BREAKING NEWS

Saturday, March 26, 2016

Akhirnya, Tas Kulit Ular Itu Bisa Dimiliki



Februari 2016, ketika menghadiri Hari Pers Nasional di Lombok – Nusa Tenggara Barat, saya mendapat jamuan khusus dari Direktur Lombok Post Alfian Yusni. Jamuan itu juga berlaku untuk rekan sesama pemimpin surat kabar lainnya yang bernaung di bawah Jawa Pos Group, dari berbagai daerah di Indonesia.

Usai makan malam, Alfian ditemani istrinya, membawa kami ke salah satu butik di Lombok. Butik ini menjual kain tenun dan batik khas Lombok. Tentu saja, kualitas dan coraknya berbeda dengan yang dijual di pasaran. Yang pasti, butik ini sudah menjadi langganan lama bagi Alfian dan istrinya, Shinta. Tak heran, ketika kami sampai lokasi, terlihat keduanya sudah sangat akrab dengan pemilik butik tersebut.



Bahkan Shinta, sudah bertindak layaknya pemilik butik itu sendiri. Dia mengenal baik isi butik, hingga begitu lihai menawarkan apa saja yang dipajang di butik ini. Tak hanya batik dan tenun, aneka dompet dan tas kulit dari kulit sapi dan ular pun dijual di tempat ini.

“Bang, tas itu bagus loh, dari kulit ular. Istrinya pasti suka. Saya dari dulu naksir. Sayang saya takut ular. Ngga berani pegang tas itu,” sebut Shinta kepada pemimpin redaksi salah satu koran yang ikut dalam kunjungan kami. Tangannya terlihat menunjuk ke arah sebuah tas kulit ular warna merah. Kawan saya itu pun mencoba menelpon istrinya, dan setuju. Maka tas warna merah itu pun dibeli.

“Bagus banget loh tas itu, aku pengen dari dulu. Bahkan penjualnya sampai mau ngasih ke saya, asal saya berani,” ujar Shinta kepada saya.

Olala, ternyata istri sang direktur  ini takut sama ular. Akibatnya, tas yang berbahan ular pun sangat takut. Jangankan memegang dan membawanya. Melihat dari kejauhan pun sudah merinding. Saya pun memberikan tawaran, jika mau, rasa takut itu bisa dihilangkan.


“Beneran kah bang,” ujarnya meyakinkan. Setelah saya yakinkan, Shinta akhirnya bersedia saya lakukan hipnoterapi. Mengambil tempat di salah satu sudut yang terdapat kursi, saya gunakan teknik tertentu yang cepat dan efektif, agar rasa takut dengan ular itu bisa hilang. Keinginan Shinta yang sangat kuat, ikut mempercepat proses dalam mengatasi masalah ketakutannya itu.

Benar saja, dari skala ketakutan di angka maksimal 10, langsung turun drastis ke angka 3, kemudian saya bimbing lagi untuk dinetralkan di angka zero alias nol. “Ya nih bang. Rasanya sudah biasa. Sudah ngga takut,” ujarnya. Segera dia bangkit dari kursi, menuju ke rak yang berisi tas kulit ular di butik itu. Diambilnya salah satu tas, dan dipakainya.

“Bang, lihat bang. Bagus kan? Aku sudah berani nih bang,” ujarnya setengah teriak pada sang suami yang sedang asyik ngobrol dengan rekan kami yang lain. Sang suami tentu sempat bengong dan tak percaya. Bagaimana mungkin, istri yang selama ini tidak berani memegang tas ular, kini sudah berani berpose dengan tas ini.

“Seharusnya, tas merah tadi yang dibeli. Tapi sudah dibeli abang itu,” ujarnya, menunjuk tas merah yang sudah dibeli dan dibungkus plastik. Si pembeli tas merah itu hanya tersenyum saja.

Pemilik butik pun ikut girang. “Tawaran gratis yang sebelumnya, tidak berlaku ya? Soalnya sekarang sudah berani,” candanya.

Alhasil, Shinta kini benar-benar berani memegang tas dari bahan kulit ular. Bahkan khabar terakhir, kini sudah memiliki 2 tas yang terbuat dari kulit ular. Harganya tentu lumayan, dan cukup menambah panjang daftar tagihan kartu kredit.

“Mas Endro, bisa ngga dihipnoterapi ulang supaya takut lagi. Kalau dia berani begini, bisa tekor bandar,” gurau sang suami. Shinta pun hanya tersenyum, sekaligus puas karena keinginannya akhirnya bisa terwujud. (*)






Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes