BREAKING NEWS

Wednesday, January 20, 2016

Sungai Bersih, Kecerdasan Emosional Meningkat

Lingkungan yang bersih akan meningkatkan kecerdasan emosional. 

Saya tak menyangka, artikel berjudul ‘Sungai Karang Mumus dan Pikiran Positif’ yang saya tulis sebelumnya, mendapat response yang sangat luar biasa. Tulisan yang saya unggah di media sosial itu, menjangkau lebih dari 8 ribu netizen. Hal ini sekaligus membuktikan, setiap manusia suka dengan kebersihan dan keindahan. Lantas, kenapa banyak sungai di Tanah Air yang tidak mudah dibersihkan?

Ini karena perilaku membuang sampah di sungai dianggap lumrah dan dianggap sesuatu yang biasa oleh pikiran bawah sadar. Karena itu, meskipun banyak sekali spanduk atau papan larangan membuang sampah dipasang, tetap saja perilaku ini masih ada. Kenapa? Karena perubahan perilaku harus dilakukan dengan menembus pikiran bawah sadar.


Tidak ada kata terlambat untuk mengubah perilaku ini. Sebenarnya, ingin rasanya melakukan hipnoterapi kepada semua warga yang suka membuang sampah sembarangan. Jika mereka bersedia, saya jamin 100 persen perilakunya pasti akan berubah. Sebab, dengan hipnoterapi maka pikiran bawah sadar akan dengan mudah menerima bahwa membuang sampah di sungai adalah sebuah kesalahan. Sebagai gantinya, akan timbul perasaan tidak nyaman bagi warga yang kemudian membuang sampah di sungai.  

Masalahnya ya itu tadi, mau kah warga menjalani hipnoterapi hanya untuk urusan sampah? Atau, maukah pemerintah memfasilitasi hipnoterapi massal untuk mengubah perilaku ini?

Salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk menembus pikiran bawah sadar adalah, repetisi ide, alias terus mengulang gagasan yang ingin dicapai. Jika setiap orang peduli dan menyampaikan keinginannya agar sungai bisa bersih, maka ini seperti efek bola salju yang terus membesar, dan dengan leluasa ide ini akan masuk ke pikiran bawah sadar.

Gerakan membersihkan sungai harus dilakukan terus-menerus, ini agar pikiran bawah sadar tahu, bahwa saat ini yang diinginkan adalah sebuah kebersihan. Jika tidak terus dilakukan, maka ide membersihkan sungai ini akan diblok atau ditolak pikiran bawah sadar.

Tak usah mencontoh negara tetangga. Banyak sekali sungai di Indonesia yang tadinya kotor, kini menjadi objek wisata yang bersih. Tengok saja Sungai Kalimas Surabaya yang dulu menjadi sumber kekumuhan yang sangat luar biasa. Namun kini bisa disulap menjadi alur sungai yang bisa menjadi objek wisata.

Syarat lain agar ide membersihkan sungai ini bisa diterima oleh pikiran bawah sadar adalah, ada contoh dari seseorang yang memiliki figur otoritas sangat tinggi. Saya ambil contoh lagi di Surabaya, ketika Sungai Kalimas dibersihkan, figur otoritas yang muncul adalah Bu Risma, yang kembali terpilih menjadi Wali Kota Surabaya.

Keberadaan figur otoritas seperti ini, akan memudahkan informasi bisa diterima oleh pikiran bawah sadar setiap warga. Karena itu, jika pemimpin atau figur otoritas yang ada di daerah tidak peduli dengan kebersihan sungai, otomatis upaya untuk membuat sungai semakin bersih juga akan semakin sulit.

Untuk itu, sudah sepatutnya para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, hingga para orangtua, memberikan contoh dan keteladanan untuk ikut serta menjaga kebersihan sungai. Ini merupakan cara yang mudah dan efektif sehingga warga yang saat ini, termasuk generasi yang akan datang, senantiasa bisa menjaga kebersihan lingkungannya.

Teknik lain agar warga berhenti membuang sampah sembarangan adalah, dengan menunjukkan gambaran kebahagiaan. Maksudnya seperti apa? Semakin banyak orang yang datang dan berekreasi di sungai, bahkan mandi dan berenang di tempat itu, maka akan semakin cepat informasi diserap pikiran bawah sadar. Saat seseorang merasa bahagia atau senang, maka saat itulah pintu gerbang pikiran bawah sadar terbuka lebar. Semakin banyak yang senang dengan kebersihan sungai, maka semakin mudah pula mewujudkan kebersihan sungai tersebut.

Adalah benar jika sang bijak berkata, tidak hanya kecerdasan intelektual yang diperlukan dalam meraih kesuksesan. Kecerdasan spiritual dan emosional juga sangat menentukan. Dari sisi kecerdasan spiritual, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan umatnya hidup kotor. Itu artinya, dari sisi ini semua manusia sudah tahu bahwa kebersihan itu penting.

Nah, kecerdasan emosional inilah yang memegang peranan penting. Ini yang menyebabkan, meski sudah tahu bahwa membuang sampah di sungai tidak baik, tapi tetap saja dilakukan. Ini karena kecerdasan emosional yang belum diasah lebih optimal. Kecerdasan emosional ini juga letaknya didominasi pikiran bawah sadar.

Karena itu, coba perhatikan. Mereka yang tinggal di daerah kumuh dan kurang tertata, intensitas emosinya pun mudah terpancing. Gampang stres dan mudah marah. Berbeda dengan mereka yang tinggal di lokasi yang bersih, rapi dan tertata, tentu perasaan pun menjadi lebih tenang, aman, dan nyaman.

Ini sekaligus jawaban, kenapa saat ini semakin banyak turis yang betah berkunjung ke Bandung? Karena kotanya semakin indah dan nyaman. Sungai dipercantik, taman kota pun semakin indah dipandang. Semua fasilitas publik dipastikan selalu bersih. Otomatis, ini akan berpengaruh pada kecerdasan emosional warganya.

Terbukti pula, ketika dalam putaran Liga Indonesia tim Persib Bandung menjadi juara, para Bobotoh tak lagi merayakannya dengan hura-hura. Ridwan Kamil sudah menjadi figur otoritas yang idenya mudah masuk ke pikiran bawah sadar warganya. Sehingga apa pun yang disampaikan, akan diikuti. Mereka pun mampu menekan emosinya, sehingga tetap santun dalam merayakan kemenangan.

Karena itu, jangan pernah lelah menyuarakan kebaikan. Kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus, akan lebih mudah mewujudkan apa yang dicita-citakan. Mari bersihkan lingkungan. Mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang.  


Bagaimana menurut Anda? 

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes