Tuesday, December 15, 2015

Pilkada dan Sang Bijaksana


Pilkada telah berlalu. Namun itu hanya dari sisi waktu. Faktanya di dalam pikiran para pelaku politik, upacara demokrasi itu masih membekas. Sebagai trainer teknologi pikiran, saya mencoba memahami proses pilkada ini dari sisi berbeda.

Berbeda bagaimana maksudnya? Ya, bagi mereka yang terlibat politik, tidak ada yang namanya masa lalu atau masa depan. Yang ada adalah masa sekarang. Itulah sifat pikiran bawah sadar. Sehingga sejatinya, orang yang selalu menggunakan pikiran bawah sadar salah satunya adalah orang politik.

Kenapa? Karena bagi mereka yang ada hanya masa sekarang. Tidak ada istilah move on dari masa lalu, atau memikirkan masa depan. Yang ada hanyalah sekarang. Karena keinginan tidak terpenuhi, maka ketika kalah, tetap akan terus menuntut dan menuntut. Seandainya ada jalur bisa menuntut ke Tuhan pun akan dilakukan.  


Karena itu tidak membawa mereka yang suka di jalur ini menuju ke arah masa depan yang dianggap baik menurut orang umum kebanyakan. Sebagai contoh, meski pemilihan presiden sudah selesai, nyatanya masih saja ada yang saling hujat sana - sini. Kalau hanya sekadar mengkritik pemerintah, tentu tidak masalah. Namun yang terjadi adalah, masih tidak rela jagoannya kalah.

Sementara Prabowo sudah legowo dan tak lagi mempersoalkan kekalahannya, namun ini tak serta merta diikuti pendukungnya. Akibatnya, hawa kampanye pun tetap terasa hingga saat ini.

Itu pula yang terjadi saat pilkada serentak beberapa waktu lalu. Bagi daerah yang persaingannya ketat dan sengit, pikiran bawah sadar pelaku politiknya sulit dibawa ke masa depan. Yang terjadi hanya masa sekarang dan sekarang. Karena itu, tak peduli siapa yang dapat suara terbanyak dan sudah dipastikan menang, bagi yang pilihannya tak sesuai keinginannya, semua dianggap salah.

Pembaca yang budiman, dalam setiap diri manusia umumnya ada bagian diri yang suka kompetisi dan suka menang sendiri. Jika bagian diri ini aktif, saat kalah dalam pilkada, maka bagian diri ini masih penasaran dan tidak rela menghadapi kekalahan itu.

Padahal di balik perasaan ingin menang sendiri itu, saya yakin pasti ada bagian diri yang bijaksana dan bagian ini sudah sering memberi nasihat.
Di saat seseorang mengalami masalah, misalnya menghadapi sebuah kegagalan, sang bijaksana akan selalu hadir memberikan nasihat dan solusi. Coba Anda duduk tenang dan dengarkan isi hati dari sang bijaksana, pasti ada jawaban yang menyejukkan diri.

Lantas kenapa sang bijaksana kadang tidak muncul? Ini terjadi karena sang ego memberikan perlawanan atas kehadiran sang bijaksana. Sehingga apa pun yang disampaikan sang bijaksana, sama sekali tak terdengar lagi dalam nurani.

Bagi mereka yang mampu mendengar nasihat sang bijaksana, mereka pun tenang dan berusaha menghibur diri. Mereka mampu melihat kenyataan karena hidup harus terus berjalan. Sementara urusan politik hanya bagian kecil yang tidak harus diberi porsi besar dan menguras energi.

Sedangkan bagi mereka yang tidak peduli dengan sang bijaksana, maka emosi tidak nyaman ini akan tetap ada bahkan tersimpan hingga lima tahun yang akan datang, saat pilkada digelar kembali.

Lantas, kenapa saya jadi menulis soal ini. Awalnya saya memang tidak ada niat menulis soal pilkada. Apalagi saya memang bukan pelaku dan penikmat politik. Namun tiga hari lalu, saya kedatangan klien yang benar benar merasa terganggu dengan persoalan pilkada ini.

Ya, klien ini mengaku kalah taruhan sejumlah uang. Jagonya dalam pilkada di salah satu daerah di Kaltim, tumbang. Padahal, dia sangat yakin bakal bisa menang. Perasaan yang tidak bisa menerima kenyataan inilah yang sangat mengganggu.

Klien ini menjadi susah tidur dan uring-uringan. Sudah lima hari terakhir klien tidak bisa tidur nyenyak. Meski dia sebelumnya doyan taruhan untuk urusan lain, seperti bola atau judi kartu di media maya, namun perasaan kali ini sangat berbeda.

"Mungkin karena saya sudah terlalu yakin menang, makanya sangat terganggu," imbuhnya.

Politik memang sangat rentan mengganggu pikiran bawah sadar. Bahkan politik adalah salah satu sumber kebocoran energi yang paling besar. Coba Anda rasakan, ketika berbicara soal politik, apalagi jika ada saling hujat dan saling menjelekkan serta menyalahkan, badan terasa lebih cepat lelah dan bisa stres dengan sendirinya.

Yang parah lagi, momen untuk memikirkan keluarga pun berkurang. Padahal justru orang terdekat inilah yang perlu pasokan energi kasih sayang setiap hari dengan tulus. Selama pilkada, tak sedikit keluarga yang kehilangan kasih sayang itu.  

Apalagi mereka yang sangat aktif dalam proses kenduri demokrasi itu, coba diingat kembali, berapa banyak waktu untuk keluarga yang tersita. Anak anak umumnya  menjadi korban hajatan politik ini.

Tak sedikit anak yang takut mendekati ayah atau ibunya yang aktif di politik, karena takut jadi sasaran pelampiasan. Akibatnya mereka benar-benar menjadi korban, dan tangki kasih sayang anak, tidak terisi dengan baik.

Bagi yang pandai dan bijaksana, tentu bisa dengan tegas memilih serta membagi waktu. Mereka bisa dengan cepat mengaktifkan bagian diri sebagai ayah atau ibu, saat berada di rumah. Selama di rumah, bagian diri yang suka politik sebaiknya dinonaktifkan sementara. Sebab kalau bagian diri yang suka politik ini selalu aktif 24 jam, kasihan keluarga dan lingkungan sekitar yang jadi korban.

Selepas menulis ini pun, saya merasa cukup lelah karena lebih banyak memerlukan energi, ketimbang menulis artikel lainnya. Beruntung, sebelum menulis artikel ini, saya sudah memohon izin pada sang bijaksana agar bisa ikut menuntun menyelesaikan tulisan ini dengan cepat dan tepat. Bahkan sang bijaksana juga membantu merumuskan isinya. Sang bijaksana beberapa kali mengingatkan jangan sampai tulisan ini membuat tidak nyaman sebagian orang.

Apa yang disampaikan sang bijaksana dalam diri saya ini hanya untuk masukan dan perenungan. Kalau kemudian ada yang masih dianggap kurang pas, maka di sinilah saat yang tepat untuk membimbing sang bijaksana agar terus belajar dan kembali belajar. Agar sang bijaksana dalam diri saya, benar-benar semakin bijaksana.

Bagaimana menurut Anda?


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...