Monday, March 21, 2016

Hati-hati, Pilih Kasih Pada Anak



Orang tua yang pilih kasih pada anak, akan berdampak kurang baik pada si buah hati. Dari pengalaman yang ada di ruang terapi, sering kali klien anak-anak, mengalami tertekan, tidak percaya diri, kurang konsentrasi belajar, hanya karena merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya. Baik ayah maupun ibunya, atau bahkan dua-duanya.

Termasuk, klien yang sudah dewasa sekali pun, terkadang mengalami masalah serius ketika sudah menginjak usia sekarang, hanya karena ketika kecil diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya.

Beberapa waktu lalu misalnya, seorang putri, usia 14 tahun, prestasi belajarnya melorot drastis. Pelajar SMP asal salah satu daerah di Kaltim ini sengaja dibawa ibu dan ayahnya ke Samarinda, untuk menjalani sesi hipnoterapi.

Sebelumnya, si anak ini pernah dibawa ke psikolog. Oleh psikolog, dikatakan bahwa anaknya menjadi korban bully, sehingga perlu pendampingan serius. Merasa kurang nyaman dengan hasil konsultasi itulah, anak ini, sebut saja namanya Mawar, akhirnya dibujuk untuk mau menjalani terapi.

Sebelum melakukan terapi pada Mawar, seperti biasa, kedua orang tuanya saya ajak diskusi dulu, termasuk mengumpulkan data awal sebagai referensi nanti saat terapi. Kedua orang tuanya merasa tidak ada yang salah dalam mendidik anak. Tidak pernah marah dan emosi, bahkan sangat bijak. Itu sebabnya, ayah dan ibu Mawar yakin perilaku putrinya akibat dari korban bully di sekolah. Psikolog yang menangani sebelumnya juga menyampaikan hal yang sama.

Merasa cukup, Mawar pun saya bimbing masuk ke ruang terapi. Kedua orang tuanya memilih meninggalkan Mawar, sebab proses terapi minimal memakan waktu 1,5 jam. Tak lupa, ibunya meninggalkan nomor telepon seluler, untuk dihubungi jika proses terapi selesai. Mawar pun tak keberatan dirinya ditinggal.

Sebelum hipnoterapi, Mawar diberi penjelasan singkat tentang hipnoterapi. Apalagi Mawar mengaku, dia datang atas permintaan ibunya, sehingga agak was was dan khawatir serta takut ketika mendengar kata hipnoterapi. “Seperti yang di TV itu ya om?” tanyanya.

Setelah diberi penjelasan, Mawar bersedia menjalani sesi hipnoterapi. Dengan mudah Mawar dibimbing masuk ke kondisi relaksasi yang dalam dan menyenangkan. Saat sudah berada di kedalaman yang efektif untuk melakukan terapi, hipnoanalisis pun dilakukan.

Ternyata benar, Mawar menjadi korban bully. Dia sempat diejek dan dikeluarkan dari ‘genk’ nya hanya gara-gara lupa membawa tugas kelompok yang dibebankan ke dia. Akibatnya, dia dan kelompoknya dihukum. Yang jadi masalah, dia mendapat hukuman lagi sepulang sekolah, oleh kelompoknya dengan hukuman fisik. Dipukul, dijambak dan ditendang oleh ketua genk dan kawan-kawannya.

Sejak itu, Mawar merasa terpukul dan lebih sering menyendiri. Dia pun menjadi pendiam, hingga puncaknya, prestasi belajarnya melorot. Lantas, apakah memang masalah ini yang jadi penyebabnya?

Dalam hipnoterapi, yang dicari adalah akar masalahnya, bukan masalah lanjutannya. Ternyata, perasaan cemas dan takut itu dia rasakan pertama kali adalah ketika dia punya adik perempuan. Ya, itulah akar masalah yang sesungguhnya.

Saat itu, Mawar masih berusia 7 tahun, sementara adiknya baru berusia tiga tahun. Suatu ketika, Mawar ingin meminta tolong pada ayahnya untuk membantu mengerjakan PR matematika dari sekolahnya. Namun, ketika itu sang ayah sedang asyik bermain dengan adiknya. Meski Mawar sudah menyampaikan soal PR itu kepada sang ayah, namun ayahnya cuek. Pura-pura tidak mendengar dan asyik bersenda gurau dengan adiknya.

Dia pun kemudian mendatangi ibunya. Namun oleh ibunya, Mawar diminta menunggu sampai ayahnya selesai bermain dengan adiknya. Itulah yang pertama kali membuat Mawar merasa cemas dan takut. Sejak itu dia merasa tidak disayang oleh orang tuanya, terutama ayahnya.

Apalagi, dalam perjalanannya, ayahnya memang lebih perhatian pada adiknya ketimbang pada Mawar, sehingga bocah ini lebih sering merenung ketika sendiri di kamar. Namun demikian, semangat belajar dia sempat moncer. Beberapa kali dia menduduki peringkat satu. Dengan cara itu lah, dia mendapat perhatian dari ayahnya. Hingga akhirnya, lupa membawa tugas membuatnya kena bully. Trauma yang ia alami pun semakin parah.

Proses restrukturisasi pun dilakukan. Semua trauma masa lalu Mawar, dihapus menggunakan teknik tertentu. Hasilnya, Mawar merasa lega dan plong. Mawar pun memaafkan dan memahami kondisi ayahnya. Pikiran bawah sadarnya juga diberi edukasi, bahwa ketika Mawar lahir dulu, juga pasti disayang oleh ayahnya. Terbukti, Mawar mengaku pernah melihat foto-foto semasa kecil dengan ayahnya.

Selesai proses restrukturisasi, Mawar pun dibimbing untuk naik dari kondisi kedalaman pikirannya. Begitu buka mata, bangun segar dalam kondisi kesehatan yang sempurna, Mawar mengaku sangat lega dan nyaman. Rasa percaya dirinya pun kembali lagi.

Untungnya, kedua orang tuanya ternyata sudah ada di ruang tamu. Mawar pun segera beranjak ke ruang tamu, memeluk dan mencium ayah dan ibunya, dengan mengucapkan terima kasih. Saya biasanya enggan melihat momen ini, takut ikutan terharu dan baper, he he. Saya biarkan keluarga kecil ini menikmati momen bahagianya.

Beberapa saat kemudian, Mawar diminta menunggu di mobil. Kedua orang tuanya pun saya berikan edukasi dan diberikan informasi mengenai akar masalah yang sebelumnya menjadi penyebab pada Mawar. Terkait pilih kasih itu, sang ayah mengakui, walau dia tidak merasa melakukannya.

Itulah sifat anak-anak, sangat sensitif. Meski orang tua merasa tidak pernah berlaku adil, nyatanya anak bisa menilai hal tersebut dengan caranya sendiri. Karena itu, mari bagi perasaan sayang dengan merata. Pastikan sebagai orang tua memberikan perhatian yang sama pada setiap anak. Jika tidak, maka itu akan berdampak pada masa depannya.

Bagaimana menurut Anda? (*)


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...