Thursday, March 24, 2016

“Apakah Hipnoterapi Dijamin Berhasil 100 Persen?”



Pertanyaan seperti judul di atas, sering kali disampaikan calon klien atau sahabat yang ingin melakukan hipnoterapi. Saya selalu tegaskan, sebagai terapis, tidak akan berani menjanjikan masalah 100 persen selesai. Meski demikian, tingkat keberhasilan dari para hipnoterapis lembaga Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology adalah di atas 90 persen. Sekadar diketahui, dari bukti yang ada, alumni lembaga ini sudah melakukan lebih dari 100.000 kali terapi.

Kenapa keberhasilannya cukup tinggi, karena protokol yang disusun lembaga ini sudah melalui riset yang sangat mendalam serta sudah terbukti dan teruji secara klinis. Karena itu, teknik yang digunakan untuk membimbing klien mengalami relaksasi yang dalam dan menyenangkan, sangat ampuh.


Namun demikian, ada saja yang tidak berhasil, dan tentu itu tidak serta merta kesalahan proses terapi. Selama proses terapi sudah sesuai protokol lembaga, maka hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

Lantas, kenapa ada yang tidak berhasil? Ada banyak sekali faktor penyebab. Umumnya adalah, klien tidak serius bahkan tak sedikit yang hanya ingin tahu hipnoterapi itu apa. Karena tidak serius, maka aspek yang ingin ditangani pun masih belum jelas.

Ada lagi yang kurang berhasil, karena klien tidak mengikuti arahan dan bimbingan yang sudah diberikan. Penting saya sampaikan, saat Anda meminta bimbingan hipnoterapis, sejatinya yang mengatasi masalah adalah diri Anda sendiri. Hipnoterapis hanya bertugas sebagai navigator. Ibarat balap mobil, hipnoterapis hanya membantu mengarahkan tujuan. Sementara pedal gas, kopling, rem, dan stir kemudi, semua dalam kendali klien.  Artinya, hasil akhir ditentukan oleh klien yang dibimbing sebagai ‘pengemudi’.

Kalau klien betul-betul mengikuti arahan dan bimbingan hipnoterapis, maka tujuan akhir akan mudah dicapai. Masalah akan selesai tuntas jika klien pasrah menjalankan arahan dari hipnoterapis. Ibaratnya, hipnoterapis bisa menunjukkan cara menaiki tangga, tapi tidak bisa memaksa agar naik ke tangga itu.

Seperti kata pepatah, Anda bisa menuntun keledai ke tepi kolam, tapi tidak bisa memaksa si keledai untuk minum.

Saya beberapa kali mendapati beberapa calon klien yang tidak cukup "menderita" untuk sembuh. Saya sebut calon klien, karena memang hingga kini tak kunjung menjadi klien. Bila bertemu  hanya mengeluh dan mengeluh. Tapi tak mau menjalani sesi terapi. Kalau sudah seperti itu, saya hanya tersenyum dan saya kembalikan lagi ke dirinya sendiri.

Hipnoterapis hanya akan membantu klien yang serius dan betul-betul ingin berubah. Sebab ilmu hipnoterapi bukan untuk dicoba-coba. Yakinkan diri Anda untuk berubah, setelah itu barulah minta bantuan Hipnoterapis untuk membimbing mengatasi masalah yang ada.

Yang juga kerap terjadi adalah, baru menjalani satu kali sesi terapi, lantas bercerita ke mana-mana bahwa hipnoterapi ternyata tidak berhasil. Padahal sejak awal disampaikan, klien harus bersedia teken kontrak maksimal 4 kali terapi. Sehingga, jika terapi pertama hasilnya belum maksimal, maka masih ada 3 kali sesi terapi yang harus dijalani.

Lagi-lagi, keseriusan klien sangat menentukan. Jika klien masih setengah-setengah, maka sama sekali tidak ada artinya buang-buang uang untuk menjalani sesi hipnoterapi.

