BREAKING NEWS

Monday, January 25, 2016

Inilah 4 Alasan yang Membuat Anak Berperilaku Menyimpang


Tak sedikit klien datang membawa anaknya dengan berbagai bermasalah. Di antara berbagai masalah itu, ada anak yang memiliki perilaku menyimpang. Misalnya malas belajar, malas mengerjakan pekerjaan rumah, membantah perkataan orang tua, enggan menuruti kemauan orang tua, sengaja memainkan makanan, mengisap lem, hingga mulai merokok. Perilaku-perilaku yang kurang sepantasnya itu jelas membuat para orang tua stress dan pusing 7 keliling.

Berbagai perilaku yang dianggap kurang baik itu, bisa diselesaikan tuntas melalui sesi hipnoterapi. Selanjutnya, tinggal orang tua yang melanjutkan dengan pola asuh yang benar dan tepat.

Sebab, sebelum dilakukan sesi hipnoterapi pada anak, seperti biasa, yang perlu dilakukan adalah edukasi pada orang tua, termasuk mengevaluasi pola asuh yang sudah berlangsung selama ini. Dari pola asuh tersebut, biasanya ditemukan benang merah yang membuat si anak melakukan berbagai perilaku menyimpang tersebut.

Setidaknya, ada empat hal yang menjadi alasan, kenapa anak melakukan tindakan yang membuat puyeng ayah dan ibunya itu. Ini seperti yang ditulis pakar teknologi pikiran, Adi W. Gunawan dalam bukunya Hypnotherapy for Children.  

Pertama, untuk mendapat perhatian. Ya, di era digital dan serba sibuk seperti sekarang ini, tak sedikit anak yang memang sangat kekurangan perhatian dari kedua orang tuanya. Ayah sibuk bekerja, begitu juga sang ibu juga tak mau melepas karirnya yang sedang bersinar. Akibatnya, anak menjadi korban dan kurang perhatian.

Alih-alih menuruti semua permintaannya sebagai ganti perhatian dan kasih sayang, namun faktanya semua yang diberikan itu tidak dapat menggantikan kebutuhan kasih sayang anak dari kedua orang tuanya.

Dalam buku Lima Bahasa Cinta karya Gary Chapman disebutkan, orang tua wajib mengisi kasih sayang anak. Mengisi kasih sayang anak tidak boleh dilakukan oleh pembantu, baby sitter, atau kakek dan neneknya. Yang paling utama harus dilakukan kedua orang tuanya.

Cara mengisi baterai cinta anak adalah dengan pujian, hadiah, waktu yang berkualitas, sentuhan, dan layanan.

Umumnya, orang tua yang super sibuk, hanya bisa memenuhi kebutuhan hadiah saja. Namun empat bahasa cinta lainnya, sangat diabaikan. Tidak pernah memberikan pujian pada anak. Kalau pun memuji hanya sekadarnya, tidak tulus dari dalam hati.

Anak juga jarang memiliki waktu yang berkualitas dengan kedua orang tuanya. Momen kebersamaan jarang didapatkan anak dengan kedua orang tua yang sangat sibuk. Bahkan ketika anak sedang berjalan-jalan dengan orang tuanya ke pusat perbelanjaan, secara fisik memang berdekatan. Namun hati mereka saling berjauhan, karena masing-masing sibuk dengan gadget-nya.  

Apalagi sentuhan dan layanan, anak jarang sekali mendapatkan hal ini ketika mendapati kenyataan, kedua orang tuanya mengabaikan keberadaannya. Sentuhan dan layanan umumnya diberikan oleh pembantu atau baby sitter. Jangan heran jika anak kemudian lebih dekat dan sayang dengan pengasuhnya. Orang tua hanya memproduksi anak, sementara sejatinya anak itu sudah menjadi anak pengasuh, atau anak dari kakek dan neneknya.

Kedua, untuk mendapatkan kekuasaan atau mengalahkan orang tua. Kedengarannya memang ekstrem. Ya anak yang selama ini tertekan, tentu pikiran bawah sadarnya akan berontak. Pikiran sadar, tentu kalau ditanya tidak akan merasa melakukan hal ini. Namun ketika diakses ke dalam pikiran bawah sadar, ternyata sudah terbentuk pola, anak harus bisa menguasai dan mengalahkan orang tua.

