BREAKING NEWS

Wednesday, March 2, 2016

Selama Tiga Tahun Mahasiswi Ini Tak Berani Presentasi, Ternyata Gara-gara


Awal pekan lalu, salah satu mahasiswi perguruan tinggi di Samarinda menghubungi melalui LINE. Dia meminta jadwal untuk menjalani terapi. Sesuai kesepakatan, mahasiswi ini kemudian datang beberapa hari kemudian bersama seorang temannya.

Dari formulir yang sudah saya kirimkan sebelumnya lewat email untuk diisi, tertulis bahwa mahasiswi ini mengalami masalah tidak percaya diri. Sebut saja namanya Alya, tentu bukan nama sebenarnya. Selama tiga tahun terakhir, Alya merasakan krisis kepercayaan diri yang semakin parah. Akibatnya, selama di kampus dia selalu punya masalah jika harus menjalani tugas presentasi.

“Begitu di depan orang banyak, saya tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Gugup dan lupa dengan apa yang mau disampaikan,” sebut Alya. Sementara, saat ini kuliahnya sudah memasuki semester akhir. Otomatis, akan lebih sering melakukan presentasi di depan teman dan dosennya.

“Saya khawatir, ini terbawa sampai ke dunia kerja,” ujarnya kemudian.

Setiap kali melakukan presentasi, yang muncul adalah perasaan cemas, takut, malu, bingung, merasa tidak mampu. Pokoknya semua perasaan campur aduk.

Dari formulir yang diisi pun tertulis bahwa Alya kerap mengalami sakit pundak kaku dan kaki dingin. Pundak kaku, jelas mengindikasikan ada beban berat yang mengganggu dirinya. Sementara kaki dingin menunjukkan ada rasa cemas yang selalu dirasakan wanita berhijab ini.

Sebelum menjalani sesi hipnoterapi, seperti biasa saya memberikan penjelasan mengenai protokol hipnoterapi sesuai standar lembaga Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, tempat saya bernaung sebagai hipnoterapis.  Alya pun memahami dan mengerti dengan apa yang dijelaskan, termasuk alur dan proses yang akan ia jalani.

Di ruang terapi, tak sulit membimbing Alya masuk ke kondisi relaksasi pikiran yang dalam dan menyenangkan. Setelah wanita ini masuk ke kondisi kedalaman pikiran yang efektif, proses hipnoanalisis pun dilakukan. Akar masalah yang menjadi penyebab rasa tidak percaya dirinya pun berhasil ditemukan. Ada beberapa rangkaian kejadian yang membuat Alya kemudian tidak percaya diri.

Kejadian yang menjadi pemicu antara lain, ketika usia 8 tahun, dia mendengar ayah dan pamannya berkelahi. Entah apa yang menjadi penyebab ayahnya bertengkar. Yang jelas, Alya yang masih berusia 8 tahun itu merasa ketakutan.

Pemicu rasa takut lainnya adalah ketika Alya usia 7 tahun, pulang sekolah seorang diri. Ketika itu Alya melihat ada sekumpulan orang dewasa naik truk. Alya pun merasa sangat ketakutan.

Namun, yang menjadi pemicu awal rasa takut muncul adalah, ketika usia 7 tahun, di rumahnya banyak tamu. Kemudian beberapa tamu itu mencoba memanggil Alya. Hal itulah yang ternyata menjadi pemicu awal rasa takut ini muncul.

Dengan teknik tertentu, Alya dibimbing melakukan restrukturisasi atas kejadian yang menjadi pemicu tersebut. Hasilnya, Alya merasa plong dan lega. Alya merasa sangat nyaman dan lebih percaya diri.

Sehari kemudian, setelah proses terapi, Alya menghubungi saya kembali melalui LINE. “Alhamdulillah pak, presentasi saya hari ini lancar. Sudah ngga takut dan ngga terlalu grogi. Ada perubahan. Terima kasih pak atas bantuannya.”

Selamat ya Alya, semoga presentasi berikutnya juga lancar, dan bisa lulus dengan cepat dan hasil yang memuaskan. (*)


Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes