BREAKING NEWS

Sunday, December 13, 2015

Rokok dan Hormon Kebahagiaan


“Mas, tolong dijadwalkan. Saya minta suami saya dihipnoterapi supaya berhenti merokok,” kata seorang wanita melalui telepon seluler.

Saya pun memastikan, apakah keputusan berhenti merokok ini permintaan si wanita ini, atau murni keinginan suaminya? “Saya yang suruh, mas. Saya sudah capek marah-marah, tapi ngga juga diheranin (tidak diresponse),” ujar wanita tersebut.

Dengan santun dan sabar, saya berikan penjelasan bahwa hipnoterapi tidak akan bisa berlangsung tanpa ada keinginan sendiri dari klien. Karena itu, harus ada kemauan dulu dari klien. Kalau pun masih juga dipaksa datang, maka biasanya hanya saya berikan edukasi soal hipnoterapi.

Apalagi urusan rokok, hal paling utama yang diperlukan adalah keinginan kuat dari klien itu sendiri. Jika tidak, proses hipnoterapi tidak akan berhasil maksimal. Apalagi dalam beberapa kasus, sebagai hipnoterapis saya harus memastikan apakah klien aman jika dilepaskan dari ketergantungannya terhadap rokok. Bisa saja klien malah mengalami gangguan lain yang membahayakan jika tiba-tiba ketergantungannya terhadap rokok, dihentikan seketika.

Karena itu, syarat paling utama adalah keinginan kuat dari klien untuk berhenti mengisap asap tembakau tersebut. Jika sudah kuat, barulah hipnoterapis akan membantu dan membimbing untuk memproses agar benar-benar berhenti 100 persen.  Sebab tidak mudah menekan kebiasaan yang telah menjadi kecintaan dengan paksaan.

“Berarti Mas Endro membela perokok, dong?” kata wanita itu protes. Saya bukan perokok, dan tidak ada kepentingan membela atau tidak. Ini menyangkut nyawa seseorang. Jika ada orang yang kesehatannya langsung terganggu saat berhenti merokok, bukankah justru membahayakan jika aktivitas merokoknya dihentikan seketika?


Semua pasti setuju bahwa merokok buruk untuk kesehatan. Lantas kenapa banyak perokok enggan menghentikan aktivitasnya itu? Jawabannya adalah, karena bagi mereka, merokok berkaitan dengan perasaan bahagia.

Begitu pula dengan kebiasaan mengebut di jalan raya. Semua tahu kalau ugal-ugalan dilarang hukum, namun kenapa masih dilakukan sebagian orang? Ini juga berkaitan dengan perasaan bahagia.

Zat-zat yang terkandung di dalam rokok, jelas beracun dan sangat berbahaya. Masalah terbesarnya adalah terbentuknya oksigen aktif. Zat beracun ini merupakan penyebab utama penyakit dan penuaan. Pada saat merokok, oksigen aktif terbentuk di dalam tubuh. Oksigen aktif inilah yang akan menjadi perusak sel dan menyebabkan penuaan. Dengan demikian, tidak dapat disangkal bahwa merokok berdampak buruk pada kesehatan.

Namun sebatang rokok yang disulut seorang perokok setelah sarapan pagi, ternyata menjadi media teruji untuk merangsang sekresi hormon kebahagiaan alias endorphin. Lihat saja perokok yang menikmati asap tembakau selepas makan, benar-benar lupa dengan keadaan sekeliling. Setiap isapan dinikmati dengan kusyuk dan pikiran seolang tenang dan pandangan mata terang benderang.

Akan tetapi, ketika seseorang ingat bahwa merokok itu buruk, maka akan timbul rasa bersalah. Kalau sudah rasa bersalah ini muncul, maka pengaruh positif rokok yang mampu memproduksi hormon kebahagiaan tadi, akan hilang seketika. Gantinya akan muncul pengaruh negatif di dalam tubuh.

Saat seseorang merokok dalam jumlah banyak dan menikmatinya, hormon-hormon kebahagiaan akan dilepaskan. Namun terkadang muncul perasaan negatif, “Ah lagi-lagi aku morokok. Jangan-jangan sebentar lagi aku terkena kanker paru-paru.” Atau “Jangan-jangan aku kena penyakit jantung karena kebanyakan merokok.” Jika perasaan negatif ini yang muncul, maka hormon yang diproduksi akan membuat si perokok sakit.

Apa yang saya tuliskan tersebut merupakan pendapat Dokter Shigeo Haruyama dalam bukunya The Miracle of Endorphin alias Keajaiban Hormon Kebahagiaan.

Itu sebabnya, jika memang masih ingin menikmati rokok, maka tidak boleh ada rasa bersalah sedikit pun saat melakukannya. Ini pula yang menjadi penyebab, kenapa tidak sedikit mereka yang sudah berusia lanjut, tetap merokok dan masih sehat walafiat. Boleh jadi rokok yang diisap memang benar-benar dinikmati, sehingga hormon kebahagiaan yang berlimpah bisa mempertahankan hidup sang perokok tersebut. Selain faktor X lainnya yakni hidup dan mati memang urusan Yang Maha Kuasa.  

Yang jadi masalah adalah, ketika perasaan bersalah si perokok ini justru muncul karena sering dimarahi atau diomelin oleh pasangannya. Alih-alih mendapat suplai hormon kebahagiaan di dalam tubuh, yang terjadi perokok ini semakin stres dan akhirnya apa yang ditakutkan oleh pasangan, akan benar-benar terjadi.

Tuh lihat bapakmu, merokok terus kaya kereta api. Nanti kalau kena penyakit jantung, baru tahu rasa,” begitu biasanya sang istri mengomel di depan suami dan anaknya. Niatnya mungkin baik, mengingatkan. Tapi ingat, sang perokok sedang dalam kondisi menikmati isapannya. Ini artinya, pikiran bawah sadar sedang aktif. Nah, saat aktif justru dijejali informasi yang salah, yaitu ‘sakit jantung’, maka pikiran bawah sadar akan melaksanakan perintah tersebut. Hasilnya, bukan lagi hormon kebahagiaan yang tersebar di seluruh tubuh, melainkan hormon stres yang memicu kerusakan sel.

Pikiran bawah sadar memang bekerja seperti apa yang diperintahkan. Mereka yang pikirannya selalu diliputi perasaan bahagia, biasanya jarang sakit dan bermasalah. Perasaan bahagia itulah yang mencegah kerusakan sel-sel dalam tubuh. Sehingga mereka yang selalu bahagia, termasuk selalu berpikir positif, akan memiliki kesempatan hidup lebih lama dan awet muda serta selalu bersemangat.

Namun demikian, tentu yang lebih baik adalah hidup selalu diliputi rasa bahagia dan tanpa kehadiran rokok di lingkungan Anda. Selain udara tetap segar, umumnya keluarga juga tidak merasa terganggu dengan asap yang ada. 

Bagaimana menurut Anda?


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes