HYPNO NEWS

Wednesday, December 9, 2015

Jengkel Sama Mertua? Atasi dengan Ini


“Mas, anak saya itu sudah kuliah lho. Apa iya, masih harus mengisi tangki cintanya?” demikian pertanyaan yang masuk ke inbox, sekaligus mengomentari teori bahasa kasih yang saya tulis di website: www.endrosefendi.com.

Sahabat, di dalam Undang-undang soal anak, usia yang dianggap masih anak-anak adalah 0 sampai 21 tahun. Namun, sebagai trainer Hypnotherapy for Children alias hipnoterapi anak, landasan yang kami gunakan adalah, berapa pun usianya, jika secara mental masih sangat tergantung pada orangtuanya, itulah yang dinamakan anak-anak.

Dengan demikian, maka orangtua tetap harus mengisi tangki cinta anak, berapa pun usianya, selama anak itu masih bergantung pada ayah atau ibunya.


Lantas, bagaimana jika ada pria dewasa yang sudah menikah namun secara mental juga masih bergantung pada ibunya? Ya, itu juga bisa didefinisikan sebagai pria dewasa yang masih anak-anak. Artinya apa? Ego personality alias bagian dirinya yang anak-anak, masih sangat dominan.

Sahabat, tolong bedakan anak yang berbakti dengan orangtua, ketika dia sudah berkeluarga, dengan anak yang masih bergantung pada orangtuanya. Sebab perbedaannya cukup jelas. Anak yang berbakti, dia tetap sopan, santun, dan sangat menghargai keberadaan orangtuanya. Namun perilakunya sangat dewasa dan bisa membedakan posisinya sebagai anak dan sebagai suami sekaligus kepala keluarga untuk istri dan anaknya.

Sementara pria dewasa yang masih seperti anak-anak, akan lebih banyak ‘mengadu’ kepada orangtuanya dan tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah.

Karena itu, orangtua juga perlu bijaksana dalam mengajarkan kemandirian pada anak. Umumnya, orang dewasa yang masih berperilaku seperti anak-anak, juga diakibatkan oleh perasaan cemas dan khawatir dari orangtuanya.

Tak sedikit orangtua yang enggan melepas buah hatinya untuk mendirikan rumah tangganya sendiri. Tak heran jika sebagian orangtua melarang anaknya, baik laki-laki maupun perempuan yang sudah menikah, meninggalkan rumah mereka. Orangtua seperti ini tidak rela kehilangan anaknya, dan masih ingin ‘menguasai’ anaknya, sehingga tidak rela hidup terpisah dengan suami maupun istrinya.

Akibatnya, orangtua masih mudah melakukan intervensi kepada anak maupun menantu. Kalau sudah seperti ini, kemandirian seperti apa yang bisa diajarkan dengan baik kepada rumah tangga si anak?

Ketika anak sudah menikah dan berumah tangga sendiri, maka secara mental sudah dianggap dewasa dan harus lepas dari ketergantungan orangtua. Jika selama ini anak mendapatkan pasokan kasih sayang dari orangtua, maka saat ini lebih banyak pasokannya digantikan dari suaminya atau istrinya. Bahkan, sebagai suami atau istri, harus mampu memberikan kasih sayang terhadap pasangannya, juga kepada anaknya.

Poin utamanya adalah, ketika sudah berumah tangga, sebaiknya mendirikan rumah tangga dengan mandiri dan betul-betul memiliki visi dan misi yang jelas tentang rumah tangga yang akan dibangun. Sebaiknya hal ini juga dibicarakan kepada orangtua dan mertua, agar tujuan mendirikan rumah tangga ini tidak banyak diintervensi. Sebab terkadang sebagai pasangan muda, sudah memiliki arah dan tujuan yang jelas. Kalau pun masih bingung, boleh saja meminta advis dari mertua atau orangtua. Sekali lagi sampaikan untuk sekadar menerima advis, bukan intervensi.

Dalam beberapa kasus, saat melakukan sesi hipnoterapi kepada beberapa klien, tak sedikit akar masalah terjadi akibat rasa jengkel, dendam, sakit hati, atau luka batin terhadap mertua. Umumnya ini terjadi ketika klien tinggal satu rumah dengan mertua. Jika saja mereka tinggal sendiri, tentu perasaan tidak nyaman ini bisa ditekan.

Kelihatannya masalah tidak suka dengan mertua adalah hal sepele, bahkan dianggap sebagai hal lumrah. Namun nyatanya, ketika hal ini terus-menerus terjadi, apalagi jika sejak awal pernikahan tidak mendapat restu mertua, maka akan menjadi masalah yang sangat rumit. Beberapa kasus psikosomatis, sakit fisik yang disebabkan oleh psikis, terjadi akibat persoalan dengan mertua sendiri.


Sahabat yang ingin menikah, atau sudah menikah namun ada persoalan dengan mertua, ada baiknya dibereskan dulu perasaan tidak nyaman ini. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut, maka pada akhirnya luka batin akan semakin dalam dan semakin sulit diatasi. 

Bagaimana menurut Anda?

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes