BREAKING NEWS

Thursday, March 3, 2016

Ternyata Gara-gara Ini, Wanita Cantik Ini Masuk Rumah Sakit Jiwa


Dalam tradisi di Kalimantan, ada yang namanya mengantarkan jujuran, alias mengantarkan uang mahar dari pihak calon mempelai laki-laki, ke calon mempelai perempuan. Sebelumnya, tentu sudah disepakati, berapa mahar yang harus diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan.

Acara mengantarkan jujuran atau yang kadang disebut dengan ‘uang naik’ ini, umumnya dilakukan beberapa waktu sebelum pernikahan resmi digelar. Proses memberikan jujuran ini juga disertai dengan membawa barang-barang hantaran keperluan si perempuan.
Beberapa waktu lalu, saya pernah dimintai tolong oleh salah seorang ibu, yang anaknya mengalami gangguan pikiran, gara-gara jujuran ini.

Sore itu, menjelang senja, telepon seluler saya berbunyi. “Pak, saya dapat nomor telepon bapak dari teman saya. Saya minta tolong, bapak ke rumah saya sekarang. Penting banget pak. Anak saya tadi mau bunuh diri,” sebut ibu ini panik.

Mengingat waktu yang tidak memungkinkan, karena khawatir terbentur waktu maghrib, saya pun menjanjikan baru bisa ke rumahnya selepas maghrib. Ibu ini bersedia, dan saya minta agar anaknya dalam pengawasan penuh untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Selama ini, saya jarang sekali bersedia melakukan terapi klien pada malam hari. Karena umumnya kondisi klien sudah lelah, begitu juga saya sendiri, kalau malam umumnya kurang fit karena sudah banyak energi terbuang setelah beraktivitas dari pagi sampai sore.

Namun karena ini darurat, saya pun datang ke rumah ibu ini, di salah satu kawasan di Samarinda. Begitu tiba di rumah ibu ini, saya langsung dibawa masuk ke kamar, di mana anaknya berada. Anak si ibu, sebut saja namanya Diana, terlihat meringkuk di atas tempat tidurnya. Kakinya menggigil kedinginan hingga terlihat bergetat. Kedua tangannya memegang telepon seluler dengan tatapan kosong.

Dari penuturan ibunya, sore hari sebelumnya, anaknya baru saja mencoba bunuh diri dengan mengiris urat nadi di tangan menggunakan pecahan gelas. Untung saja aksinya ketahuan, sehingga bisa ditahan.

Kemudian saya coba memanggil namanya. Saya sampaikan bahwa saya dimintai tolong untuk membantu dia. Kali ini, Diana meresponse. Bola matanya sempat melihat ke arah saya. Mungkin kurang satu detik. 

Ketika saya tanya, apakah dia mau dibantu? Dia mengangguk. Bagi saya, ini pintu masuk penting karena dia mau. Diana kemudian saya minta isi formulir, dan ternyata dia mau untuk mengisi formulir tersebut. Ini sekaligus menunjukkan, bahwa anaknya tidak gila. Buktinya masih mau mengisi formulir yang saya bawa.

Sebab ternyata, beberapa hari sebelumnya, Diana memang sempat diopname di rumah sakit, bahkan sempat di bawa ke rumah sakit jiwa dan ditangani psikiater kemudian diberikan obat penenang. Diana juga sempat dirukiyah, namun tetap saja kondisinya labil bahkan hampir bunuh diri.

Sembari menunggu dia mengisi formulir, saya pun menjelaskan soal hipnoterapi kepada kedua orang tuanya. Usai mengisi formulir, kedua orang tuanya saya minta menunggu di luar kamar. Saya kemudian menjelaskan protokol atau alur hipnoterapi kepada Diana. Ternyata response Diana cukup baik, dan memahami alur yang saya sampaikan.

Dengan mudah, Diana saya bimbing masuk ke kondisi pikiran yang dalam dan menyenangkan. Apalagi sebelumnya tatapannya memang kosong, sehingga sangat mudah untuk dibawa masuk ke kondisi kedalaman pikiran yang efektif untuk terapi.

Dari formulir yang sebelumnya diisi, tercatat semua emosi yang ada di formulir angkanya 10. Sama sekali tidak ada yang di bawah 10. Di formulir juga dia mengisi bahwa dia ingin dihilangkan rasa trauma, rasa sakit hati, juga pikiran negatif.

Melalui hipnoanalisis diketahui, ternyata dia sakit hati dengan pacarnya. Ternyata tiga minggu sebelumnya, ada rencana sang pacar mengantarkan uang mahar pernikahan. Tapi ternyata acara ini tiba-tiba dibatalkan. Ini yang kemudian membuat Diana mengalami guncangan mental yang cukup kuat.

Namun, tentu ini bukan penyebab utama. Seperti biasa, hipnoterapi bertujuan untuk mencari akar masalah yang menjadi pemicu munculnya kejadian pada saat ini. Hasilnya, ternyata Diana mundur ke usia 10 tahun. Inilah rasa sakit hati yang pertama muncul. Ketika itu, Diana masih duduk di bangku sekolah dasar, ternyata jilbabnya ditarik temannya.

Setelah akar masalahnya ketemu, Diana dibimbing untuk menjalani proses restrukturisasi sekaligus mengatasi trauma yang ada di pikiran bawah sadarnya.

Beberapa teknik tertentu sengaja digunakan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi Diana, sehingga pikiran bawah sadarnya bisa kembali tenang dan nyaman.

Usai hipnoterapi, Diana mengaku merasa lebih tenang dan nyaman. Dua hari kemudian, wanita ini pun bisa kembali bekerja normal seperti biasanya. Padahal sebelumnya sangat lemah dan hanya berbaring di ranjang.

Diana pun mengaku, masih coba dihubungi laki-laki yang ingin menikahinya itu seraya meminta maaf. Namun perasaan Diana sudah netral. Rencana pernikahan itu sudah diputuskan untuk dibatalkan. Apalagi pihak keluarga sudah merasa dipermalukan atas kejadian ini.

Semoga Diana bisa semakin semangat, menatap masa depan yang lebih cerah. Semoga juga, kelak Diana bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dan lebih memahami keberadaan Diana. (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes