BREAKING NEWS

Tuesday, December 22, 2015

Takut Akui Kesalahan, Tiga Bulan Sulit Menelan Makanan

Seminggu lalu, seorang klien wanita datang dengan keluhan sakit pada lehernya. Dia mengaku, sempat mengonsumsi obat, sudah hampir 3 bulan, namun rasa sakit di lehernya tidak berkurang. Yang terjadi, klien malah semakin sulit menelan makanan dan merasakan ada yang tidak beres di dalam dirinya.

“Kata dokter, saya kelebihan hormon. Makanya saya sempat diberi obat untuk menghambat proses produksi hormon itu,” sebut klien. Kelebihan hormon itu pula yang menyebabkan tumbuhnya benjolan kecil sebesar biji kacang hijau di lehernya.


Klien tidak tahu, hormon apa yang dimaksudkan dokter tersebut. “Saya tidak hafal nama hormonnya. Ada beberapa yang disebut dokter waktu pemeriksaan. Saya juga ngga bisa baca hasil rekam medisnya,” tutur wanita  42 tahun yang memiliki tiga anak ini.

Wanita ini sempat saya tolak untuk menjalani sesi hipnoterapi. Kenapa? Karena sebelumnya klien sempat melintasi perjalanan darat cukup panjang dan melelahkan, lebih 12 jam. Begitu tiba di Samarinda, dia langsung datang ke tempat praktik saya. Tentu saja kondisinya belum fit seratus persen. Klien kemudian hanya saya minta isi formulir dan sedikit konsultasi. Untuk alasan kesehatan, klien saya minta istirahat dulu satu malam, dan baru terapi keesokan harinya biar lebih segar dan nyaman.

Tibalah saat proses hipnoterapi. Ternyata tak sulit membawa klien ke dalam kondisi profound somnambulism. Ini adalah kedalaman pikiran bawah sadar yang sangat efektif untuk mengjangkau akar masalah. Niat klien yang benar-benar ingin sembuh, ikut mempercepat proses membimbing wanita ini mengalami kondisi relaksasi yang benar-benar dalam dan menyenangkan.

Dengan teknik hipnoanalisis, ternyata ada akar masalah yang sangat mengganggu. Ini terjadi tiga tahun lalu, ketika wanita ternyata berselingkuh dengan mantan pacarnya. Perselingkuhan itu terjadi bukan atas kemauan klien. Wanita ini secara tidak sengaja bertemu mantan pacarnya waktu SMA, ketika sedang ada kegiatan di Bandung.

Pertemuan hari itu akhirnya benar-benar berlanjut hingga cukup dalam. Meski hanya satu kali itu terjadi, namun klien merasa sangat berdosa dan merasa sangat bersalah terhadap suaminya. Apalagi klien mengatakan, suaminya sangat baik dan sayang sama dia.
Sejak kejadian itu, klien merasa hina, jijik dan kotor di hadapan suaminya. Beberapa kali berusaha berterus terang, tapi klien sangat takut. Kalimatnya seolah tertahan di tenggorokan, dan tak kuasa saat akan berterus terang.

Dengan teknik khusus yang didapatkan dari Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, klien akhirnya dibuat merasa lebih nyaman dan plong. Pikiran bawah sadar (PBS) pun bersedia ikut membantu menyingkirkan benjolan kecil itu secepatnya.

Proses terapi selama 3,5 jam itu pun akhirnya tuntas, dan klien benar-benar merasa lega. Selepas terapi, sekembalinya di rumah, klien pun merasa bisa menjalani kehidupan normal. Tidak ada lagi perasaan yang mengganggu, termasuk bisa makan makanan kesukaannya dengan lahap.

“Leher saya sudah tidak sakit lagi. Rasanya sudah benar-benar nyaman. Benjolannya memang belum hilang 100 persen, tapi sudah lebih kecil,” ujarnya. Indikator pemeriksaan terhadap hormon yang sebelumnya dianggap tinggi, kini juga sudah dalam kondisi normal.

Demikianlah kenyataannya.


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes