HYPNO NEWS

Monday, January 25, 2016

Tangan Robot Tawan? Omong Kosong!


Kehadiran Tawan, si pembuat tangan robot di belantara pemberitaan Tanah Air, jelas menimbulkan pro dan kontra. Tak kurang beberapa ahli, profesor, bahkan mahasiswa teknik yang paling jago, ikut unjuk suara, menyampaikan pendapatnya.

Pro dan kontra, sudah pasti. Ada yang beranggapan, tangan robot ciptaan pria asal Bali itu hanya isapan jempol belaka, demi sensasi. Buktinya, sampai menyiapkan buku tamu segala, seperti tempat wisata baru.

“Omong kosong. Saya ngga percaya!” sambung sahabat saya yang ahli elektronik ini, ketika saya coba ajak diskusi.

Bagi golongan manusia yang selalu apriori atau skeptis seperti ini, jelas tidak akan pernah mengakui kebenaran yang dilakukan oleh orang lain. Kebenaran hanya bisa diakui versi dirinya sendiri. Lha wong bom Sarinah yang jelas-jelas makan korban jiwa saja masih dituding rekayasa. Edaan…

Meski demikian, tak sedikit pula yang memuji dan menganggap karya yang dianggap sederhana oleh Tawan sejatinya adalah sebuah mahakarya luar biasa di tengah keterbatasan yang ada.

Sebagai praktisi teknologi pikiran, apa yang diciptakan Tawan juga menjadi perbincangan hangat di grup hipnoterapis lulusan Adi W. Gunawan Instute of Mind Technology. Dalam grup ini, tidak murni hanya para hipnoterapis, melainkan ada juga yang berlatarbelakang dokter, hingga ada yang background-nya polisi, pengacara, serta wartawan seperti saya.

Saya tentu menjadi penikmat yang luar biasa, karena bisa mengunyah materi diskusi yang berlangsung melalui media sosial Telegram ini.

Kesimpulannya, apa yang diciptakan Tawan, memang sangat mungkin dan memang sudah terbukti bisa dilakukan. Kenapa? Ini karena otak manusia yang sangat luar biasa.

Saat mempelajari hipnoterapi berbasis teknologi pikiran, di kelas 100 jam Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy (SECH) di Adi W. Gunawan Instute of Mind Technology, salah satu alat yang digunakan adalah mesin EEG. Mesin canggih yang bisa memonitor gelombang otak ini memang sangat akurat untuk mengetahui kondisi pikiran seseorang.

Terbukti, dalam kondisi pikiran yang berbeda, gelombang yang dihasilkan dan tergambar pada layar monitor juga langsung berubah. Secara sederhana, alat yang digunakan Tawan cara kerjanya sama persis dengan EEG ini.   

Boleh jadi, piranti yang digunakan Tawan adalah versi sederhana dari EEG ini. Sebab, jika EEG yang digunakan, tentu harganya sangat mahal. Selain itu, diperlukan kemampuan tersendiri untuk menerjemahkan gelombang otak yang ada menggunakan perangkat lunak khusus. Riset dan pengembangan piranti lunak ini jelas membutuhkan waktu cukup lama.

“Karena kalau kita melakukan penelitian di bidang penerapan EEG untuk aplikasi umum, apalagi menggerakkan lengan seperti itu, tentu bermain dengan bagaimana menghilangkan noise yang ada, dan bagaimana mengklasifikasikan data yang telah kita terima," beber dr Liman Harijono MARS, hipnoterapis yang juga seorang direktur Rumah Sakit Royal Taruma Jakarta, dalam diskusi tersebut.

Liman kemudian melanjutkan, mestinya Tawan harus mampu membuat program yang sangat bagus, agar benar-benar mampu menggerakkan pergelangan tangan dan jari jemarinya.

"Kalau hanya menggerakkan lengan atas bawah, oke itu masih bisa, karena tidak banyak. Tapi lebih detilnya lagi saya tidak yakin kalau tidak dikembangkan dengan pengembangan software atau peranti lunak yang memadai. Itu sangat sulit sekali," katanya.

Di sela diskusi, Liman pun menawarkan jika sejawat hipnoterapis ingin tahu lebih detil alat ini, untuk berkunjung ke rumah sakit yang dia pimpin. “Supaya tahu pemanfaatannya untuk dunia kesehatan. Banyak sekali fungsinya,” bebernya.

Dari sisi hipnoterapi, mesin EEG akan sangat mudah mendeteksi aktivitas pikiran seseorang. Apakah yang aktif pikiran sadar atau pikiran bawah sadar.

Ini sekaligus sebagai konfirmasi bahwa Tawan pun memerlukan kondisi kedalaman pikiran tertentu, agar tangan robotnya bisa berfungsi dengan baik. Lihat saja ketika Tawan bekerja di bengkel lasnya, harus berkonsentrasi. Ini agar gelombang otak yang dipancarkan, bisa dibaca oleh sensor dengan tepat.

Jimmy Lokrond, hipnoterapis yang juga dikenal sebagai suhu pengobatan berbasis energi menambahkan, pikiran bisa mengirim pesan melalui sinyal gelombang alfa dan beta untuk menggerakan kursi roda dengan pantulan dari penerimaan pesan di papan mikro kontroler yanh kemudian diteruskan ke motor driver kursi roda.

“Ini pembuktian secara ilmiah di bidang software elektronik mekanik,” katanya.

Karena itu, menurut dia, suatu saat dengan kekuatan pikiran yang full power, akan mampu menggerakkan mesin pesawat terbang. “Ini mungkin dianggap mustahil. Tapi kenapa tidak? Yang penting tidak disalahgunakan untuk hal negatif,” ujarnya di media diskusi itu.

Sebelumnya, guru kami Dr Adi W. Gunawan CCH, pendiri Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology sering menyampaikan, bahwa otak memang memiliki kemampuan yang dahsyat.

“Otak manusia memiliki 1 triliun sel. Namun pemanfaatannya paling hanya 10 persen saja,” katanya. Karena itu, dari fakta tersebut, manusia sangat terbuka peluang menciptakan alat apa saja.

“Dulu banyak hal yang dianggap tidak mungkin, nyatanya sekarang sudah terjadi,” katanya.

Sama halnya dengan hipnoterapi yang sedang saya geluti saat ini. Banyak yang menganggap mustahil, aneh, bahkan dianggap sebagai ilmu gaib atau supranatural. Padahal faktanya, hipnoterapi bisa dipelajari dengan benar dan tepat, asal belajarnya juga di lembaga yang mumpuni.

Kalau Tawan bisa menciptakan tangan robot, maka semua orang sejatinya juga bisa menciptakan banyak alat canggih lainnya. Karena menciptakan sebuah karya tentu bukan monopoli para profesor saja. Orang yang tidak sekolah pun boleh membuat alat yang fenomenal. Seperti halnya pria lulusan SD yang bisa merakit televisi, maka siapa pun juga bisa melakukannya.

Begitu pula di bidang kesehatan. Mengatasi penyakit, bukan lagi dimonopoli oleh dokter. Sebab, banyak aspek lain yang terkadang tidak mampu dijangkau oleh dokter. Seperti psikosomatis, sakit yang disebabkan oleh pikiran, nyatanya lebih efektif ditangani dengan metode hipnoterapi, ketimbang dengan medis atau obat-obatan.


Karena itu, sekarang pilihan tentu bergantung pada pembaca masing-masing. Tetap apriori dengan sebuah kemajuan pikiran, atau justru memberikan dukungan pada perubahan peradaban bangsa ini. Pilihan ada di tangan Anda. (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Hipnoterapi Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes