BREAKING NEWS

Friday, April 29, 2016

Cara Bersyukur yang Baik adalah....


Dalam setiap kesempatan, tak sedikit para pemuka agama, ulama, pembicara, motivator dan termasuk para guru, menyarankan agar setiap individu hendaknya selalu bersyukur. Bersyukur atas berkah yang sudah diberikan Allah, Sang Maha Pencipta, adalah satu dari sekian banyak amalan yang perlu dilakukan setiap saat.

Jauh sebelum saya mengenal prinsip sukses melalui workshop Quantum Life Transformation (QLT), Desember 2014 silam, di dalam Alquran pun sudah disebutkan, sebaik-baiknya umat manusia adalah mereka yang pandai bersyukur. Bahkan disebutkan pula, barangsiapa yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Lantas, bagaimana cara bersyukur yang tepat?


Setiap individu memiliki cara tersendiri dalam mensyukuri nikmat yang sudah diberikan Sang Maha Bijaksana. Namun, chairman Kaltim Post Group sekaligus guru jurnalistik saya, Zainal Muttaqin, pernah memberikan wejangan kepada saya terkait cara bersyukur ini. Beliau menyampaikan, “cara bersyukur yang baik adalah, bekerja lagi dengan lebih baik. Itulah kenapa nikmat yang diberikan bisa semakin ditambah. Karena dengan bekerja lebih baik, tentu yang dihasilkan juga akan semakin baik.”

Kenapa demikian? Beliau menyampaikan, kalau bersyukur melalui lisan, anak kecil juga bisa. “Kalau sekadar bilang ‘alhamdulillah’, semua orang juga bisa,” ujarnya. Kalimat itu sampai sekarang masih saya rekam dan tersimpan dengan rapi di tempat terhormat di pikiran bawah sadar.

Hingga kemudian ketika mengikuti workshop QLT yang dibimbing pakar teknologi pikiran Adi W. Gunawan, persoalan syukur ini kembali mencuat. Dalam prinsip sukses yang beber melalui pelatihan tersebut, syukur menempati posisi ketiga setelah impian dan yakin. Artinya, mereka yang ingin meraih sukses, tidak ada pilihan lain, harus bersyukur. Nah, cara bersyukur yang baik adalah, bekerja lagi lebih giat dan lebih rajin. Dua prinsip sukses lainnya adalah pasrah, dan doa. Ternyata, doa yang terbaik adalah kembali ke prinsip ketiga yakni syukur.

Setiap kali berdoa, umumnya umat fokus pada apa yang diminta. Memang benar, Allah yang Maha Kuasa, menyampaikan bahwa siapa yang meminta akan diberi. Namun bukankah Allah juga menyebutkan seperti di atas tadi, bahwa siapa yang bersyukur, nikmatnya akan ditambah. Mau pilih mana, sekadar diberi atau ditambah?

Jika doa hanya fokus pada yang diminta, umumnya justru akan timbul buruk sangka kepada Allah. Menganggap Sang Maha Pencipta tidak sayang dan tidak cinta pada umatnya, hanya karena apa yang diminta tak kunjung dikabulkan. Akibatnya, umat menjadi kufur nikmat, dan mengabaikan apa saja yang sudah diberikan oleh Sang Pemberi Hidup. Bukankah setiap helaan nafas yang bisa dihirup saat ini juga merupakan rezeki dan pemberian Yang Maha Kuasa?

Sebagai gambaran, seandainya ada orang tua yang memiliki dua anak. Satu suka meminta dan satu lagi tidak pernah meminta apa-apa. Umumnya orang tua justru sayang kepada anaknya yang tidak pernah meminta dan merepotkan orang tuanya. Anak yang suka meminta umumnya suka menuntut ini dan itu, dan akhirnya sering juga membuat orang tua mengomel. Berbeda dengan anak yang tidak banyak menuntut dan bersyukur dengan apa yang ada, umumnya orang tua diam-diam justru memberikan lebih banyak.

Dari sisi teknologi pikiran, bersyukur ini berhubungan dengan perasaan nyaman dan bahagia. Jika seseorang selalu bahagia atau selalu bersyukur, maka otak akan menyemburkan hormon endorphin, hormon yang sangat penting untuk memperbaiki sel-sel tubuh rusak sehingga terbentuk sel baru yang lebih sehat. Itulah kenapa, mereka yang selalu bersyukur dan selalu bahagia, tubuhnya selalu sehat dan tampak awet muda. Inner beauty alias aura wajahnya terpancar lebih cerah dan bercahaya. Ini terjadi karena hormon kebahagiaan selalu disemburkan oleh otak ke seluruh tubuh.

Sebaliknya, mereka yang selalu menuntut dan meminta, bahkan berburuk sangka kepada Allah, tentu yang disemburkan adalah hormon stress. Hormon ini justru akan lebih cepat merusak sel-sel tubuh, sehingga fungsi tubuh akan terus menurun hingga akhirnya mudah sakit dan membuat seseorang kurang bersemangat dan malas melakukan sesuatu.

Apa yang dipikirkan akan selalu diresponse pada tubuh. Maka mari selalu berprasangka baik kepada Allah, kepada Sang Maha Kuasa, agar hidup selalu terasa nyaman dan bahagia. Semua manusia sudah ditakdirkan untuk sukses, namun dikondisikan untuk gagal. Nah, kondisi gagal inilah yang dimaksudkan agar setiap individu bisa belajar bagaimana mengatasinya. Sebab sejatinya, tidak ada yang namanya gagal, yang ada hanyalah hasil dan pembelajaran.


Bagaimana menurut Anda?  (*)

Share this:

 
Copyright © 2014 Endro S. Efendi, CHt, CT, CPS.. Designed by OddThemes