HYPNO NEWS

Monday, December 21, 2015

Lima Langkah Mengajarkan Disiplin pada Anak


Mengajarkan anak disiplin tidak bisa dilakukan sambil lalu. Harus dilakukan secara terus menerus dan tidak kenal lelah. Kenapa? Karena ini ibarat pondasi yang perlu ketelitian dalam mendirikannya. Jika pondasinya kokoh, maka apa pun bentuk bangunan yang akan dibuat, akan kuat dan cantik. Karakter apa pun yang akan ditanamkan kepada anak, akan tertanam dengan baik jika mentalnya sudah terbentuk.

Lantas bagaimana cara mengajak anak kerja sama agar kelak bisa disiplin? Pertama, katakan dengan jelas masalah atau hal yang ingin disampaikan. Sebagai contoh, membiasakan anak meletakkan sepatu di rak sepulang sekolah. Maka, berikan penjelasan pada anak dengan kalimat tegas dan tepat.


“Kok ada sepatu berserakan di ruang tamu ya?” Kalimat ini akan memberikan penegasan pada anak, bahwa perilakunya sudah membuat orang lain tidak nyaman.

Selanjutnya kedua, berikan informasi yang jelas atas apa yang sudah dilakukan anak tersebut.

“Sepatu yang berserakan seperti ini, membuat lantai ruang tamu kotor. Saat melewati ruang tamu, kaki jadi kurang nyaman melangkah.”

Kalimat tersebut akan memberikan informasi yang lebih jelas kepada anak, bahwa akibat perilakunya meletakkan sepatu sembarangan, ruang tamu menjadi kotor dan mengganggu orang lain.    

Langkah ketiga, ungkapkan dengan sebuah kata yang tegas. Dalam contoh kasus ini, ucapkan dengan tegas soal “sepatu”. Kenapa? Ini untuk menanamkan ke pikiran bawah sadar, bahwa yang dibahas adalah sepatu. Penegasan akan sekaligus memberikan informasi soal sepatu yang harus diletakkan pada tempatnya setelah dipakai.

Kemudian yang keempat, utarakan perasaan Anda kepada anak.

“Ibu/Mama/Umi tidak suka melihat ruang tamu kotor karena sepatu yang berserakan.”

Menyampaikan perasaan dengan jelas seperti ini sekaligus akan mengajarkan anak agar bersikap terbuka. Dengan demikian, anak menjadi terbiasa menyampaikan perasaan ketika ada sesuatu yang membuat dirinya tidak nyaman. Sikap saling terbuka seperti ini akan mengembangkan jiwa egaliter dalam lingkungan keluarga, sehingga anak tidak terbiasa memendam perasaan.

Meski demikian, kalimat yang disampaikan pada langkah pertama sampai keempat harus diucapkan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.  Tegas tentu bukan berarti membentak dan marah. Ketegasan di sini adalah dalam hal menyampaikan maksud dan tujuan.

Tetap sampaikan semua kalimat itu dengan tatapan mata yang tulus, diiringi dengan usapan lembut di tubuhnya. Sehingga anak akan semakin merekam informasi yang disampaikan, dan langsung menembus pikiran bawah sadarnya.

Selanjutnya tahap kelima, yang perlu dilakukan adalah menuliskan pesan pada tempat yang tepat. Misalnya di rak sepatu, tuliskan kalimat, “Simpan aku di sini. Supaya aku mudah dicari kembali saat akan dipakai lagi, terima kasih.” Tertanda “sepatumu”.

Lakukan kelima langkah di atas untuk mengajarkan disiplin pada anak. Misalnya membiasakan meletakkan handuk basah di jemuran setelah mandi, atau membiasakan meletakkan tas dan buku pelajaran di tempat yang sudah disiapkan.

Usia anak-anak adalah masa yang sangat efektif untuk membentuk mental dan katakternya. Jika sudah terbiasa, maka dewasa nanti akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan peka terhadap lingkungan di sekitarnya.


Bagaimana menurut Anda?     

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes