BREAKING NEWS

Sunday, December 20, 2015

Mobil Mewah dan Perilaku Membuang Sampah


Mendidik anak bukanlah proses sesaat dan bisa berhasil dengan seketika. Mendidik anak memerlukan proses simultan, karena yang paling utama adalah pembiasaan.

Jangan heran jika di negara maju, seperti di Australia misalnya, orang tua lebih khawatir anaknya tidak terbiasa antre, ketimbang tidak bisa matematika. Kenapa? Karena untuk belajar matematika, cukup diberi les intensif, maka anak akan bisa menguasai matematika dengan cepat dan mudah. Sementara membiasakan budaya antre, tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu yang lama dan terus menerus.


Mengajarkan sikap dan perilaku, memang perlu waktu serta keteladanan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka sikap antre, dalam hal ini sikap mengendalikan diri, akan mendarah daging dan sudah merasuk ke dalam pikiran bawah sadar.

Begitu juga kebiasaan membuang sampah di tempatnya, perlu terus dicontohkan dan terus-menerus diingatkan kepada anak-anak sejak dini. Yang menjadi masalah adalah, orang tua terkadang kerap memberikan contoh yang salah.

Saat berkendara di jalan, saya masih sering menjumpai orang yang dengan mudah melempar sampah dari balik kaca mobil ke jalanan. Baik itu sampah berupa tisu, kemasan makanan ringan, hingga botol bekas minuman. Ironisnya, terkadang sampah itu dibuang oleh orang dewasa.

Hal ini mengindikasikan, keluarga sang pemilik mobil, bahkan tak jarang masuk ketagori mobil mewah, belum punya perilaku setara dengan mobil yang ditumpangi. Kalau sudah seperti ini, mungkinkan anak mendapat contoh dan keteladanan yang tepat.

Mungkin ada yang berkata, maklum jika sampah dibuang oleh penumpang angkutan umum. Tapi kalau sampah dibuang oleh penumpang mobil kelas menengah atas, rasa-rasanya kok ya kurang pantas dilihat.
  
Sahabat, tak sedikit warga yang mengomel jika hujan turun kemudian diikuti dengan genangan air alias banjir. Tapi, berapa banyak yang sadar bahwa banjir itu juga berasal dari sikap kurang terpuji dalam membuang sampah.

Jalan, parit, bahkan sungai, bukanlah tempat sampah. Hal ini perlu ditanamkan ke pikiran bawah sadar, sejak dini. Jujur, saya pun pernah melakukan kesalahan di depan anak-anak. Pernah suatu ketika, saya lupa melempar botol bekas minuman sembarangan. Anak saya langsung menegur seraya protes, kenapa saya membuang sampah sembarangan. Segera, botol itu saya pungut kembali, sembari meminta maaf kepada anak saya. Begitu ada tempat sampah, barulah saya buang kembali.

Hasilnya memang terlihat, anak-anak tidak pernah membuang sampah ke luar jendela mobil. Ini pun harus terus dijaga dan diingatkan. Sebab, pernah satu kali ada anggota keluarga lain yang ikut menumpang, mencontohkan membuang sampah ke luar kaca jendela. Saya tentu merasa tidak nyaman jika langsung menegur. Sesampainya di rumah, barulah anak-anak kembali diingatkan dan akhirnya mereka paham.

Hidup ini tidak hanya sekadar urusan akademik. Masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh angka indeks prestasi semata. Lebih dari itu, banyak nilai-nilai keseharian yang sangat penting untuk mendukung kemajuan dan masa depan seseorang.

Nilai kejujuran, sopan santun, etika, menghormati orang lain, serta berbagai sikap lainnya, juga tak kalah pentingnya sebagai penunjang dan tolok ukur keberhasilan seseorang.

Tak usah sibuk mencaci dan memaki jika ketemu orang yang belum bersikap terpuji. Lakukan terbaik untuk keluarga terutama diri sendiri.  Mustahil bangsa ini maju jika hal-hal yang mendasar seperti ini, masih belum merasuk ke dalam hati.

Tak perlu menunggu aturan atau ketentuan setingkat undang-undang untuk melakukan revolusi mental. Cukup mulai dari diri sendiri dan keluarga, dan harus dimulai dari sekarang. Sebab, jika tidak mulai dari sekarang, kapan lagi?

Bagaimana menurut Anda?



Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes