Wednesday, December 2, 2015

Sering Menyuruh Anak, Ini Dampaknya


Seorang ibu datang dengan keluhan anaknya yang duduk di kelas III SMP, sulit diatur. Anaknya lebih suka keluyuran hingga larut malam, di warung internet. Sang ibu sangat khawatir. Apalagi sempat mendapati di smartphone anaknya, tersimpan beberapa gambar porno, yang tidak sepatutnya dikoleksi anak di bawah umur. Bahkan si anak pernah diberi uang untuk membeli handphone, namun yang dibeli lebih murah ketimbang uang yang diberikan. Sang ibu was-was, jangan sampai uangnya dipakai untuk hal-hal negatif.


Saya mendengar keluhan itu dengan seksama. Namun dalam hati, saya menduga bahwa persoalan sebenarnya bukan dari anak. Dalam analisa sementara saya, masalah justru berasal dari kedua orang tuanya. Saya sudah beberapa kali melakukan terapi pada anak-anak. Walau sebenarnya, masalah utama justru berasal dari kedua orang tuanya.

Dugaan saya benar adanya. Anak ini berada di lingkungan broken home. Ayahnya jarang sekali pulang. Bahkan menurut ibu tersebut, suaminya memang telah selingkuh dengan wanita lain. Akibatnya, anak ini yang jadi korban.

Secara tidak sadar, ketika ibu ini kesal pada suaminya, maka kekesalan itu dilampiaskan kepada anaknya. Hal ini berlangsung terus-menerus hingga anak merasa tidak aman dan tidak nyaman berada di rumahnya sendiri. Jika rumah yang diharapkan menjadi tempat paling aman ternyata sudah tidak aman, maka kemana lagi sang anak akan mencari perlindungan?

Itulah mengapa si anak akhirnya lebih suka bermain di warung internet. Di tempat ini, dia merasa lebih aman dan nyaman, serta merasa dihargai oleh rekan-rekannya. Sementara di rumah, dia hanya sering disuruh melakukan ini dan itu. Pendek kata si anak merasa tidak dihargai sama sekali, dan menyimpan perasaan dendam serta sakit hati terhadap ibunya.

Atas permintaan ibunya, saya akhirnya mau melakukan terapi pada si anak. Dengan kesepakatan, ibunya juga harus melakukan terapi di lain sesi. Kenapa? Kalau si ibu tidak menjalani sesi terapi, maka energi negatif ibu akan berpengaruh pada anaknya kembali. Hal itu jelas akan menyebabkan hasil terapi yang sudah saya lakukan menjadi sia-sia.

Si ibu bersungguh-sungguh ingin diterapi dan berjanji akan datang kembali. Posisinya yang jauh dari luar kota Samarinda, membuat dirinya harus mengatur waktu yang lebih pas untuk menjalani sesi hipnoterapi.    

Saat sesi terapi, semua dugaan yang diarahkan sang ibu pada anak ini, salah total. Si anak tidak pernah melakukan perbuatan atau tindakan seperti yang dikhawatirkan orang tuanya. Anak ini murni hanya merasa bosan dan tidak nyaman di rumah sendiri.

“Sakit hati, sering disuruh ini dan itu. Padahal saya capek,” katanya.

Dengan teknik restrukturisasi, semua emosi anak berhasil dikuras tuntas. Si anak pun mengaku merasa lebih lega dan plong. Bahkan kelak dia yakin bisa menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Proses hipnoterapi tuntas, anak ini langsung menghampiri ibunya. Bersimpuh dan bersujud di bawah kaki ibunya seraya meminta maaf sembari menangis. Ibunya pun tak kuasa menahan haru, langsung memeluk tubuh anaknya.

Saya pun memberikan waktu dan kesempatan untuk ibu dan anaknya ini, menikmati momen mengharukan tersebut. Terapis juga manusia biasa, tentu tidak bisa membendung rasa haru yang tersaji di depan mata. Karena itu, lebih baik keluar ruangan terapi terlebih dahulu, agar rasa haru tidak semakin melanda diri saya.  Akhirnya ibu dan anak itu bisa pulang ke rumah dengan perasaan lebih bahagia. (*)


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...