Friday, December 4, 2015

Lamborghini dan Kebebasan Pers


Belakangan ini, para wartawan seolah menjadi alergi mendengar merek mobil Lamborghini. Apa lagi kalau bukan gara-gara kecelakaan maut yang menewaskan satu orang melibatkan mobil Lamborghini yang dikemudikan Wiyang Lautner (24), Minggu (29/11/2015) di Surabaya.

Sesaat setelah kecelakaan terjadi dan beritanya cukup menghebohkan belantara maya, saya termasuk ikut mencermati dan tetap berpikir positif atas apa yang terjadi. Saya bahkan pernah membuat tulisan Lamborghini Anak-anak untuk menegaskan bahwa setiap orang bisa saja melakukan kesalahan. Tak peduli kaya atau miskin, pintar atau bodoh. Pendek kata, status sosial tidak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian tersebut.


Namun, munculnya iklan ultimatum setengah halaman yang dimuat di Jawa Pos, Kamis (3/12/2015), mau tidak mau mengusik bagian diri saya yang lain. Selama ini, hanya bagian diri saya (ego personality/EP) yang penulis atau hipnoterapis yang dominan muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu melihat ada iklan yang ‘menyerang’ profesi para jurnalis, seketika EP yang memegang peranan sebagai wartawan sekaligus ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim di dalam diri saya, langsung aktif. Apalagi saya juga mengantongi sertifikat ahli pers dari Dewan Pers jika sewaktu-waktu diminta menjadi saksi ahli pers di persidangan.

Iklan itu intinya mengingatkan agar semua media dan masyarakat di media sosial tidak menayangkan pemberitaan negatif. Tim pengacara pelaku itu pun menegaskan akan menempuh jalur hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku, bagi media yang tidak melaksanakan imbuan tersebut. Poin yang dijadikan dasar adalah bahwa sudah ada perdamaian dengan keluarga korban, serta ada unsur mobil itu mengalami gangguan.

Saya tidak mau mengomentari terlalu jauh soal mobil mewah nan mahal itu. Pihak Lamborghini pasti juga tidak mau disalahkan begitu saja seperti yang tercantum dalam iklan. Namun soal perdamaian dengan keluarga korban, bukankah tidak akan menghapus konsekuensi hukum apa pun? Pelaku korupsi yang sudah mengambil uang negara, tetap dihukum meski sudah mengembalikan uang hasil korupsinya.

Saya mungkin sangat setuju pelaku dibebaskan asalkan pelaku penabrakan bisa mengembalikan nyawa korban seperti sedia kala. Masalahnya, nyawa tak mudah dikembalikan seperti uang hasil korupsi. Sedangkan yang sudah korupsi saja terkadang susah mengembalikan uangnya, apalagi urusannya nyawa.

Wajar kalau kemudian para penghuni dunia maya bereaksi akibat ulah pengacara yang memasang iklan ultimatum ini. Iklan ini seolah menjadi penegasan, bahwa pelaku memiliki ‘benteng hukum’ yang sangat kokoh dan berani melawan siapa saja. Iklan ini juga seolah menjadi penegas status sosial dan semakin melebarkan jarak dengan publik.

Saya awalnya termasuk ikut bersimpati ketika melihat kenyataan bahwa pelaku ikut bertanggung jawab dan tidak lari dari kenyataan. Termasuk saya tidak mau ikut-ikutan menghujat pelaku, seperti halnya netizen lainnya. Sebagian besar warga dunia maya lainnya pun menunjukkan rasa simpati dan empati, baik kepada korban dan pelaku.

Namun akibat iklan yang menggambarkan ‘kepongahan’ pelaku, netizen yang awalnya simpati, kini menjadi berbalik ikut merasa tidak nyaman dan akhirnya memberikan serangan balik.

Inilah pentingnya belajar manajemen pengelolaan media. Masih ingat dengan kecelakaan Air Asia yang menewaskan lebih banyak korban di ujung 2014 lalu? Terlepas bahwa kecelakaan itu adalah kesalahan Air Asia, namun sikap CEO Air Asia Tony Fernandes yang meminta maaf dengan tulus, justru membuat maskapai ini lebih banyak mendapat simpati publik.

Andai saja tim pengacara Wiyang, sang pengemudi Lamborghini, justru memasang iklan permintaan maaf kepada publik, tentu akan berbeda hasilnya. Simpati justru akan terus membesar. Maaf merupakan perkataan sekaligus perbuatan yang sangat penting. Bahkan dalam proses terapi menggunakan metode hipnoterapi, saling memaafkan ini adalah salah satu proses penting yang juga harus dilalui oleh klien. Tanpa ada proses saling memaafkan, proses terapi akan gagal total. 

Persoalannya, yang dipasang adalah iklan ultimatum, ya jangan salahkan jika publik balik menyerang. Sebab sekali lagi, iklan ultimatum itu justru akan menjauhkan simpati dan empati, malah mendatangkan iri dengki dan hujatan di sana sini.   


Semoga saja, semua pihak tetap jernih menyikapi kasus ini. Sekaligus kita buktikan bahwa hukum di negeri ini tidak bisa dibeli. Semoga. (*) 

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...