BREAKING NEWS

Friday, December 4, 2015

Pembiaran atau Pembiasaan?


SEJAK kecil sebaiknya anak harus diajarkan mandiri dan paham aturan. Dengan cara itu pembinaan kejiwaan dan tingkah laku pada anak akan semakin mudah dikembangkan hingga dewasa nanti. Bila kemandirian itu dibiasakan sejak kecil, tidak akan sulit membiasakan hidup mandiri pada anak meski sudah berumur dewasa. Sebab pada dasarnya, perilaku anak akan terbentuk melalui dua hal yakni akibat pembiaran atau pembiasaan.

Pernah ada sahabat yang mengeluh soal anaknya. “Mas anak saya itu kok susah ya diajarkan disiplin. Setiap kali pulang sekolah, baju, tas sekolah, sepatunya dibiarkan berhamburan,” tanyanya. Saya lantas bertanya, apakah itu berlangsung setiap hari? “Ya, setiap hari,” katanya.


Nah, kalau itu berlangsung setiap hari, itu artinya anak sudah disiplin. Disiplin dalam melakukan hal yang kurang teratur. Ini berarti anak disiplin akibat proses dari pembiaran. Karena sejak awal anak dibiarkan melakukan hal ini, maka lama-lama menjadi pembiasaan, dan anak pun menganggap hal ini sebagai sesuatu yang lumrah.

Karena itu, yang perlu dilakukan adalah pembiasaan. Setiap kali anak melakukan sesuatu yang kurang pas, tegur, diluruskan. Tidak perlu marah bahkan sampai urat leher keluar. Cukup diberi tahu bagaimana sebaiknya tindakan yang tepat. Kalau besok masih melakukan hal yang kurang pas, tegur lagi, koreksi lagi. Dengan pembiasaan seperti itu, anak tentu akan menjadi lebih disiplin positif.

Harus diakui, mengajarkan anak tahu aturan agar dia mandiri, membuat orang tua sedikit repot. Namun, bukankah sudah menjadi kewajiban orang tua untuk dengan sepenuh hati mendidik anak?

Lantas kapan waktu yang tepat melatih pembiasaan? Jelas sejak sedini mungkin. Ketika masih bayi, 100 persen memang masih tergantung pada orang terdekatnya, dalam hal ini orang tuanya. Pada masa-masa ini, belum bisa diajarkan aturan dan kemandirian karena semuanya masih tergantung dengan orang tua dan belum bisa bergerak sendiri.

Saat sudah mulai memasuki usia  2 tahun, si kecil biasanya  sudah mulai belajar makan sendiri atau melakukan aktivitas lainnya. Jika sudah usia seperti itu, orang tua harus mau repot. Meski apa yang dilakukan si buah hati itu pada akhirnya membuat semuanya berantakan, tapi hal itu harus dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan jadikan itu sebagai proses belajar. Misalnya saja ada perabotan atau peralatan makan pecah,  orang tua harus memakluminya. Anggap saja perabotan yang pecah itu sebagai ongkos belajar. Lagi pula, mahal mana perabot yang pecah dengan harga anak? He he he.

Ada baiknya anak disediakan tempat makan dari plastik yang tidak mudah pecah. Anak usia seperti ini biasanya ingin makan sendiri tanpa bantuan orang lain, itu adalah hal yang bagus. Tapi yang penting harus terus diawasi. Sebab ada kecenderungan  si kecil tidak akan menghabiskan makanannya. Kalau  memang tidak dihabiskan, sebaiknya agak sedikit dipaksakan, supaya anak tidak terbiasa menyisakan makanannya. Misalnya anak yang tidak menghabiskan makanan bubur kacang hijau padahal sesuai takarannya, maka sebaiknya dibantu dengan cara disuapin sambil dibujuk sampai mau.

Namun juga harus dipastikan, jangan sampai memaksakan makanan justru akan menjadi trauma tersendiri ketika ia dewasa nanti. Terbukti, saya pernah melakukan terapi pada anak yang takut nasi sejak usia 6 tahun sampai usia 17 tahun, hanya karena ada trauma saat masih kecil.  

Perilaku lain misalnya anak belajar menyapu lantai, sebaiknya dibiarkan saja, jangan dimarahi meski hasilnya berantakan. Untuk mengatasi hal itu, orang tua harus peka atau sensitif melihat perkembangan anak. Contoh lain ketika si kecil terjatuh, diupayakan agar anak bisa bangun sendiri dari jatuhnya, dengan dorongan sugesti atau support yang menyenangkan hati si anak.

Misalnya dengan ucapan lembut, tidak terkesan memarahi atau menghakimi. Meski begitu, bila kondisi anak memang benar-benar memerlukan bantuan, ya harus dibantu tanpa meninggalkan kesan sayang pada anak.

Bila tiba-tiba anak mencoba naik tangga sendiri, sebaiknya dibiarkan saja sebagai bentuk melatih kemandiriannya. Tapi ya harus tetap diawasi.

Saat anak mulai berumur   4 tahun, sebaiknya diajarkan memakai sendiri sepatu serta bajunya. Sebab usia seperti itu biasanya sudah mulai lebih berkembang. Dengan dorongan semangat yang positif, si kecil biasanya akan bersemangat dan senang hati memakai pakaiannya sendiri.

Begitu juga ketika buah hati sudah mulai berumur 5 tahun, sebaiknya diajarkan mandi sendiri. Meski agak sulit, orang tua harus terus-menerus tanpa henti mengajarkan si kecil melakukannya. Dengan cara itu anak akan melakukannya dan menyadari bahwa dirinya ternyata bisa melakukannya sendiri.

Tahapan-tahapan ini harus dilakukan secara terus-menerus tanpa henti. Meski demikian, biasanya ada fase yang terhenti ketika anak sudah mulai kelas 3 SD hingga remaja. Sebab masa seperti itu biasanya jarang ada masalah.

Ketika menginjak masa remaja itulah baru akan timbul permasalahan baru. Sebab remaja biasanya identik dengan masalah yang cukup banyak dan komplek.


Untuk mencegahnya timbulnya permasalahan itu, diperlukan interaksi dengan keluarga dengan baik di rumah. Selain itu pemberian pendidikan anak sebagai individu dalam bersikap dan bersopan santun juga sangat diperlukan. (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes