Friday, January 1, 2016

Tak Mau Makan Nasi Sejak Usia 2 Tahun


Bocah usia 8 tahun ini namanya M Raditya. Menurut ibunya, sejak usia 2 tahun, tidak mau makan nasi. Akibatnya, kedua orang tuanya pun was-was. Khawatir terjadi apa-apa pada anaknya, terutama dari sisi kesehatannya.

Dari Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, kedua orang tuanya pun sengaja membawa anak ini ke tempat praktik saya, untuk menjalani sesi hipnoterapi. Tujuannya supaya anak pertama dari tiga bersaudara ini mau makan nasi.


Tak sulit untuk mengajak bicara bocah ini. Radit, begitu biasa disapa, tergolong anak yang cerdas dan pemberani. Terbukti, tanpa diantar kedua orang tuanya, dia berani masuk ke ruang terapi. Mendengar namanya, tentu langsung teringat dengan sosok penulis sekaligus komika terkenal, Raditya Dika.

Ternyata, bocah ini memang suka dengan sosok yang sering muncul dengan filmnya Malam Minggu Miko. “Ya om, saya suka nonton filmnya,” ujar Radit kecil ini. Tak hanya itu, menurut penuturan ayahnya, Radit juga suka membaca karya Raditya Dika, di antaranya Kambing Jantan.

Saking ngefansnya dengan Raditya Dika, Radit pun ikut-ikutan mencoba menulis. Sudah punya banyak file tulisan di komputer yang ada di rumah. Sayang Radit enggan menyebutkan apa saja yang sudah ditulisnya. Dia hanya melemparkan senyum manisnya ketika ditanya soal itu.

Di ruang terapi, Radit mengaku tidak suka makan nasi sejak kecil. “Suka muntah om. Mual kalau makan nasi. Ngga enak,” begitu jawabannya ketika ditanya alasan enggan makan nasi. Akibatnya, konsumsi karbohidrat didapatkan bocah ini dari roti dan sejenisnya. Yang penting bukan nasi.

Tanpa negosiasi yang alot, Radit dengan mudah bersedia dibimbing untuk mau makan nasi. Bocah ini bersedia dibimbing untuk makan nasi karena kelak ingin sekali menjadi dokter.

“Kalau mau jadi dokter, harus pinter dan rajin belajar. Supaya bisa belajar, harus selalu sehat. Supaya sehat, harus makan. Makannya, makan nasi,” begitu kesimpulan yang diambil sendiri oleh Radit saat proses negosiasi.

Dengan mudah, Radit dibimbing untuk mengalami relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Setelah bocah ini berada di kedalaman pikiran bawah sadar level profound somnambulism, proses terapi pun dilakukan.

Proses hipnoterapi untuk orang dewasa dan untuk anak-anak, memang berbeda. Namun, alurnya tetap sama. Yang membedakan hanya kalimat sugestinya saja. Saat proses pendidikan di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, memang sudah diajarkan dan disiapkan skrip khusus untuk proses terapi anak-anak.

Proses terapi tak memakan waktu lama, hanya kurang lebih 10 menit. Begitu dibawa kembali ke kondisi sadar, Radit tersenyum lebar, dan segera menghampiri kedua orang tuanya. Sementara saya segera ke dapur, mengambilkan beberapa sendok nasi, untuk uji coba.

Hasilnya, tanpa ada perasaan takut atau was-was, Radit langsung menyuap sendiri butiran nasi itu ke mulutnya. “Enak,” katanya sembari terus menguyah. Adik Radit, Hesti, yang menyaksikan adegan itu langsung kaget, tubuhnya pun hampir terloncat.

“Kok kakak mau makan nasi,” kata adiknya heran. Radit hanya tertawa melihat response adiknya. Sang adik pun mengusap lengan kakaknya, memberikan dukungan sekaligus ikut merasakan kebahagiaan itu. “Nanti bisa makan sama-sama di KFC,” lanjut si adik semangat.

Tak kalah bergembira, wajah kedua orang tuanya pun sumringah. “Bertahun-tahun mas menunggu momen ini. Akhirnya mau juga makan nasi,” ucap ayah Radit.

Sepulang dari rumah saya, Radit, beserta keluarganya langsung menuju ke salah satu KFC di Samarinda, memenuhi keinginan bocah ini untuk makan nasi pertama kali, setelah bertahun-tahun bermusuhan dengan makanan pokok ini.

“Alhamdulillah mas, bener-bener sudah mau makan nasi, jadi terharu,” begitu pesan yang masuk ke HP saya, dari ayah Radit. Tak lupa, disematkan sebuah foto yang menunjukkan Radit begitu lahap menyantap nasi bersama ayam goreng di restoran siap saji tersebut.


Selamat ya Radit. Semoga cita-citanya menjadi dokter, kelak bisa terwujud. Aamiin… (*)

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...