BREAKING NEWS

Saturday, December 19, 2015

Saatnya Menyusun Impian



Album 2015 sebentar lagi tertutup, berganti dengan album baru 2016. Coba perhatikan album yang Anda miliki sepanjang 2015. Sudahkah sesuai dengan impian? Atau jangan-jangan ada yang terlepas atau belum tercapai? Tidak masalah. Sepanjang nafas masih bisa hilir-mudik di kerongkongan, sepanjang itu pula bebas menentukan kembali semua impian yang akan dicapai.

Saya baru saja selesai menyusun impian 2016. Total ada 20 impian yang saya tuliskan di sebuah kertas HVS kosong berwarna putih polos. Pada setiap impian yang saya tulis dengan tangan, selalu diawali dengan cek perasaan. Nyamankah perasaan saat menuliskan impian itu? Jika nyaman, lanjutkan saja. Jika tidak nyaman, pilihannya ada dua. Hilangkan perasaan tidak nyaman, atau ubah dan kurangi impian itu. Pendek kata, buat impian yang benar-benar terasa nyaman.


Menyusun impian ini adalah salah satu cara yang diajarkan dalam workshop Quantum Life Transformation (QLT). Tahun lalu 2014, saya sudah menyusun impian yang sama untuk 2015. Hasilnya, meski belum 100 persen, namun lebih dari 80 persen impian yang saya tuliskan, sudah tercapai dengan mudah dan lancar pada 2015 ini.

Kenapa impian harus ditulis? Kenapa pula harus ditulis dengan tangan dan tidak boleh ditik kemudian diprint? Sahabat, impian memang harus ditulis. Selama impian belum ditulis, maka yang Anda miliki bukanlah impian, melainkan hayalan.

Impian harus ditulis, karena dengan menulis, semua bagian tubuh mengikuti proses penulisan impian itu. Saat tangan bergerak menulis impian, maka syaraf dan otot serta persendian di seluruh tubuh ikut mengetahui impian itu. Begitu pula dengan mata serta semua pancaindera, ikut melakukan konfirmasi atas daftar impian yang sudah dibuat. Dengan demikian, pada akhirnya pikiran bawah sadar akan menerima sepenuhnya daftar impian ini. Setelah daftar impian masuk ke pikiran bawah sadar, sejatinya ini ibarat daftar pesanan yang masuk ke ruangan koki.

Sang koki yang menerima semua pesanan itu di dapur pikiran bawah sadar, akan mempersiapkan semua bahannya. Mengolah semua bahan itu hingga berhasil mewujudkan impian yang ada.

Lantas, kenapa ada impian yang tidak terwujud? Boleh jadi itu karena bahan baku tidak tersedia di dalam dapur pikiran bawah sadar. Bahan baku itu misalnya adalah cara berpikir positif, rasa percaya diri, semangat, hingga energi positif yang maksimal.

Energi positif ibarat bahan bakar yang digunakan untuk menyalakan kompor pengolah impian. Jika energi positif habis, maka kompor tidak bisa menyala. Kalau sudah seperti itu, maka impian tidak bisa diolah menjadi kenyataan.

Karena itu, setelah menyusun daftar impian, tugas kita berikutnya adalah memasok bahan baku yang diperlukan untuk mewujudkan semua impian tersebut. Energi yang positif, sikap dan perilaku yang baik, semangat, serta bertindak lebih cermat, adalah sebagian dari banyak bahan baku yang diperlukan untuk mencapai impian yang ada.

Menambah wawasan dengan membaca buku, mengikuti seminar, workshop, serta meningkatkan skill dan kemampuan, juga merupakan bahan baku penting yang harus dibeli dan diserahkan ke koki pengolah impian. Jika semua ini dilakukan, maka sang koki akan sangat mudah membuat hidangan sukses yang sangat lezat dan nikmat.

Agar koki juga leluasa, maka jangan biarkan hal-hal yang mengganggu sang koki dibiarkan berada di dapur. Dendam, sakit hati, kecewa, marah, tersinggung, dan berbagai energi negatif, adalah hal yang sangat dibenci sang koki. Karena itu, sudah menjadi kewajiban Anda untuk menutup pintu dapur rapat-rapat, dari semua pengganggu itu.

Selamat menyusun impian, dan biarkan sang koki bekerja mewujudkan impian Anda sepanjang 2016 mendatang, satu demi satu. Nikmati hasil masakan sang koki itu. Namun jangan lupa untuk selalu berbagi sedikit hasil masakan itu kepada orang lain di sekeliling Anda. Dengan demikian, lezatnya masakan sukses itu bisa dirasakan juga oleh orang lain.

Bagaimana menurut Anda?




Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes