Friday, January 15, 2016

Terorisme dan Suster Ngesot



Kamis, 14 Januari 2016, sebuah suguhan aksi terorisme terjadi di Jakarta. Seketika, Indonesia gempar. Setiap detik, di media sosial bermunculan perkembangan terbaru, bahkan detik-detik kejadian tergambar dengan jelas. 

Tak ketinggalan, semua televisi juga menyiarkan langsung kejadian tersebut di lapangan. Sarinah, Jakarta, adalah target yang seksi untuk sebuah aksi terorisme. Tak hanya sebagai pusat lalu-lalang utama warga Jakarta, di kawasan ini juga banyak objek vital. Dari mulai Istana Negara, Bank Indonesia, dan beberapa kantor kedutaan negara lain juga berada di kawasan ini.

Lebih jauh, di kawasan ini juga sering dijadikan tempat nongkrong para wartawan. Termasuk ketika saya pernah bertugas di Jakarta, lokasi ini adalah tempat favorit untuk bertemu dengan sesama wartawan lainnya. Karena itu jangan heran, aksi terorisme kali ini benar-benar langsung mendapat liputan yang luar biasa.


Pelaku teror, jelas sudah memperhatikan semua aspek di atas. Targetnya jelas, menciptakan rasa takut dan trauma yang mendalam. Dengan demikian, apa yang diinginkan dari aksi ini bisa terwujud. Entah itu bermotif ekonomi makro, hingga bermotif mengacaukan pertahanan dan keamanan negara.

Tapi mohon maaf wahai teroris. Kali ini, aksi kalian gagal total. Bukan karena pelakunya yang tertembak mati. Bukan pula akibat ledakan yang terjadi di tempat yang tidak semestinya. Kegagalan paling utama adalah, para teroris ini tidak berhasil menembus pikiran bawah sadar warga Jakarta.

Maksudnya bagaimana? Trauma dan rasa takut yang mendalam, adanya di pikiran bawah sadar. Salah satu cara menembus pikiran bawah sadar adalah ide dengan muatan emosi yang tinggi. Maksudnya, ketika ada kejadian yang sangat mengejutkan sekaligus menyedihkan hingga membuat orang emosi dan marah, maka saat itulah informasi yang disampaikan bisa menembus pikiran bawah sadar dengan mudah.

Akan tetapi, kali ini pikiran bawah sadar warga Jakarta, termasuk sebagian besar warga Indonesia, memiliki benteng yang sangat kokoh dan kuat. Terbentuknya benteng pikiran bawah sadar yang kuat, seolah berlapis baja tebal tahan peluru ini, adalah dari proses yang tidak mudah. 

Berbagai kejadian yang mengguncang Jakarta, Indonesia, termasuk dunia internasional selama ini, telah menjadikan pikiran bawah sadar semakin kuat. Pikiran bawah sadar menganggap, itu adalah kejadian biasa yang tidak perlu ditakutkan. Bahwa warga sempat terkejut atau panik, itu adalah efek yang biasa dan lumrah. Namun itu hanya sesaat. Setelah itu, faktanya warga sama sekali tidak takut dengan kejadian itu.

Lihat saja televisi atau foto dan video yang tersebar di belantara maya. Sama sekali tidak ada gambaran ketakutan warga Jakarta. Ada pedagang yang tetap santai membakar sate, hingga penjual mangga yang melayani tentara yang siaga di mobil panser. Bahkan, ada yang foto selfi di lokasi kejadian. Adegan tembak menembak itu hanya dianggap sebagai adegan syuting film, meski peluru, granat dan bom yang digunakan benar-benar nyata.

Kejadian 20 menit itu seolah sebagai konfirmasi yang jelas kepada para teroris yang mencoba mengacau bangsa ini, bahwa Indonesia tidak takut teroris. Pikiran bawah sadar warga Indonesia sudah benar-benar memiliki tameng yang sangat kuat, sehingga sulit ditembus. 

Tak ada status lebay yang bertebaran di media sosial akibat aksi terorisme ini. Yang ada malah status saling menguatkan dan menegaskan bahwa bangsa ini sama sekali tidak takut aksi konyol seperti ini. Bahkan banyak pula yang membuat meme kocak terkait aksi ini.

Beberapa saat setelah kejadian, kondisi Jakarta pun kembali normal. Bus Transjakarta kembali beroperasi di jalur yang sempat kena bom, dan aktivitas di kantor dan pusat perbelanjaan pun seperti biasa.

Indonesia terbukti semakin menahbiskan diri sebagai bangsa yang kuat dan tidak cengeng. Rangkaian pengalaman di masa lalu, menjadi hikmah tersendiri bagi bangsa ini untuk terus bangkit dan bertumbuh. Baik dari sisi ekonomi, politik, hingga pertahanan dan keamanan.

Hingga bumi berhenti mengelilingi matahari, aksi terorisme jelas tidak akan hilang. Namun, jika sikap dan keberanian bangsa ini sudah sedemikian kokoh, bisa jadi para pelaku teror jadi lemah syahwat. Sebab percuma aksi teror dilakukan, wong warga terbukti sama sekali tidak takut. Suster ngesot saja berhenti menakut-nakuti orang, ketika tidak ada lagi yang takut. Apalagi sejak difimkan dan hanya dijadikan bahan tertawaan. Begitu juga dengan nenek gayung yang tidak lagi berani muncul, karena hanya dianggap konyol.

Pada akhirnya, pelaku teror bisa saja lempar handuk, dan berpikir lebih realistis. Tak mau lagi menerima order melakukan pengeboman. Lebih baik menerima order membuat bom untuk perusahaan tambang batu bara. Lebih menghasilkan untuk masa depan.

Sekali lagi, mari kita buktikan, Indonesia berani. Bangsa ini tidak akan cengeng hanya karena aksi teror. Dijajah Belanda selama 350 tahun saja bisa merdeka. Apalagi cuma aksi amatiran seperti yang terjadi selama ini. Bagaimana menurut Anda?

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...