Friday, March 4, 2016

“Kenapa Akar Masalah Selalu Ditemukan Saat Masih Kecil?”


Salah satu sahabat di Facebook mengirim pesan ke kotak masuk. “Pak, kalau saya baca artikel-artikel bapak, umumnya akar masalah itu terjadi ketika masih kecil. Kenapa selalu seperti itu? Kenapa akar masalah selalu ditemukan saat masih kecil?” tanyanya serius.

Baiklah, melalui tulisan ini, izinkan saya menjawab pertanyaan saya dari sahabat ini. Sekaligus, mudah-mudahan bisa memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi pembaca yang lain.
Kenapa akar masalah selalu ditemukan saat seseorang masih kecil? Kecil di sini relatif. Terkadang ada yang akar masalahnya memang ditemukan saat masih usia balita. Ada juga yang akar masalahnya ditemukan saat masih duduk di sekolah dasar (SD), atau di sekolah menengah pertama (SMP). Ada pula yang ditemukan ketika sudah di bangku sekolah menengah atas (SMA) hingga kuliah. 

Tentunya, hal ini bergantung pada usia klien saat terapi. Kemudian bergantung pula pada akses memori pikiran bawah sadar yang dilakukan ketika proses hipnoterapi berlangsung.

Akar masalah umumnya ditemukan saat seseorang masih usia belia, dikarenakan tingkat pemahaman yang berbeda. Pemahaman dan pengetahuan seseorang tentu terus berkembang seiring dengan pertumbuhan seseorang dari aspek mental, emosi, wawasan, terutama fisik. Response seseorang ketika menghadapi masalah ketika masih kecil, tentu berbeda dengan ketika sudah dewasa. Tingkat pemahaman inilah yang kemudian mempengaruhi pikiran bawah sadar seseorang.

Sebagai contoh, ketika masih SD seseorang kena bully yakni sengaja didorong temannya. Tentu di usia saat itu, belum bisa berbuat banyak dan tidak berani melawan. Inilah yang kemudian menjadi ‘luka perasaan’ yang membekas di pikiran bawah sadar. Tapi coba ketika dewasa, mengalami hal yang sama. Tentu response yang diberikan tentu berbeda. Bisa melawan, atau memaafkan. Yang jelas, ada tindakan tegas atas kejadian yang sedang dihadapi.

Karena itu, jika memiliki anak, jangan sampai hal seperti ini terulang. Yang perlu diingat, pemahaman sebagai orang dewasa, sangat berbeda dengan anak-anak. Itu sebabnya, wajib memberikan penjelasan kepada anak, jika Anda marah kepada anak, bahkan ketika memberikan hukuman. Jika tidak, akan membekas dan menjadi trauma pada anak dan tertanam di pikiran bawah sadarnya.

Sebagai contoh, ada anak usia lima tahun mengusapkan air menggunakan kain pada televisi layar datar yang ada di rumah. Biasanya orang tua langsung memarahi anak. Kenapa? Karena takut TV tersebut rusak karena kena air. Anda sebagai orang dewasa, tentu tahu bahwa televisi layar datar tidak boleh terkena air. Tetapi, apakah ini dimengerti oleh anak usia 5 tahun.

Untuk itu, yang pertama kali dilakukan jika mengetahui anak melakukan ini adalah, ditanyakan dulu alasannya, kenapa mengusapkan kain basah di TV tersebut.

“Layarnya kotor Ma, makanya adik bersihin pakai ini,” sebut si bocah polos ini. Nah, kalau ini kemudian alasan si anak, pantaskah Anda memberikan hukuman? Bukankah niatnya mulia, ingin membersihkan layar televisi yang kotor. Tapi karena dia masih belia dan belum memahami soal barang elektronik, tentu tidak mengerti dampaknya. Karena itu, tugas Anda sebagai orang tua yang memberikan pemahaman padanya. Jelaskan bahwa untuk membersihkan layar datar tidak perlu menggunakan air. Ada cairan khusus yang tidak membahayakan, dan berikan contoh untuk melakukannya. Bukankah ini justru akan memberikan edukasi yang tepat pada anak.

Contoh lain, ketika anak dilarang bermain lilin. Tentu, anak-anak masih balita, belum tahu apa yang namanya panas. Sehingga, meski dimarahi pun, tidak akan mengerti apa sebabnya. Yang bisa dilakukan adalah, dampingi saat bermain lilin. Kemudian coba dekatkan tangannya perlahan-lahan ke arah api, hingga dia merasa panas. Berikan edukasi, bahwa panas ini membahayakan.

Selain itu, cari berita soal kebakaran disebabkan oleh lilin. Bacakan dan berikan edukasi, bahwa bermain lilin tanpa sepengetahuan orang dewasa, bisa berbahaya dan menyebabkan api yang lebih besar.

Poinnya adalah, berikan pemahaman dan edukasi pada anak. Sehingga kelak ketika dewasa, dia tidak memendam emosi atau perasaan di pikiran bawah sadar, yang ternyata bisa menjadi akar masalah di kemudian hari.

Satu hal yang pasti, pikiran tidak mengenal masa lalu atau masa depan. Yang ada adalah masa sekarang. Itulah yang menjadikan orang yang selalu terganggu dengan masa lalunya, ya akan terus terbawa sampai masa sekarang, sehingga masa depannya pun dianggap suram.


Bagaimana menurut Anda? (*)

Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...