Sebagai contoh, terapi membentuk tubuh yang ideal. Adalah mustahil, begitu keluar dari ruang terapi, langsung simsalabim bentuk tubuhnya langsung ideal seperti artis idola. Sahabat, untuk pergi dari Jakarta ke Balikpapan aja masih memerlukan proses yang cukup lama. Harus beli tiket, kemudian menuju bandara, naik pesawat, sampai akhirnya tiba di Balikpapan. Proses ini tetap harus dilalui. Tidak mungkin simsalabim langsung dari Jakarta dalam sekejap ke Balikpapan.

Proses untuk membentuk tubuh ideal jelas harus dilalui dengan baik sesuai bimbingan terapis. Ibarat naik pesawat, ya harus mengikuti prosedur, termasuk pasang sabuk pengaman. Jika tidak, pasti diusir oleh pramugari.
Itu pula hipnoterapi, klien harus mengikuti ketentuan yang sudah digariskan sejak awal. Kalau kemudian tidak mengikuti arahan yang sudah diberikan, jangan salahkan jika program gagal total.

Dalam sesi hipnoterapi, semua bergantung pada klien. Saat proses komunikasi dengan pikiran bawah sadar, klien tetap memegang kendali penuh atas pikiran bawah sadarnya sendiri. Selain itu hipnoterapis lulusan Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, termasuk saya, dibekali kode etik yang mengikat. Jika saya melanggar kode etik ini, izin praktik saya bisa dicabut oleh lembaga dan saya akan di-black list. Sanksi yang jelas tidak main-main dan harus ditaati.

Karena itu, sejak awal, harus ada ‘kontrak politik’ antara saya dengan klien. Sebagai contoh, ketika klien datang dan meminta bantuan untuk mengatasi masalah diet, maka saya hanya fokus untuk mengatasi masalah ini.

Jika kemudian saat sesi hipnoterapi saya menyimpang dan bertanya soal lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah diet, maka saya masuk kategori melanggar kode etik, dan bisa dilaporkan ke lembaga melalui www.adiwgunawan.com.

Lantas apakah hasil dari hipnoterapi bisa dikatakan benar-benar permanen? Selama proses terapi berjalan lancar dan benar-benar ketemu akar masalahnya hingga diproses dengan tuntas, maka klien akan benar-benar lepas dari masalahnya. Namun, klien bisa saja mengalami masalah jika mengalami trauma ulang.

Misalnya, klien takut dengan kucing, kemudian diproses menggunakan hipnoterapi hingga tuntas. Beberapa lama kemudian, klien mengalami kejadian lain, misalnya tengah malam tiba-tiba ada kucing hitam sudah ada di atas tubuhnya. Kejadian ini tentu merupakan trauma ulang, yang menimbulkan masalah baru.

Klien juga bisa kembali ke masalahnya yang lalu, walaupun sudah diatasi dengan hipnoterapi, jika klien memutuskan untuk menganulir hasil dari terapi yang pernah ia jalani. Selain itu, perlu kesungguhan klien untuk menjaga dan mempertahankan hasil terapi. Jika tidak, kemungkinan untuk kambuh akan mungkin terjadi. Sama halnya ketika Anda terkena sakit flu. Setelah sembuh, bisa saja kembali flu jika sengaja main hujan-hujanan lagi.

Di luar itu, klien juga bisa kambuh jika proses terapi dilakukan oleh hipnoterapis yang kurang berpengalaman sehingga tidak tuntas dalam memproses akar masalah. Boleh jadi, yang ditangani hipnoterapis, belum menyentuh ke akar masalah sesungguhnya.

Hal ini pernah terjadi, karena saya pernah melakukan terapi kepada klien yang sebelumnya ditangani hipnoterapis lain di luar lulusan Adi W Gunawan Institute. Ternyata akar masalah belum ditemukan oleh hipnoterapis sebelumnya, sehingga masalah kembali muncul.

Karena itu, pastikan memilih hipnoterapis yang cakap, andal, dan berpengalaman, sebelum memutuskan untuk menyelesaikan masalah dengan hipnoterapi. Ini untuk menjamin hasil akhir dari terapi benar-benar tuntas, serta memberikan rasa aman dan nyaman. Semoga bermanfaat. (*)



Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...