Monday, March 28, 2016

Prestasi Anak Ranking Satu pun Bisa Merosot, Jika….



Tak jarang ketika bertemu orangtua, lantas mengeluhkan anaknya yang bermasalah. Semua keluhan itu biasanya aya simak dengan seksama. Sebab dari keluhan itulah akan diketahui bagaimana pola asuh yang diterapkan kepada buah hatinya.

Sejatinya tidak ada anak bermasalah. Yang ada umum adalah orangtua kurang tepat dalam menerapkan pola asuh, bahkan tak jarang pula memang orangtua bermasalah. Jika orangtua menyadari ini dan segera melakukan perubahan, umumnya masalah anak bisa berkurang drastis bahkan hilang.

Hal yang paling penting dilakukan adalah pastikan tangki kasih sayang anak selalu penuh. Ya tangki kasih sayang ini ibarat tandon air di rumah, harus selalu penuh. Coba bayangkan ketika tandon air di rumah kosong, kemudian suplai air PDAM mati, pasti pikiran kacau dan bawaannya uring-uringan karena aktivitas terganggu.

Air itu ibarat kasih sayang. PDAM ibaratnya kedua orang tua. Sudah menjadi kewajiban PDAM untuk selalu menyuplai air. Kalau tidak, jangan salahkan ketika anak mencari sumber kasih sayang yang lain. Entah dari teman, bahkan dalam bentuk ngisap lem atau narkoba.

"Kalau soal kasih sayang, sudah mas. Semua yang dia mau, saya berikan. Apa maunya, selalu diberikan kok," begitu biasanya penjelasan si orang tua. Kasih sayang selalu diidentikkan dengan pemberian materi. Padahal, kalau ditanya pada si anak, permintaan itu biasanya hanya sebagai alat agar bisa merebut perhatian dari kedua orang tuanya yang sibuk.

Ada pula orang tua yang mengeluh sulit mengendalikan kemauan anaknya, padahal, anaknya pandai, bahkan ranking satu di sekolah. Tapi tiba-tiba drop dan melorot prestasinya. Nah ini juga harus dicek lebih detail. Apakah anaknya ketika ranking satu memang karena hasil kerja kerasnya belajar atau karena ada sebab lain.

Di ruang terapi, saya pernah menjumpai kasus seperti ini. Ternyata, si anak meraih ranking satu karena ingin mendapat perhatian dari ayahnya. Jika ranking satu, maka ayahnya langsung memberikan perhatian, bahkan hadiah. Jika tidak, maka ayahnya lebih sering memperhatikan adiknya.
Nah, bisa dilihat kan? Apa motivasi anak dalam merebut prestasi?

Ada lima bahasa cinta agar tangki kasih sayang anak selalu penuh. Pertama dengan pujian. Sekecil apa pun pujian sangat dibutuhkan anak. "Nanti malah kebiasaan dipuji," begitu kadang reaksi orang tua. Saya biasanya balik bertanya. Bapak atau ibu senang ngga kalau dipuji? Kalau senang, ya begitu juga yang dirasakan anak-anak. Namun, pujian yang baik adalah bukan memuji hasilnya secara akademis, tapi pujilah upayanya. Dari hasil penelitian terbukti, pujian dari sisi upaya membuat otak semakin berkembang ketimbang pujian secara akademis.

Bahasa kedua adalah diberi hadiah. Hadiah di sini tentu tidak harus mahal. Permen atau sebungkus cokelat hingga mainan kesenangan anak, bisa jadi cara untuk mengisi tangki cintanya.

Cara ketiga adalah dengan sentuhan. Usapan lembut di kepala, pelukan, digendong atau pun ciuman, juga diperlukan. Namun sentuhan ini harus dilakukan dengan tulus dan penuh perasaan. Sebab terkadang, tak sedikit orang tua yang melakukan sentuhan tapi hanya sekadar menyentuh, tanpa ada perasaan welas asih. Sentuhan lembut penuh perasaan akan semakin memperkuat ikatan batin anak dan orang tuanya.

Cara keempat adalah melayani. Tentu melayani yang dimaksud bukan seperti pembantu rumah tangga. Melainkan ikut terlibat memenuhi kebutuhan anak. Misalnya membantu memakaikan kaus kaki, atau membantu menyiapkan makanan sang buah hati.

Kelima adalah waktu yang berkualitas. Sudahkah orang tua menyisihkan waktu benar benar untuk anak? Yang sering terjadi adalah, fisik memang dekat dengan anak, tapi perasaan tidak. Kenapa? Karena orang tua lebih sibuk dengan gadgetnya ketimbang memanfaatkan momen berkualitas itu benar benar untuk anak.

Coba perhatikan tak sedikit keluarga yang sedang makan bersama di pusat perbelanjaan, tapi masing-masing sibuk dengan smartphone-nya. Padahal momen kebersamaan seperti itu sangat penting membangun kedekatan emosional sekaligus waktu yang pas mengisi tangki kasih sayang si anak.

Ada lagi tambahan, saat melakukan lima bahasa cinta itu, akan lebih dahsyat hasilnya jika disertai dengan tatapan mata yang lembut dan tulus.

"Mas, semua yang sampean sampaikan itu, semua sudah saya lakukan. Kasih sayang sudah saya berikan berlimpah. Tetap saja anaknya suka ngambek, atau cerewet dan banyak lagi masalah lain. Terus harus bagaimana kalau begini?”

Nah kalau sudah memang yakin tangki kasih sayang sudah penuh, jangan-jangan tangkinya tersumbat. Kok bisa tersumbat? Ya bisa dong, tandon air di rumah saja bisa buntu kalau terlalu banyak lumut yang menyumbat pipa.

Lumut ini bisa dalam bentuk perasaan tidak nyaman atau kejadian di masa lalu yang belum selesai. Untuk membuka sumbatan ini, cara yang efektif salah satunya adalah dengan meminta maaf pada anak.

Harus diakui, umumnya orang tua jarang meminta maaf pada anaknya sendiri. Atau kemungkinan kedua, tangki kasih sayang bocor. Sehingga begitu diisi langsung cepat habis? Ya yang membuat tangki kasih sayang bocor adalah bully, baik verbal maupun fisik. Terkadang anak memang tidak mau mengaku dan terus terang kalau dia di-bully, sehingga perlu bantuan orang lain untuk mengetahui, baik lewat guru Bimbingan Konseling, psikolog, atau hipnoterapis.(*)


Artikel Pilihan

MENGERIKAN, LGBT Sudah Menyerang Pelajar

Entah harus mulai dari mana. Yang jelas, ketika menuliskan ini, saya masih merasa syok dan tidak percaya. Begitu parahnya kah kehidup...