Pembaca tentu pernah melihat, ada anak yang bisa mendapatkan semua hal yang dia inginkan. Jika minta sesuatu dan tidak diberi, maka anak akan mengamuk dan menangis sembari berteriak sekencang-kencangnya. Ini adalah indikasi, anak selama ini tertekan. Akibatnya, dia ingin membalas tekanan itu kepada orang tuanya. Anak akan merasa sangat puas jika melihat kedua orang tuanya kebingungan dengan sikapnya. Anak akan merasa menang dan bangga setelah bisa mengendalikan orang tuanya.

Coba saja perhatikan anak-anak yang dititip sama kakek-neneknya atau dengan pengasuhnya. Ketika dengan pengasuh atau kakek-neneknya, si anak terbukti anteng saja dan tidak bermasalah. Tetapi ketika kedua orang tuanya datang, biasanya langsung berubah total.

Lagi-lagi, itu adalah indikasi bahwa anak selama ini sudah merasa disisihkan dan merasa tidak berguna, sehingga dia pun berbalik ingin menguasai perasaan orang tuanya. Melihat anaknya seperti ini, orang tua biasanya mau tidak mau menuruti kemauan anak, sebagai ungkapan rasa bersalah, sudah meninggalkan anaknya untuk bekerja.

Ketiga, untuk membalas dendam dan menghukum orang tua yang menolak memberikan perhatian pada anak, atau yang memaksa anak menuruti kemauan mereka.
Dari sini bisa dilihat, bahwa anak sengaja melakukan penyimpangan perilaku untuk memuaskan dendamnya kepada orang tuanya yang selama ini sudah mengabaikan dirinya.

Secara sadar, anak memang tidak tahu jika dia melakukan hal tersebut. Namun di dalam pikiran bawah sadarnya, sudah terbentuk pola bahwa dia harus bertindak aneh, agar orang tuanya bisa ‘tersiksa’. Pikiran bawah sadar anak sudah membentuk pola, bahwa orang tua yang tidak perhatian juga layak mendapat hukuman dengan cara mereka. Misalnya meminta sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal, sehingga membuat orang tuanya stres.

Sebelumnya minta makan ayam goreng. Begitu sudah dibelikan ayam goreng, eh minta bakso. Hal-hal begini sengaja dilakukan anak supaya orang tuanya stres. Jika orang tuanya puyeng dengan sikap anak, maka program yang dijalankan anak otomatis berhasil. 

Begitu pula jika orang tua terlalu memaksakan kehendaknya, maka anak pun punya cara tersendiri untuk berbalik menekan orang tua dengan permintaan tertentu.

Hal seperti ini, jarang terjadi pada anak yang sudah mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya secara utuh. Anak akan mudah menuruti kemauan orang tuanya, jika selama ini memang sudah terjalin kebersamaan dan kasih sayang yang sangat mendalam. 

Keempat, menjadi tidak produktif atau sakit, dan memaksa orang tua merasa kasihan dan melayani anak. Pernah mendapati anak yang mudah sakit? Padahal, sakitnya ya itu-itu saja. Demam, flu, atau sakit ringan lainnya, yang sejatinya bisa sembuh hanya dengan istirahat yang cukup. Ternyata, anak sengaja merasa sakit, agar dirinya bisa mendapat pelayanan dari kedua orang tuanya.

Saat anak sakit, orang tua umumnya ‘terpaksa’ izin tidak bekerja, tidak masuk kantor. Otomatis, sehari penuh anak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Dari mulai disuapi makanan, hingga apa pun permintaan akan dipenuhi saat sakit. Karena itu, anak-anak yang selama ini kurang mendapat kasih sayang, lebih senang ketika dia dalam kondisi sakit. Itulah saat-saat dia merasakan limpahan kasih sayang, tidak hanya dari kedua orang tuanya, tapi juga dari semua kerabatnya.

Jangan heran jika ada anak yang memiliki jadwal sakit. Sebulan sekali, atau dua bulan sekali, pasti sakit. Itu sudah tertanam di pikiran bawah sadarnya, bahwa sakit itu sengaja muncul agar kembali mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Karena itu, mendidik anak memerlukan keseriusan. Tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhannya secara materi. Lebih dari itu, berikan kasih sayang melalui lima bahasa cinta dengan tatapan mata yang tulus dan penuh empati. 

Bagaimana menurut Anda?

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes