkan bercerai.

Depresi atau kemarahan juga sering terlihat pada anak-anak yang menghadapi perceraian. Anak-anak yang lebih tua mungkin akan mulai mencoba-coba mengonsumsi narkoba atau bergaul dengan orang-orang yang salah, sementara anak-anak yang lebih muda mungkin akan menjadi semakin agresif. Beberapa anak-anak lebih muda sangat marah pada salah satu orangtua yang mereka anggap sebagai penyebab perceraian. Terkadang, mereka marah pada kedua orangtua.

Reaksi lain yang seringkali muncul pada anak-anak antara lain perasaan bahwa mereka tidak disayang atau merasa dicampakkan. Masalah dalam konsentrasi atau tugas-tugas sekolah, kehilangan harga diri dan kepercayaan diri. Belum lagi merasa malu ketika teman-teman sebaya mereka mengetahui tentang perceraian tersebut dan mengadu loyalitas pada kedua orangtua mereka.

Anak-anak yang lebih muda cenderung mengekspresikan perasaan mereka lewat tindakan karena mereka tidak dapat mengungkapkannya lewat kata-kata.

Mereka belum memiliki skill untuk menyatakan perasaan mereka secara verbal. Sementara itu, anak-anak yang lebih tua dan remaja dapat mendiskusikan perasaan mereka, tapi itu tidak membuat situasi lebih mudah bagi mereka.

Anal-anak sedang mengalami masa pertumbuhan yang sangat krusial. Sementara perceraian hanya meningkatkan keresahan dan masalah mereka.
Jadi, apa yang dapat dilakukan para orangtua untuk membantu meringankan beban anak-anak mereka?

Yang pertama dan terpenting adalah bersikap jujur dan terbuka pada mereka. Para orangtua seringkali merasa mereka justru melindungi anak-anak mereka dengan tidak membicarakan masalah perceraian tersebut.

Persoalannya terkadang imajinasi anak-anak jauh lebih parah dari realitas. Anak-anak bertanya-tanya tentang perceraian dan mungkin akan mendapatkan informasi tentang proses tersebut dari kawan-kawan sekolahnya yang juga pernah mengalami masalah yang sama. Kadang-kadang, informasi tersebut jauh dari akurat.

Bersabarlah dan bersikap pengertian dan dengarkan anak-anak. Dalam banyak hal, menghadapi perceraian serupa dengan menghadapi kematian orang yang dicintai, sehingga anak-anak takkan cepat melupakannya. Sama  seperti orang dewasa yang takkan dengan mudah melupakan perceraian tersebut.

Para orangtua harus terus menerus meyakinkan anak-anak bahwa walaupun perkawinan mereka berakhir, itu sama sekali bukan salah anak-anak dan si anak masih tetap orang yang mereka cintai.


Kebanyakan anak akan mengimpikan bahwa orangtua mereka akan kembali bersama. Para orangtua harus memberitahu pada anak-anak mereka bahwa perasaan semacam itu sangat normal. Impian semacam itu dapat terus terbawa hingga si anak menginjak dewasa.

Para orangtua juga dapat membantu anak-anak mereka dengan hanya membantu mereka sendiri menghadapi masalah tersebut. Anak-anak seringkali meniru masalah yang mereka lihat sedang dihadapi oleh orangtua mereka. Para orangtua yang mengalami depresi, sebagai contoh, kemungkinan besar membuat anak-anak mereka juga mengalami depresi.

Bergabunglah dengan sebuah support group, mulailah sebuah program olahraga secara teratur, atau luangkan waktu lebih banyak bersama keluarga dan teman. Apapun yang dapat membantu orangtua mempertahankan keseimbangan diri yang cukup akan membawa keuntungan bagi anak-anak. (*)



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes